Chapter 18
-
Hm.. menyakitkan ya?
Menyakitkan mana sama nggak dikenalin padahal dulu nya pernah salaman, kenalan, bahkan sampai bertukar kaos kaki?
Senyum tapi nggak direspon, terus giliran udah satu kelas, tapi harus kenalan lagi untuk kedua kalinya.
Bahkan pernah di bilang bukan tipe nya karena terlalu rata!
Fix! Apakah aku harus ganti crush saja?
Kalau di ingat-ingat menyakitkan banget, ya? Lebih menyakitkan daripada aku mengatainya gila falidasi.
Aku memandang papan tulis di depan sambil mengamati Intan si Sekretaris kelas yang sedang menulis di papan tulis untuk kami salin di buku masing-masing.
Atlas sedang izin ke toilet sejak bermenit-menit lalu.
Bu Winda pun sepertinya tidak sadar jika salah satu siswa nya sedang tidak ada.
Saat memandang tulisan Intan di depan, aku langsung teringat dengan kertas yang tertempel di cokelat misterius.
I have crush on you♡
Dan langsung ku bandingkan dengan tulisan yang ada di papan tulis.
Aku mengernyit heran. Nggak mirip, tapi kenapa Atlas bisa mencurigai Intan?
Aku memiringkan kepalaku memandang Intan yang sedang menulis di papan tulis. Agak kurang yakin, sih. Meski Intan berkacamata dan cukup suka dengan buku, tapi dia terlihat nggak mungkin melakukan ini. Menurutku Intan cukup Extrovert dan cantik. Cowok-cowok cukup banyak yang tertarik sama dia. Apalagi dia salah satu anggota OSIS dan menurutku, dia juga terkenal akan kepintaran dan keaktifannya di bidang ekstrakulikuler. Tapi..
Apa mungkin tulisan bisa terlihat berbeda jika di tulis di dalam media berbeda? Bisa jadi kalau dibandingkan dengan tulisan Intan yang di buku tulis bakalan mirip.
Dalam sekejap, pandanganku langsung teralih ke meja barisan sebelahku, dan pandanganku langsung bertemu dengan Ahmad yang sedang makan cemilan diam-diam.
Cowok itu nyengir kuda sambil menawariku jajanan chiki keju yang ada di pangkuannya. Aku hanya membalas dengan geleng-geleng seadanya. Sekarang ini kalau aku tiba-tiba teriak "ada kambing" pasti Ahmad langsung kalang kabut. Lucu juga. Tapi karena aku anaknya baik hati dan tidak cepu, jadi aku membiarkan saja cowok yang sudah kumisan itu melakukan aksi makannya.
"Bu Windaa, ada kambing.."
Sumpah, bukan aku yang teriak!
"Eh, nggak ada ya. Gilak lo, gue lagi nyatet ini!" Ahmad langsung menyahut, seperti dugaanku, cowok itu kalang kabut dan dengan sigap langsung memasang badan seperti sedang menulis.
Seluruh penjuru kelas langsung menoleh ke arah Ahmad, karena suaranya lah, yang tadinya memecah kesunyian.
Bu Winda yang tadi berfokus ke laptop langsung berdiri, "Kenapa Atlas!"
"Nggak ada, buk. Tadi di luar ada kambing."
"Oohhh, iya itu emang kambing Domba punya sekolah. Baru dateng. Buat SMK jurusan peternakan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Silent Love
Dla nastolatkówDiam kan bukan berarti aku nggak se-suka itu sama Atlas. Aku mencintainya bertahun-tahun, dalam diam. Nggak banyak yang tau tentang itu karena pada awalnya pun, aku nggak pernah membayangkan kalau cintaku akan terbalaskan. Tapi kenapa semakin kesini...
