"Sakit di bobol aku"
. . . .
Aku kira dia ngajak duduk di bangku panjang yang di depan kita. Taunya dia langsung mendudukan diri di rumput tanpa ada alas apapun.
Aku langsung duduk di sampingnya, menghela nafas kasar dan menoleh ke Fajri yang menatapku.
"Faj, sebenernya ada apa? Mau ngomongin apa?"
Ya gimana gak penasaran, tiap nanya digantung terus.
Hidup Fajri itu kayak penuh teka-teki gitu. Heran deh.
"Mau dor"
"Hah? Dor? Maksudnya?"
Bukannya menjawab pertanyaan, Fajri malah menepuk-nepuk kecil paha-nya yang membuat aku semakin heran.
"Apa?", tanyaku.
Fajri tersenyum.
"Sini - ", menepuk paha-nya lagi "- duduk disini", jelasnya.
Aku speechless.
Apa-apaan coba. Ya kali aku kucing yang disuruh duduk di pangkuan majikannya terus di elus-elus.
"Udah, nurut aja. Duduk disini", Fajri yang tersenyum mengubah ekspresinya. Tatapannya menjadi tajam, seakan-akan memberi ancaman di dalamnya.
Aku bergidik ngeri melihat Fajri yang seperti ini. Sisi lainnya.
Semakin lama aku mengenal dirinya, semakin aku penasaran akan dirinya.
Aku menghela nafas gusar, beranjak dari duduk dan perlahan duduk dipangkuan Fajri, menghadapnya. Dia tersenyum saat aku sudah di pangkuannya, aku ikut tersenyum.
Aku bukan pasrah, tapi aku mencoba membuktikan akan perasaan. Aku masih ragu dengan perasaanku terhadap Fajri. Dia emang udah mengutarakan isi hatinya tentang aku, cuman aku belum jawab pertanyaannya. Memang ada rasa nyaman disaat aku bersama Fajri, tapi aku belum yakin kalau rasa nyaman itu nyaman antara teman atau nyaman dalam artian lain. Ini masih membingungkan untuk aku tentang hubungan kasih antar sesama lelaki.
Dan lihat aja sekarang, aku merasa nyaman duduk dipangkuan Fajri sambil menatapnya.
Pikiranku yang tadi sempat takut telah sirna, lenyap begitu saja.
Ya, tadi aku sempat takut kalau ada orang yang lewat sini dan ngeliat kita berdua berpangkuan mesra (?) di taman malam-malam gini. Kalau mereka jadi paparazzi dadakan kan bahaya, gimana kalau orang itu nyebarin ke media sosial? Terus wajah aku dan Fajri terpampang di berita ; televisi, koran, dll, dengan judul "Pasangan Humu Bandung Tercyduk Saat Bermesraan Di Taman Malam Hari" , kan gak lucu.
Gak tau kenapa, pikiran aku jadi kemana-mana. Kenapa aku bisa mikir dangkal kayak gitu? Pasangan humu? Jadi aku udah nganggap Fajri pasangan aku? Orang aku sama Fajri masih temenan. Cih, tau ah gelap. Males mikir yang iya-iya. Mending balik lagi ke realita.
Sekarang kaki aku pegel. Iya lah, aku duduk dipangkuan Fajri dengan posisi nekuk lutut sebagai tumpuan, kayak orang jongkok. Aku mulai gelisah gara-gara pegel, pengen ganti posisi. Masalahnya daritadi Fajri natap aku terus, gak bersuara lagi. Aku malah dag dig dug kalau di tatap kayak gitu. Kenapa ya?
Muka aku juga kayaknya memerah, panas. Alhasil aku gak bisa diem dipangkuan Fajri, bergerak gelisah, pegal dan canggung bercampur menjadi satu.
"Lurusin aja kakinya", ucap Fajri. Mungkin dia tau aku pegel kaki karena lumayan lama nekuk lutut, jadi nyuruh buat lurusin kaki. Yaudah aku lurusin kaki, masih dipangkuannya.
Makasih Faj, kamu peka. Aku suka.
"Kamu gak risih? Tumben gak nolak", Fajri diam-diam megang tangan aku yang ada di pundaknya. Kebiasaan dah. Main pegang-pegang.
KAMU SEDANG MEMBACA
For him
Storie d'amoreF a j r i x R a q i l ⚠ W A R N I N G ! ! ⚠ Cowok doyan cowok Homophobic? Jangan bandel baca | 5 Mei 2020 - |
