4. Another Side of Her

46 4 0
                                    

Di sisa waktu hari minggunya, Seulgi mengajak Jaebum untuk mengikuti kegiatannya. Pasti tamunya ini merasa bosan jika terus-terusan mengurung diri di dalam rumah Seulgi. Demi menjaga identitas Jaebum selama berada di luar, Seulgi meminjamkan topi dan masker untuk dikenakan Jaebum. Mereka menaiki bus menuju tempat pertama yang akan mereka datangi. Sudah lama sekali sejak terakhir Jaebum menaiki transportasi umum, mungkin sudah lima tahun yang lalu. Jaebum selalu menggunakan mobilnya atau paling tidak dia akan menggunakan taksi jika dia memang sedang memerlukan transportasi umum. Jaebum duduk di dekat jendela bersebelahan dengan Seulgi.

"Jadi setiap hari minggu, tokomu tutup?"

"Iya." Jawab Seulgi singkat. Seulgi menggenggam dengan kuat tali paper pag yang membawa hadiah yang telah dia siapkan untuk Sara, adik asuhnya yang hari ini berulang tahun. Selain membawa hadiah, tak lupa Seulgi juga membawa banyak permen dan camilan untuk anak-anak yang lain.

"Kenapa hari minggu libur? Bukannya minggu malah lebih banyak pelanggan yang akan datang ke toko?" Jaebum penasaran kenapa Seulgi melakukan sesuatu yang bertentangan dari perspektif bisnisnya.

"Aku hanya punya tiga karyawan. Dua orang bertanggung jawab di dapur dan satu orang sebagai kasir. Hari minggu adalah waktu istirahat mereka. Bahkan setiap hari jumat aku juga menutup toko lebih cepat. Toko kue ini bukan sumber pendapatan utamaku ataupun Wonwoo. Kami murni hanya ingin meneruskan peninggalan ayah dan ibu kami." Jelas Seulgi sambil memperhatikan sepasang muda mudi yang naik ke atas bis.

"Oh, kalau begitu setiap harinya kau juga tidak menjual banyak?"

Seulgi mengangguk, "Iya, toko kami punya jadwal tertentu. Misal setiap senin kami hanya akan menjual ini dan ini dan di hari sabtu ini dan ini. Para pelanggan sudah hapal dengan jadwal itu."

Sistem bisnis yang Seulgi jalani terasa baru bagi Jaebum. Tapi itu keputusan Seulgi dan Wonwoo, Jaebum tak memiliki hak untuk memprotes sistem itu. Menurut Jaebum, Seulgi bisa saja mengembangkan bisnis orang tuanya lebih besar lagi sehingga penghasilan Seulgi dan Wonwoo bisa lebih banyak. Kemudian penghasilan itu dapat digunakan Seulgi untuk membeli sofa baru yang lebih empuk.

Bus berhenti di halte tujuan Seulgi dan Jaebum. Mereka turun dan berjalan kaki sekitar dua ratus meter melalui jalanan yang lebih kecil. Bangunan panti asuhan itu berwarna putih dengan pagar hitam. Sesampainya di dalam panti asuhan, Seulgi langsung dikerubungi oleh anak-anak yang sudah menunggunya. Jaebum yang berada di samping Seulgi merasa kawalahan.

"Seulgi Unni, kukira Unni tidak akan datang. Aku kan sedih jika Unni tidak datang di hari ulang tahunku." Sara, gadis berusia delapan tahun yang mengenakan baju motif bintang, memeluk Seulgi erat.

Seulgi membalas pelukan Sara, "Maafkan unni ya, Sara. Tadi unni ada urusan dulu. Coba lihat apa yang unni bawa untukmu." Seulgi menyerahkan paper bag warna merah muda itu kepada Sara. Seulgi harap Sara menyukai hadiah yang telah Seulgi siapkan sejak tiga minggu yang lalu itu. Kata pengurus panti, akhir-akhir ini Sara suka sekali berpura-pura menjadi princess Elsa, karakter kartun yang sedang tren di kalangan anak-anak.

Sara langsung membuka paper bag itu dan mengambil barang yang ada di dalamnya.

"Uwah! Terima kasih banyak Unni! Aku sayang Unni!" Sara memeluk Seulgi lagi dengan cepat dan dengan girang segera memakai tas sekolah biru bergambar princess Elsa. Teman-temannya yang lain ikut kegirangan melihat Sara yang sumringah.

"Wah, tasnya cantik sekali Sara. Cocok denganmu!" Kata anak perempuan yang terlihat lebih tua dari Sara.

Pemandangan di hadapan Jaebum ini terasa asing. Ada segerombolan anak-anak yang ikut senang melihat temannya mendapat hadiah. Padahal mereka sendiri tidak mendapat hadiah. Tidak ada satu orang pun yang terlihat iri kepada Sara. Anak-anak yang baik, pikir Jaebum.

A Miraculous Thing, YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang