28. Our soon-to-be Child

99 5 1
                                    

Suara helaan nafas terdengar dari sebuah meja yang berisi tumpukan berkas. Wanita itu mengambil sebuah kertas di hadapannya dan meneliti setiap kalimat yang tertulis di atasnya.

"Aku sudah menunggumu dari tadi di tempat tidur, Gom."

Seulgi menoleh ke arah Jaebum. Seulgi kira Jaebum sudah terlelap sejak satu jam yang lalu, tapi nyatanya Jaebum masih terjaga dan menunggunya untuk ikut berbaring.

"Aku tahu pekerjaanmu sedang banyak. Namun, ini sudah lewat dari tengah malam. Aku tidak ingin menemukan beruang yang ketiduran di atas meja. Lehermu nanti sakit."

Jaebum mendekati Seulgi. Kemarin Seulgi juga seperti itu, semalaman dia fokus mengetik sesuatu di laptopnya sampai pagi-pagi Jaebum menemukan Seulgi tertidur di mejanya. Sebenarnya, akhir-akhir ini bukan hanya Seulgi yang sibuk dengan pekerjaannya, Jaebum pun begitu. Setelah albumnya rilis, ia memiliki jadwal yang cukup penuh. Ia juga menerima banyak permintaan untuk tampil di berbagai acara penghargaan yang banyak diadakan di awal tahun. Sehingga ia harus berlatih dari pagi serta mengunjungi stasiun tivi untuk melakukan rehearsal dan juga recording penampilan.

Jaebum melepaskan kacamata yang terpasang di wajah Seulgi kemudian memperhatikan setiap lekuk lelah wajah istrinya.

"Lihat. Matamu sudah mulai memerah."

"Tapi, besok siang aku harus menyerahkan laporan ini. Kamu tidur duluan ya. Besok kamu juga ada jadwal dari pagi, bukan?"

Seulgi jadi tidak enak hati membuat Jaebum begadang. Tapi dia tak punya pilihan selain mengerjakan laporannya. Besok adalah hari terakhirnya bekerja. Setelah itu ia akan membantu Wonwoo yang semakin kewalahan mengurus toko kue mereka yang kian membesar. Siapa yang sangka bisnis kecil orang tua mereka bisa menjadi seperti sekarang. Faktor nama Seulgi yang terangkat karena ia menjadi istri Jaebum sangat berperan dalam membesarkan toko kue mereka.

"Biarkan aku menyelesaikan ini ya. Besok-besok kan aku tidak akan begadang lagi seperti ini."

"Baiklah, tapi jangan kemalaman, Gom." Lantas Jaebum mengecup pipi Seulgi dan kembali ke atas kasurnya. Seulgi benar, besok ia memiliki jadwal dari pagi yang berarti dia harus segera menutup mata agar telinganya tidak mendengar omelan Jeonghan.

***

Laporan yang dikerjakan semalaman oleh Seulgi dan membuat kopi untuk Joohyun menjadi pekerjaan terakhirnya sebelum meninggalkan perusahaan yang sudah menjadi tempatnya bekerja selama lima tahun. Seharian ini Seulgi sibuk menyampaikan salam perpisahan kepada para karyawan lain khususnya karyawan yang berada di divisi pemasaran, divisi tempatnya berkerja.

Wajah Joohyun masih saja terlihat sedih. "Seulgi-ya, kau sungguh harus berhenti? Padahal kau termausk karyawan yang disukai para bos." Joohyun menyesap kopi yang dibuat Seulgi. Seulgi sendiri hanya memnum air putih. Dia tak berselera minum minuman yang memiliki rasa tapi anehnya dia sangat menginginkan soju. Padahal belum lama ini dia telah mendapatkan asupan alkohol.

"Terima kasih, selama ini Unni selalu baik kepadaku. Bagaimana reaksi Pak Direktur saat membaca surat pengunduran diriku?"

"Kakek itu menyayangkan salah satu karyawan terbaiknya harus resign, tapi dia bilang, dia akan mendukung apapun yang ingin kau lakukan setelah ini." Kata Joohyun mengingat-ingat wajah bosnya yang memang sudah memasuki awal usia senja setelah membaca surat Seulgi.

"Biarpun kau tidak lagi bekerja disini, kuharap kita terus berteman, ya. Kau sudah seperti adik perempuanku."

"Iya kita harus terus berteman, Unni. Kapan-kapan jika kau sempat, datanglah ke tokoku bersama yang lain. Aku akan mentraktir kalian." Mungkin karena tadi pagi dia tidak sempat sarapan dan selama dua hari berturut-turut dia begadang, pandangan Seulgi sedikit mengabur.

A Miraculous Thing, YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang