[02] Aw, enghh, sakit

20.1K 1.7K 351
                                        

"Eh buset. Ganteng-ganteng tiis"

. . . .


"Hey, sudah sudah, kondusif ya semuanya. Kalian kedatangan keluarga baru di kelas ini, asal Jakarta, silahkan nak perkenalkan diri kamu".

Lelaki tinggi yang berdiri disamping pak Toni sempat terdiam sejenak, tatapannya sedang menjelajah isi kelas hingga aku merasakan tatapannya bertemu denganku.

"Nama gue Fajri Al Fatih, salam kenal".

Selang beberapa detik, ia diam. Tak berbicara lagi.

Pak Toni heran, "Ada lagi yang mau disampaikan nak Fajri?"

Lelaki bernama Fajri itu menggelengkan kepala, diikuti sorakan kecewa dari perempuan penghuni kelas.

'Udah gitu aja? Singkat banget?!', batinku.

Aku melihat pak Toni tersenyum, mungkin beliau memakluminya.

"Kalau begitu...", ucapan pak Toni sempat terjeda karena mengedarkan pandangan seperti mencari sesuatu,

"...nah, nak Fajri bisa duduk sebangku dengan Raqil", tunjuk pak Toni ke arah bangku kosong di sebelahku.

Fajri mengangguk, ia melangkah ke bangku tempatku duduk, sesampainya di depanku dia diam sejenak memandangku.

Aku yang peka dipandangnya membalas dengan senyum tipis, tapi Fajri tak membalas senyumku, wajahnya datar. Dengan santai Fajri mendudukan dirinya disampingku.

"Nah kalau begitu bapak kembali ke ruang guru, untuk nak Fajri semoga cepat beradaptasi, Raqil bantu nak Fajri ya", pesan pak Toni kemudian keluar ruangan.

Suasana kelas menjadi ribut setelah pak Toni pergi, perempuan penghuni kelas berbisik-bisik sambil menatap Fajri namun enggan untuk menghampirinya.

Aku yang dilanda suasana canggung memberanikan diri untuk mengajak berkenalan.

"Hei, kenalin, Raqil Adriansyah", aku mengulurkan tangan namun Fajri tak membalasnya.

"Hem",

singkat, padat, dan jelas.

'Kampret, songong banget nih murid baru', batinku.

"Haha, ngakak. Raqil dikacangin euy sama Fajrul", ejek Dian yang entah sejak kapan sudah memutarkan bangkunya menghadapku, disertai kekehan teman sebangkunya, Tini.

Fajri yang mendengar omongan Dian sedikit mengangkat alisnya sebelah, tanda tidak suka karena Dian salah menyebutkan namanya.

"Fajri, An. Bukan Fajrul. Fajrul mah nama anak kelas sebelah", ralatku cepat.

"Eh iya sorry bro", Dian dengan wajah tanpa dosanya.

Fajri mengangguk.

"Makanya kalau punya telinga tuh dipake yang bener, An", jelasku.

"Iya iya, lagian udah minta maaf ke Fajrinya. Sorry ya bro", pinta Dian sambil menepuk bahu Fajri.

"Hem".

"Wah, edan, tiis banget nih cowok", Dian terkekeh geli.

"Kenalin, nama urang Dian", sama halnya denganku, Dian mengulurkan tangannya namun tak dibalas oleh Fajri.

"Dah lah, mau tidur aja. Murid barunya gak asik", Dian menyerah.

"Ga peduli", jawab Fajri.

Aku dan Dian terkejut.

For himTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang