Namanya Evander Santoso. Laki-laki berkemeja putih panjang dengan dasi yang sudah dikendurkan sejak berakhirnya jam operasional bank tempatnya bekerja. Ia sedang mencetak laporan harian transaksi di bagian Teller, maupun Customer Service. Angka dari setoran dan penarikan uang tunai, jumlah kartu debit dan buku tabungan baru yang dikeluarkan, berapa nasabah baru yang datang membuka rekening, deposito, komplain dari nasabah yang diterima hari ini sudah terselesaikan atau perlu diteruskan ke kantor pusat untuk penyelesaiannya , dan segala macam hal yang berkaitan dengan uang nasabah, sudah menjadi makanannya sehari-hari sebagai Frontliner Supervisor.
Laki-laki itu mulai membubuhkan tanda tangannya pada setiap laporan yang ia cetak, juga laporan dari Teller dan Customer Service yang telah diletakkan di meja kerjanya. Sesekali ia meregangkan tubuhnya yang terasa lelah karena bekerja seharian. Ah, bahkan ia belum sempat memegang ponsel pribadinya. Seharian ini ia hanya berkutat dengan ponsel kantor untuk mendiskusikan masalah-masalah di kantor cabangnya kepada kantor cabang utama.
"Pak, Teller udah balance, ya."
Sebuah info yang disampaikan oleh salah satu Teller, mengartikan bahwa angka yang tertera pada laporan transaksi harian telah sesuai dengan jumlah uang tunai yang ada pada mereka. Maka, langkah selanjutnya adalah menyimpan semua uang tunai itu ke dalam ruang khasanah. Sebuah ruangan khusus dengan tingkat keamanan tinggi, bisa juga digunakan untuk menyimpan dokumen berharga.
Rutinitas seperti ini yang Evan jalankan setiap harinya. Bosan, tentu saja. Melelahkan, apalagi. Namun, ternyata ia sudah bertahan di bank yang sama selama lebih dari lima tahun, dari sejak lulus kuliah. Meskipun posisinya selalu berganti dari Teller, kemudian ke Customer Service, hingga menjadi supervisor seperti saat ini, tetap saja ada kalanya ia merasa ingin keluar dari sana. Tidak mudah menahan rasa kesal kepada nasabah yang kadang bersikap seenaknya. Enggan mengantri karena menganggap dirinya nasabah prioritas, sedangkan nasabah prioritas yang datang bukan hanya ia seorang. Menerima caci maki dari nasabah, padahal masalah berasal dari kesalahannya sendiri, mengirim uang dalam jumlah besar kepada orang yang salah, misalnya.
Itu baru dari nasabah. Belum lagi tuntutan dari atasan. Seperti, menargetkan penjualan asuransi, pembukaan rekening baru, dan kartu kredit. Kalau belum tercapai, tentu saja ia akan mendapat siraman rohani berjam-jam.
Masih banyak hal yang bisa disambati seputar pekerjaannya, tetapi ia tetap memilih untuk bertahan. Alasannya hanya satu, nominal gaji. Ia telah mencoba melakukan berbagai wawancara di bank maupun perusahaan lain, belum ada yang bisa menggajinya sebesar nominal yang ia dapatkan setiap bulannya dari tempatnya bekerja. Jadi, masa bodoh dengan tekanan mental yang dirasakannya, asalkan ia bisa tetap membiayai kebutuhan hidupnya.
Kembali Evan mengempaskan tubuhnya di kursi ketika semua pekerjaannya telah selesai. Ia merogoh saku celana dan mengambil ponsel pribadinya yang hampir tidak tersentuh. Seperti biasa, ketika menemukan belasan pesan masuk, yang ia buka pertama kali adalah milik Celine, tunangannya.
Van, ada vendor dekorasi yang oke nih, aku liat di IG.
(Foto)
(Foto)
Aku udah sempet tanya harga juga, tapi kita mesti pastiin tempatnya dulu.
Eh, temen aku ada yang rekomen Hotel Capella. Makanan di sana oke, katanya.
Tadi aku telepon ke sana, terus dikasih kontak sales-nya.
(Serra - Wedding Sales Capella)
Dengan cepat, Evan membuat panggilan kepada Celine. Dua kali nada sambung, akhirnya terdengar suara seseorang yang ia rindukan. "Halo?"
"Kamu lagi di mana?" tanya Evan sambil merapikan meja kerjanya, bersiap untuk segera pulang.
"Masih di butik. Kamu udah selesai?"
"Udah. Bentar lagi aku jemput, ya. Kamu udahan?"
"Belum. Masih itung keuangan nih, ada yang selisih. Kamu nggak usah buru-buru ya. Oh ya, kamu udah baca chat aku?"
"Mm." Laki-laki itu sekarang sedang mengutak-atik, mematikan komputernya.
"Gimana? Mau aku yang hubungin ke Capella atau kamu aja?"
Evan terkekeh pelan. "Untuk itu, biar aku yang urus. Kalo bisa, besok aku ke sana deh mumpung hari Sabtu. Ibu Bos selesaiin dulu urusan butiknya, oke? Makasih ya udah repot-repot urus ini-itu."
"Repot apa sih? Kamu besok mau ditemenin?"
"Nggak usah, Sayang. Butik kamu 'kan rame tiap weekend. Udah ya, nanti kita sambung lagi ngobrolnya, aku mau pulang dulu. See you."
Telepon ditutup setelah Celine mengucapkan selamat tinggal. Evan berjalan keluar kantor, menempelkan jari telunjuknya pada mesin absen, lalu menghirup napas dalam-dalam. Suasana hatinya selalu senang setiap kali pulang kerja di hari Jumat karena hawa akhir pekan sudah terendus.
Ya, meskipun ketika di luar jam kerja ia akan sibuk dengan persiapan pernikahannya yang akan diadakan tahun depan. Tidak terlalu sibuk sebenarnya, karena mereka berdua, ia dan Celine sepakat untuk mengerjakan secara pelan-pelan, tetapi teliti. Mereka tidak mau terburu-buru dalam memutuskan sesuatu yang berhubungan dengan hari paling istimewa seumur hidup mereka. Kalau boleh jujur, daripada memusingkan segala persiapan untuk acara pernikahan, hal yang harus Evan teguhkan adalah persiapan mentalnya sendiri.
Tidak jarang saat ia sedang sendiri di kamarnya, merenungkan hal ini. Siapkah ia masuk ke dalam kehidupan pernikahan? Apakah ia bisa menjadi seorang suami dan kepala keluarga yang baik untuk rumah tangganya? Bisakah ia mendidik anak-anaknya dengan baik? Apakah ia bisa menjadikan Celine satu-satunya sampai maut memisahkan? Siapkah ia menerima segala kelebihan dan kekurangan Celine? Apakah rasa cinta itu bisa bertahan selamanya? Pernikahan itu berlaku seumur hidup dan tidak ada jalan kembali. Itu prinsip yang selalu ia pegang.
Laki-laki itu sudah yakin seratus persen untuk masuk ke jenjang ini ketika melamar Celine di hadapan kedua orangtua mereka, setelah empat tahun berpacaran. Namun, seiring waktu berjalan mendekati tanggal yang sudah mereka sepakati bersama, pertanyaan-pertanyaan itu mulai bermunculan, seolah meragukan keputusannya sendiri.
Ia ingat seorang temannya dulu, sebelum menikah juga pernah merasakan hal yang sama, ragu. Namun, dengan entengnya Evan berkata, "Kalo nunggu siap, sampai kapan pun juga nggak akan siap. Jadi, jalanin aja dulu." Kini, ketika hal itu terjadi pada dirinya sendiri, sepertinya kata-kata seperti itu tidak membantu sama sekali.
Ah, Evan teringat sesuatu ketika baru saja akan menyalakan mesin mobilnya. Laki-laki itu kembali membuka ponselnya, melihat pesan terakhir yang dikirimkan kekasihnya. Tanpa ragu, ia mengetikkan sederet kalimat.
Sore, apa benar ini nomor Bu Serra,
Sales Wedding di hotel Capella?
Iya benar, saya sendiri. Kalau boleh tahu ini dengan Bapak/Ibu siapa?
Saya, Evan. Rencananya besok saya mau lihat ballroom Capella, bisa?
Bisa, Pak. Kira-kira Pak Evan mau datang jam berapa?
Sekitar jam 1 ya. Kalau ada perubahan jam,
nanti saya kabari.
Baik, Pak. Nanti saya temui Bapak di lobby ya, Pak.
Terima kasih, Bu.
Sama-sama, Pak Evan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Garis Romansa [END]
Genel Kurgu[WattpadRomanceID's Reading List - SPOTLIGHT ROMANCE OF DESEMBER 2023] Menjadi dewasa ternyata tidak seenak yang dibayangkan. Tidak hanya memusingkan urusan jenjang karir dan kestabilan finansial, tetapi juga harus menuntaskan persoalan cinta sepert...
![Garis Romansa [END]](https://img.wattpad.com/cover/342350778-64-k18250.jpg)