9. Tugas Baru

1.3K 121 2
                                        

Menatap layar ponsel sambil sesekali senyum malu-malu adalah kebiasaan anak remaja ketika sedang dimabuk cinta. Anak remaja. Sementara yang sedang bersikap seperti itu saat ini adalah seorang wanita dewasa, yang sehari-hari lebih sering menekuk wajahnya.

Mata Vino bergerak memperhatikan Serra dari atas ke bawah, ke atas lagi, ke bawah lagi. Ada yang berbeda dengan gadis itu hari ini. Aura yang terpancar pun beda. Jika biasanya ia seakan membawa hawa neraka ke tempat kerja, kali ini sepertinya sedikit hawa surga bisa ia rasakan lewat kehadiran Serra di sebelahnya. Yang lebih aneh, waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam sore, beberapa karyawan sudah berpamitan pulang, tetapi senyum gadis itu masih secerah mentari pagi.

"Nggak usah ngelihatin gitu. Gua tau, gua emang cantik," ucap Serra, masih terpaku dengan ponselnya.

Laki-laki itu mengerjapkan mata beberapa kali sebelum membalas, "Dih. Paling juga cuma emak lo yang bilang lo cantik."

Sontak, kepala Serra berputar ke arah Vino. "Enak aja emak gua doang. Bokap gua juga kali," jawabnya dengan nada sewot. Ia meletakkan ponselnya di atas meja dan mengambil sebuah kertas. "Udah ah, hari ini mood gua lagi bagus. Nggak mau berantem sama lo."

Vino menghentikan tawanya begitu melihat Serra bangkit berdiri sambil membawa kertas di tangannya, buru-buru mencegat, "Eh, mau ke mana lo?"

"Mau kasih BEO ke anak resto," kata gadis itu sambil mengacungkan kertas tersebut. Banquet Event Order atau BEO, berisi rincian acara yang dilaksanakan di hotel, seperti tanggal dan jam berapa acara akan berlangsung, ruangan apa yang dipakai, apa menu makanan atau coffee break yang dipilih tamu dan berapa jumlahnya, nama karyawan yang bertugas selama acara, dan beberapa detail yang lain. BEO umumnya dibagikan kepada seluruh divisi agar masing-masing dapat mempersiapkan acara dengan baik.

"Jangan lama-lama. Kita 'kan ada janji mau temuin Pak Hendra."

"Iya, Vino. Tunggu ya," ucap Serra dengan nada ramah yang dibuat-buat, lalu melangkah pergi.

Masih merasa heran dengan sikap Serra yang tidak biasa, Vino segera bertanya pada Indi yang sedang mengemasi barang, bersiap untuk pulang. "Anak itu kesambet apa sih?"

"Maklum, namanya juga lagi kasmaran."

"Oh, jadi sekarang udah punya pacar dia?"

Indi menggeleng. "Dia ketemu lagi sama gebetannya jaman sekolah. Kalo dilihat-lihat, kayaknya chatting-an mereka lancar sih, soalnya sekarang dia jadi lebih sering main HP sambil senyam-senyum kayak tadi. Ya, siapa tau aja bisa jadi."

"Wow!" Vino memasang wajah yang takjub selama mendengar cerita Indi. "Kira-kira, siapa ya pria yang kurang beruntung itu?"

Pernyataan itu mendatangkan sebuah pukulan dari Indi di lengan laki-laki itu. "Jahat amat sih lo."

Vino mengusap-usap lengannya. "Tapi, dia hebat juga bisa menjinakkan cewek sebuas Serra. Kalo ketemu orangnya, gua harus berterima kasih sama dia."

Lantas, Indi celingukan mengamati sekitarnya, memastikan tidak ada orang lain, selain mereka. Ia mendekat kepada Vino, bicara setengah berbisik, "Katanya, cowok itu mau ngadain acara di sini beberapa minggu lagi. Gua penasaran sih, gimana modelan cowok yang bisa buat Serra betah ngejomblo sampai sekarang. Kalo lo juga penasaran, nanti kita—"

"Kalian ngapain sih?"

Keduanya terkesiap dan spontan mengangkat kepala, melihat Serra dengan mata terbelalak seperti melihat hantu.

Mulut Indi tergagap, tidak tahu harus menjawab apa. "I-itu—" Untunglah ponselnya berdering saat itu juga. "Eh, laki gua udah jemput nih. Gua balik ya. Dah." Buru-buru, Indi beranjak dari sana meninggalkan Serra yang masih menatapnya bingung.

Garis Romansa [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang