25 - Bolu Pisang

107 6 1
                                        

Chapter - 25

The cut that always bleeds

The cut that always bleeds.....

But even though you're killing me

I, I need you like the air I breathe

I need, I need you more than me

I need you more than anything

Please... please...

Suara nyanyian terhenti. Lavina memandangku dengan sebelah alis terangkat. Lantas kembali memetik gitarnya dengan irama halus. Dia kembali melanjutkan nyanyiannya dengan tenang.

Cause I could be

Your lover on a leash

Every other week

When you please

Oh, I could be...

"Bener kata Bunda, ternyata lo girl multitalenta." Ujarku kemudian disela-sela nyanyian Lavinya yang terdengar menyayat hati. Tetapi dia tetap tidak menghiraukanku, dia tetap melanjutkan nyanyiannya.

Anything you need

As long as you don't leave

The cut that always...

"Suara aku bagus nggak?"

Aku sontak mengernyitkan dahi memandangnya. "Yah.. mayan."

"Tuh, kan. Nggak salah aku percaya diri." Sahutnya asal, sontak membuatku mengernjitkan dahi lagi. Bocah itu kembali memetik gitar dan bernyanyi lagi. Mengulang lagu yang sama, seolah sedang memamerkan bakatnya kepadaku.

Tapi tiba-tiba ia berhenti lagi.

"Kakak kan, jago nulis. Kalau lagi sedih, tuangin aja ke tulisan kakak. Buat puisi "Tentang Atlas" lagi."

Aku sontak berdeham kencang mendengar jawaban Lavina. "Apaan? Siapa juga yang lagi sedih.."kataku datar kemudian bangkit dan keluar dari kamar berantakan bocah tengil itu.

Sial! Bocah itu kok bisa tau tentang tulisanku?

Aku buru-buru berlari ke kamarku untuk memeriksa akun menulisku di platform orange itu. Seharusnya tidak ada siapapun yang tau tentang ini.

Dan...

Snowgirl_
"Semangat mengejar cintamu ya, Rapunzele😉"

Pantas saja dia menyebut-nyebut Atlas itu crush-ku. Astaga!

Aku memijat keningku sembari menggeser-geser layar laptop untuk mengecek semua vote dan komentar yang ada disana dan tidak menemukan apa-apa.

Semua orang yang ku kenal mungkin memakai nama samaran, jadi nggak akan mungkin aku bisa tahu. Padahal sebenarnya nggak se banyak itu, sih, yang membacanya.

Tapi.. akunku kan, juga tertulis dengan nama samaran.

Aaaa!!

Tanpa sadar aku mengantuk-antukkan kepalaku ke meja belajar. Semua hal membuatku merasa malu.

"Lunaaa..." samar-samar ku dengar suara Bunda memanggilku. Lantas suaranya kini berubah menjadi omelan. Aku menghela nafas sembari memandang lemah ke arah pintu kamarku yang tertutup, lantas berjalan lemah ke luar.

"Bunda ampun deh, ya, Lav, lihat kamu. Baru beberapa jam kamu pulang sekolah kamar kamu udah jadi kayak kandang kunyuk aja," Ocehan Bunda tampak stress. Wajar, sih, kalau stress semua orang kalau berhadapan dengan bocah gen-alpha pasti stress, apa lagi dengan bocah bernama Lavina ini.

Silent LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang