19 - Di Ramal Kak Bian

63 12 0
                                        

Chapter - 19

"Makan apa ya enak nya? Bosen banget makan salad, tapi makan yang lain takut gendut. Gimana dong?" Amel mengeluh sambil menepuk perutnya beberapa kali.

Aku melipat bibirku kedalam sambil menaikkan bahu sebagai tanggapan, tak ingin berkomentar karena orang berbadan kurus macem orang cacingan sepertiku, sepertinya tak pantas untuk memberikan saran.

"Kenapa, sih? Lo dan Irma. Makannya banyak tapi badan kalian tetep ideal. Lah gue? Kayaknya nelen air liur aja udah langsung nambah kiloannya." Amel mengeluh lagi. "Mana ini perut nggak kempes-kempes lagi. Aduhhhh!"

Melihat Amel yang terus menerus mengeluh aku hanya bisa membalas dengan geleng-geleng kepala dan kata-kata keramat template seperti, "Tapi kan muka lo cantik dan imut banget Mel, kalau badan lo juga kurus. Lo bakalan sempurna banget dong."

"Iya, bener juga sih.." Amel manggut-manggut lantas mata besarnya membulat sempurna, "Eh.. itu Hansel kan?"

Sontak arah pandang mataku mengikuti arah telunjuk Amel. Cewek itu tampak terkejut, tapi aku tidak.

"Wow, Hansel membuktikan dong kalau dirinya itu nggak gay." Celetuk Amel enteng.

"Ya.. gila aja ada yg percaya kalau dia gay," balasku santai.

"Ya gimana.. gue sendiri sering denger dia ngaku ke cewek-cewek yang suka deketin dia kalau dia itu gay."

"Masak iya sih?"

"Iya Luna. Tapi dia bohong, sih. Sengaja ngomong gitu supaya nggak di deketin."

Aku menelisik Hansel dan seorang perempuan yang sedang bersamanya. "Kok kayak kenal ya sama si cewek nya?"

"Kalau nggak salah temennya Seleb tiktok itu lho, anak cheerleaders. Siapa ya namanya?.." Amel tampak berpikir keras.

"Siapa?" Aku pun jadi ikut ikutan berpikir.

"Au ah, lupa gue. Ica kayaknya." Balas Amel sambil ngakak.

"Dikit-dikit Ica dikit-dikit Ica. Kasian banget yang punya nama Ica."

Setibanya kami di ambang pintu kantin, mataku langsung bertubrukan pandang dengan tatapan Atlas. Cowok itu sekarang sedang mengunyah pudding hasil dari suapan Megan yang duduk di sebelahnya. Ada banyak cewek-cewek yang mengerubungi cowok-cowok circle Atlas.

Atlas menyapaku dengan cara menaikkan Alisnya sambil tersenyum kecil, dan ku balas dengan hal serupa.

Suasana kantin cukup ramai dan padat. Hingga kami nyaris tidak menemukan meja dan kursi untuk duduk. Seperti biasa kami mengambil jalan pintas, bagi tugas, satu orang cari tempat duduk, yang lain cari makanan yang mau di beli. Berhubung hari ini Irma tidak masuk kelas karena ada acara keluarga jadi hanya Amel sendiri yang mengantre.

Dan aku mulai kelimpungan mencari tempat duduk.

"Hei, Lun.. cari kursi kosong ya?"

Aku menoleh. Ada tiga kursi yang kosong, dan tiga kursi yang lain terisi oleh tiga orang cewek yang ku kenal.

"Duduk sini aja bareng kita."

Intan, cewek berkacamata itu menawariku, ada Inggrid dan Tasya juga.

"Thanks, Ntan." Aku tersenyum singkat untuk kemudian duduk tepat di sebelah inggrid.

"Amel sama Irma lagi antre, ya?" Tanya Inggrid singkat.

Aku mengangguk, "Amel, sih. Irma lagi ada acara keluarga, jadi nggak masuk sekolah."

Kali ini giliran Inggrid yang manggut-manggut.

"Heran banget liat sepupu lo, segitunya banget suka sama Atlas sampe udah di sinisin masih aja tetep nyodor-nyodorin makanan."

Silent LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang