22 - Teman Curhat

65 11 2
                                        

Chapter 22

Tidak lama setelah itu aku terdiam, mulutku terkatup rapat, dan pandanganku terfokus ke satu titik yang tak kuhindari. Bisa jadi aku syok. Tetapi anehnya aku merasa sedikit tenang. Tidak se takut tadi.

Bianglala tidak se seram itu jika dilihat dari sudut pandang berbeda. Bahkan kami sudah berhasil melewati dua putaran dengan tenang. Angin malam berhembus sejuk, namun aku merasa nyaman.

Tanganku tidak lagi di genggam Atlas. Pemuda itu menyibukkan dirinya dengan mengambil beberapa gambar menggunakan ponsel.

Kali ini putaran yang ke-empat. Bianglala kembali berhenti berputar, sepertinya pergantian penumpang karena terlihat ada beberapa orang di bawah sana yang sedang menunggu giliran. Tak lama setelah itu roda besar ini kembali berputar perlahan.

"Lo pernah suka sama orang?"

Pertanyaan Atlas barusan membuyarkan lamunanku yang terasa kosong. Aku mengangguk sebagai jawaban. Tanpa memikirkan apa-apa.

"Terus apa yang lo lakukan?" Atlas bertanya lagi.

Kali ini aku menggeleng pelan sebelum menjawab, "Nggak ada... gue nggak lakukan apapun."

"Kenapa?" Atlas bergumam pelan, menyimpan ponselnya di saku celana. "Apa karena orang yang lo suka punya perasaan yang sama?"

Aku menggeleng lagi sebagai jawaban, dan diam. Aku tau jantungku sejak tadi berdegub lebih cepat dari biasanya tetapi kali ini semakin bertambah cepat. Aku tak mengerti apa yang ku pikirkan hingga sesuatu yang tentu pernah kubayangkan melintas dipikiranku.

Atlas menyukai seseorang.

Itu sangat jelas, dan sangat lumrah dilakukan oleh seorang remaja. Yang harus ku lakukan adalah mengontrol emosiku agar tetap tenang.

"Kenapa? Lo lagi suka sama cewek, ya?" Aku bertanya dengan ekspresi humble andalanku. Aku sangat percaya diri mengenai ini. Mungkin suatu saat aku akan coba casting menjadi aktris sinetron untuk membuktikannya.

"Iya."

Aku diam. Sama sekali tidak terkejut.

"Tapi kayaknya akhir-akhir ini dia menghindari gue."

Aku sengaja tidak menjawab lagi. Sembari fokus melihat ke bawah yang perlahan terasa semakin dekat hingga berhenti perlahan. Pintu rumah sangkar ini dibuka, dan Atlas turun lebih dulu, kemudian membantuku.

Kami berjalan pelan keluar dari pagar pembatas. Ekspresi Atlas tak bisa ku definisikan, karena dia tampak santai seperti biasanya.

Kalau aku diam, apakah Atlas akan berpikir suatu hal? Jadi setelah pertimbanganku yang cukup lama aku memutuskan untuk menanyakan hal yang terlintas di kepalaku. Tentunya dengan ekspresi yang sudah kupikiran secara matang.

"Apa gue..." kenal orangnya?

"Kita langsung ke toko kue aja yuk."

Aku dan Atlas mengucapkan kalimat kami itu secara bersamaan. Bedanya dia berhasil menyelesaikannya, sedangkan aku tidak.

"Gimana?" Tanya Atlas.

Aku sontak menggeleng. "Enggak. Gue mau ke toilet.. tadi mau bilang gitu. Tapi Nggak-papa juga kalau mau langsung ke toko kue. Gue nanti sekalian numpang di toilet sana aja."

"Oh.. Nggak-papa kalau lo mau sekarang."

"Nggak-papa. Disana aja." Balasku. Kali ini kusimpulkan kalau kami berdua sama-sama merasa canggung.

Bahkan sampai ke toko kue. Kami hanya sesekali bicara tentang acara pensi sekolah yang akan datang, beberapa PR, dan hal hal tidak penting lainnya. Aku tau ini hanya sekedar alibinya untuk mengembalikan situasi canggung menjadi normal seperti sedia kala.

Silent LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang