Author POV
Fajri tersenyum miris dan membiarkan Aqil membuka kotak yang terbungkus. Ternyata isinya 5 bungkus kondom. Benar-benar definisi sahabat laknat.
"Anjir kondom, Qil." Ucap Fajri sambil tersenyum senang.
"Bener-bener anjing ya duo tengik itu minta di smekdon." Raqil geleng-geleng kepala sambil terus membulak-balik kemasan kondom itu, mencari komposisi dari produk itu. Pfftt
"Smackdown, Qil."
"Aku kan orang sunda, suka suka lidah aku nyebutnya apa."
"Iya iya siap salah— eh itu ada suratnya, sini aku baca." Fajri mengambil surat yang tergeletak disamping Raqil. Keduanya sontak terkejut melihat isi surat dengan tulisan yang panjang, niat sekali Dian menulis.
Fajri membaca surat dari kedua teman kekasihnya itu dengan lantang,
"Habede euy, wish you all the best pokoknya Faj. Langgeng sama Aqil jangan sampe maneh bikin sakit hati Aqil–"
"Lah iya lah ga akan gue sakitin pacar gue sendiri." Jeda Fajri dari bacaannya yang membuat Aqil terkekeh gemas. Fajri berdeham dan melanjutkan sesi membaca suratnya.
"Awas aja kalo ternyata maneh ketauan buaya, aing bacok sama geng aing–"
"Ini cewek hobinya ngajak ribut mulu anjir." Fajri menggeram, Aqil tertawa mendengar sahabatnya menuliskan itu sekaligus terharu karena Dian selalu menyayangi dirinya sampai sekarang.
"Sabar Faj, Dian orangnya emang serem haha."
Fajri melanjutkan membaca,
"Ini hadiah dari urang sama Divnan, bingung milih apa karena kayaknya maneh bisa beli sendiri kalo mau apa-apa, kecuali barang ini nih, ini mah spesial. Kalo kata urang ya maneh langsung eksekusi aja sih kado dari kita mumpung Aqil ada di depan mata. Sekali lagi happy birthday manusia es."
Aqil merasa canggung begitu Fajri menyelesaikan bacaan surat dari Dian. Ia bingung harus bereaksi dan menanggapinya bagaimana. Aqil melirik Fajri dengan hati-hati, takut mata mereka bertemu. Ternyata Fajri masih menatap surat yang digenggamnya dan menampilkan senyuman, pikir Aqil senyuman Fajri saat ini membahayakan baginya.
"Aqil, kamu siap ga?"
Fajri menatap Aqil yang masih canggung dengan keadaan akibat surat dari Dian. Ia menyadari atmosfer di ruangan itu. Fajri menghela nafas, bergerak mendekati Aqil yang terdiam. Tangan Fajri terulur memegang leher Aqil sembari dielus pelan.
Aqil memejamkan mata, ia merasakan wajah Fajri mendekati lehernya dan mencium lehernya.
"Hnnghh... Faj geli"
Sialan, sensasi ini pertama kali dirasakan oleh Aqil, biasanya mereka hanya berciuman tanpa melangkah lebih jauh. Dalam hatinya, Aqil sedikit takut untuk dimasuki Fajri, apalagi nanti pastinya ia akan melihat 'burung' selain burungnya.
"Qil.." Fajri kembali mencium leher Aqil.
"Maaf kayaknya aku udah gabisa nahan" Bisik Fajri terus menciumi leher Aqil.
Aqil yang terpejam menahan geli kini sedikit membuka matanya karena Fajri menggenggam tangannya dan membawanya menuju ke arah celana.
'Anjir keras, aing megang tongkat apa titit sih ini serem banget'
"Liat kan, bawah aku udah sakit, dia minta bebas"
'Hic' Aqil reflek cegukan, terkejut dengan apa yang ia pegang.
Fajri mencium bibir Aqil, kali ini sedikit kasar, ciuman itu semakin panas bahkan dengan sengaja Fajri mempertemukan lidahnya dengan milik Aqil. Sungguh pemandangan yang erotis, ruangan itu kini dipenuhi suara ciuman mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
For him
RomanceF a j r i x R a q i l ⚠ W A R N I N G ! ! ⚠ Cowok doyan cowok Homophobic? Jangan bandel baca | 5 Mei 2020 - |
