Chapter - 20
-
"Liat nih, Dimas kirim foto nya," Lavina menyodorkan ponselnya kepadaku, memberiku celah untuk melihat dengan leluasa.
Sepertinya foto itu di ambil secara asal tanpa sepengetahuan Atlas. Tapi namanya juga orang ganteng, ya.. mau di foto dari sisi mana pun dengan cara bagaimanapun tetap saja kelihatan bagus.
"Pacar Kak Bian juga di undang." Ujar Lavina kemudian.
"Oh, ya?" Tanya ku, tidak begitu tertarik karena sudah lebih tertarik dengan berita utamanya. "Oh, jangan bilang lo ngarep di undang juga karena merasa jadi ceweknya Dimas?" Aku tak kuasa menahan celetukanku yang spontan membuat air muka Lavina berubah. Sepertinya kata-kata ini benar-benar menyakitinya.
"Enggak. Kalaupun Dimas boleh undang cewek, itu pasti bukan aku."
Aku ter-enyuh sesaat melihat respon dari adik semata wayangku ini. Melihatnya merespon dengan kalimat seperti itu entah mengapa membuatku turut merasa sakit hati dan.. sedih?
"Lo nggak lagi berantem sama Dimas, kan?" Tanyaku hati-hati. Menelisik gerak-gerik Lavina yang kelihatan banget pura-pura tegar. Padahal anak ini masih SMP kenapa harus berlagak seolah jadi orang dewasa seperti ini.
"Kalau berantem nggak mungkin, kan, kita masih chat-an?"
"Oke..." balasku mengerti. "Tapi kenapa tiba-tiba pesimis gitu? Bukannya lo biasanya percaya diri banget bakal jadi ceweknya Dimas."
"Sekarang enggak, tuh. Soalnya Dimas suka nya sama teman sekelasku."
Aku tak sanggup berkata-kata lagi. Lantas pura-pura sibuk mengancingkan piyama tidurku. Entah kenapa rasa sesak nya dapet banget.
Aku mengerti perasaanmu kids.
"Kalau kakak berada di posisi aku gimana? Apa yang bakal kakak lakukan?" Lavina tiba-tiba bertanya, tampak serius dan itu benar-benar menghilangkan citra tengilnya yang biasa ia tampilkan kepadaku.
Aku terdiam cukup lama, sembari memilah jawaban apa yang sesuai untuk kukatakan di depan bocil yang masih SMP ini. "Mungkin gue bakal melakukan hal yang sama kayak yang lo lakuin..." balasku skeptis.
"Kakak bakalan diem aja kayak aku?" Tanya Lavina lagi.
"Emang lo nggak mau coba ngutarain perasaan lo ke Dimas?"
"Bodoh banget dia kalau nggak tau perasaan aku. Aku tau kalau dia itu sebenarnya tau perasaanku, cuma dia pura-pura nggak tau."
"Okee..." balasku mencoba lebih mengerti lagi. By the way kata-katanya Lavina barusan mirip lirik lagu ya.
"Jadi udah nyerah, nih?" Kataku sembari duduk di sebelah Lavina. Jarang sekali melihat adikku bertingkah seperti ini, jadi aku sedikit kebingungan.
Lavina melirikku sesaat sebelum bangkit dari tempat, lantas menghela nafas sebelum menjawabku, "Entah ya, mungkin aku bakalan diem aja. Mungkin juga, dia emang nggak tau kalau aku suka sama dia. Lagi pula aku nggak akan bisa bersaing sama cewek yang dia suka kak."
"Kenapa?"
"Ya karena dari awal cewek itu udah dapet hatinya Dimas tanpa perlu berbuat apa-apa. Sedangkan aku..." Lavina menghela nafas lagi, mencoba lebih tegar. "Udah deh.. males banget. Aku turun dulu, jangan lupa sholat magrib."
Aku merenungi kata-kata yang sempat keluar dari mulut adik kecilku itu. Bahkan seorang adik yang selama ini ku anggap bocah yang tak tahu apa apa itu..
Dia dewasa sebelum waktunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Silent Love
Dla nastolatkówDiam kan bukan berarti aku nggak se-suka itu sama Atlas. Aku mencintainya bertahun-tahun, dalam diam. Nggak banyak yang tau tentang itu karena pada awalnya pun, aku nggak pernah membayangkan kalau cintaku akan terbalaskan. Tapi kenapa semakin kesini...
