Mata Seulgi dengan tekun menatap barisan tulisan dalam buku novel yang sedang dibacanya. Seulgi berniat menyelesaikan buku itu sebelum siang nanti ia dan Jaebum mengunjungi anak-anak di panti asuhan.
Jaebum datang dan melihat Seulgi yang duduk di atas sofa. Setelah tadi malam mereka menyatakan perasaan mereka masing-masing, hati Jaebum masih terasa berbunga-bunga. Sekarang Seulgi sudah resmi menjadi istrinya dan Jaebum pun akan bersikap selayaknya seorang suami. Salah satu sikap suami adalah berusaha mendapat perhatian istrinya dan itulah yang sedang Jaebum coba lakukan kepada Seulgi yang sejak tadi malam malah menjadi canggung dengannya.
Jaebum ikut duduk di samping Seulgi dan merebahkan kepalanya di atas pangkuan Seulgi. Seulgi tentu kaget dengan perlakuan Jaebum yang tiba-tiba.
"Kalau mau tidur, tidur di kamarmu, Jaebum-ah." Seulgi berusaha tak menghiraukan kehadiran Jaebum.
Jaebum mengambil buku yang dibaca Seulgi dan menaruhnya di atas meja. Kini ia dapat melihat dengan jelas wajah Seulgi yang sedari tadi tersembunyi dibalik buku. Wajah itu mengulum senyum malu dan terlihat semburat merah pada kedua pipinya. Gemas sekali.
"Sayang," Panggil Jaebum.
Jantung Seulgi berdegup kencang. Ia tak terbiasa dengan panggilan ini. Sejak semalam, Jaebum terus-terusan memangggilnya "Sayang". Bangun tidur pun telinga Seulgi langsung disambut dengan kata 'Sayang' dari mulut Jaebum. Apakah dada Jaebum tidak berdebar sepertinya saat kemarin ia terus-terusan memanggil Jaebum dengan sebutan "Sayang"?
"Lihat aku." Titah Jaebum.
Seulgi yang tadinya menghindari tatapan Jaebum, menundukkan wajahnya dan menatap Jaebum.
"Cantik."
Rona di pipi Seulgi semakin terlihat jelas. Jaebum terus saja menggodanya dan membuatnya berdebar. Jaebum terkekeh melihat ekspresi Seulgi.
Tidak adil. Seulgi perlu melakukan sesuatu untuk membalas Jaebum.
Seulgi semakin menunduk dan mendekatkan bibirnya ke bibir Jaebum. Jaebum otomatis menutup matanya dan mengira Seulgi hendak menciumnya. Tapi semakin ditunggu, ciuman itu tak datang.
Jaebum membuka matanya dan melihat Seulgi sedang menahan tawanya.
"Hahahaha, kenapa menutup matamu, Tuan?" Seulgi tergelak. Ia puas melihat ekspresi sebal Jaebum.
Tak terima digoda seperti itu, Jaebum bangkit dari posisinya. Dia melihat Seulgi sebentar lalu pergi meninggalkan Seulgi yang masih tertawa geli.
Pukul dua siang, Seulgi sudah siap untuk berangkat ke panti asuhan. Tapi dia tak melihat Jaebum yang seharusnya juga sudah siap untuk pergi bersamanya.
"Jaebum-ah, apa kau sudah siap?" Tanya Seulgi saat memasuki kamar Jaebum. Walaupun Seulgi sudah tidur di kamar Jaebum, tapi barang-barang serta bajunya masih ada di kamarnya sehingga ia harus mengecek Jaebum ke kamarnya.
Jaebum terlihat bergulung di dalam selimutnya. Seulgi duduk di tepi kasur.
"Jaebum-ah?" Seulgi menggoyang-goyangkan pelan badan Jaebum dari balik selimut. Karena Jaebum tak bergeming, Seulgi menarik selimut yang menutupi kepala Jaebum.
"Jaebum-ah?" Panggil Seulgi lagi. Tapi Jaebum masih betah dalam tidurnya. Seulgi mulai khawatir karena Jaebum tidak kunjung bangun. Seulgi memegang kening Jaebum. Suhunya normal.
"Ayo bangun." Ucap Seulgi kepada Jaebum yang masih belum membuka matanya.
"Ah, apa kamu masih marah?" Mungkin saja saat ini Jaebum sedang merajuk karena sikap menyebalkan Seulgi tadi. Seulgi sadar tadi dia sedikit kelewatan. Padahal Jaebum tak pernah menjahili sampai membuatnya malu.

KAMU SEDANG MEMBACA
A Miraculous Thing, You
FanfictionJung Seulgi menjadi satu-satunya saksi dari titik terlemah seorang Cho Jaebum. Pertemuan itu menjadi awal terbelitnya takdir diantara mereka. Jaebum yang memiliki kekasih dan Seulgi yang tidak ingin berada dalam hubungan romantis, memutuskan untuk...