"Ser, event yang barusan lo share di email itu tanggalnya nggak salah? Di tanggal itu 'kan udah full sama corporate."
"Mbak, ini saya udah sampai di hotel, tapi kok kata resepsionis, mbaknya lagi di luar? 'Kan kemarin-kemarin saya udah buat janji. Saya juga sibuk, cuma free jam segini."
"Ser, berkas pengajuan diskon lo, kurang tanda tangan klien nih. Cek dulu sebelum kasih ke gua, biar berkasnya nggak bolak-balik gini."
Komplain pertama datang dari Head Chef, kedua dari klien, sedangkan yang ketiga dari salah satu orang dari divisi akunting. Kacau. Pekerjaan yang kacau ini bersumber dari pikirannya yang sama kacaunya sejak ia bangun tidur pagi tadi.
Tepat ketika membuka mata, ia memukul pipinya sendiri begitu teringat kejadian semalam. Perkataan mengenai dirinya yang tidak mungkin mengingat apa-apa ketika mabuk, ternyata salah besar. Mungkin karena ia belum mencapai tahap mabuk berat, makanya ia masih ingat semua kejadian semalam dengan jelas. Tak henti-hentinya Serra merutuki diri sendiri. Mengapa ia bisa berbuat hal memalukan seperti itu pada rekan kerjanya? Oh, bukan, hari ini Vino bahkan sudah menjadi atasannya. Lantas, apakah ia terlihat seperti wanita yang sedang menggoda atasannya? Yang jelas, hancur sudah harga dirinya di depan Vino.
Saking malunya, Serra tidak berani menatap laki-laki itu. Berada di sekitar Vino saja mampu membuat wajahnya berubah merah padam dan merasa gerah. Maka, sebisa mungkin ia membatasi komunikasi, hanya bicara seperlunya. Namun anehnya, laki-laki itu bersikap santai seperti biasanya, seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka. Hal itu sedikit membuat Serra kesal karena rupanya hanya ia sendiri yang heboh dengan perasaan yang tidak jelas ini.
"Lo kenapa sih hari ini? Kayak nggak fokus gitu?" tanya Indi melihat temannya berwajah nelangsa karena mendapat teguran sana-sini.
"Nggak tahu deh. Pusing gua," jawabnya sambil memijat pelipis.
"Lagi sakit?"
Serra menggeleng.
"Belum bisa terima kalo Vino jadi atasan lo?"
Mendengar nama itu disebut, ia menyanggah cepat, "Nggak. Pokoknya, apapun yang terjadi sama gua hari ini, nggak ada hubungannya sama dia. Sama sekali nggak ada."
"Ya… udah. Santai aja kali." Sesungguhnya, reaksi Serra yang berlebihan seperti itu menimbulkan tanya, tetapi Indi memutuskan untuk tidak perlu memperpanjang kesulitan temannya lagi.
Serra bangkit dari tempat duduknya sambil mendesah. "Mau turun nggak?"
"Ke mana?"
"Tuh di grup, anak kitchen minta bantu siapin makan malam buat room service punya corporate. Mereka kurang orang."
"Kerjaan lo udah kelar semua?" Indi memastikan agar gadis itu melalaikan pekerjaannya lagi.
"Mm."
"Ya udah, nanti gua juga nyusul deh. Lo duluan aja."
Serra melangkah dengan gontai menuju dapur restoran. Aroma makanan mulai tercium begitu gadis itu membuka pintu dapur, bertemu dengan beberapa orang yang tampak sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Ada yang sedang memasak, memotong lalapan, menyiapkan alat makan, menuangkan sambal, dan masih banyak lagi. Sambil mengenakan sarung tangan plastik dan penutup kepala, Serra bertanya apa yang bisa dikerjakan, dan ia mendapat tugas untuk mencetak nasi putih, lalu diletakkan pada setiap piring yang sudah tersedia.
Tak lama kemudian, dua orang laki-laki baru saja masuk ke dapur, Vino dan salah satu karyawan housekeeping. Pandangan Vino langsung bertemu dengan Serra yang buru-buru membuang muka dan melanjutkan aktivitasnya kembali. Ia benar-benar terhibur dengan sikap gadis itu seharian ini. Citranya sebagai gadis galak mendadak lenyap. Setiap kali diajak bicara, Serra berubah kikuk, tidak mau melihatnya, bahkan beberapa kali menjawab dengan terbata. Tentu bukan hal yang sulit bagi Vino untuk menebak apa alasan dari sikap aneh gadis itu.
"Bantuan datang. Ada mau dibantu apa?" Vino melemparkan pertanyaan dengan suara lantang kepada siapa saja yang mau menjawabnya.
"Lo berdua plating lauk aja. Yang rapi, ya," jawab seorang koki.
Demikianlah kedua laki-laki tersebut melengkapi piring-piring yang telah terisi nasi putih, dengan lauk pauk yang baru saja selesai dimasak. Saat posisi Vino hampir mendekati Serra, tiba-tiba saja terdengar pekikan kecil dari gadis itu. Kepalanya berputar cepat dan melihat sebelah tangan Serra tidak sengaja tersiram kuah sup dari panci yang dibawa oleh salah satu karyawan. Padahal, orang itu sudah memberi peringatan, "Awas, panas! Awas, panas!" Namun, sepertinya gadis itu tidak mendengarkan.
Dengan sigap, Vino langsung menarik Serra ke kitchen sink, membuka sarung tangan, dan mengguyur tangan gadis itu dengan air mengalir. "Kenapa nggak hati-hati sih?" omel laki-laki itu.
Serra tidak menyahut. Perasaannya campur aduk. Di satu sisi, punggung tangannya berdenyut dan terasa perih. Di sisi lain, jantungnya berdebar tidak karuan saat Vino membersihkan tangannya dengan hati-hati dan menyekanya dengan tisu hingga kering.
"Duduk di sini dulu, gua ambil obat," perintah Vino setelah mengambilkan sebuah kursi.
Gadis itu tidak membantah. Ia melihat punggung tangannya yang mulai memerah dan makin perih, lalu mendesah lelah. Tidak ada satu pun hal benar yang dilakukannya hari ini.
Vino datang membawa sebuah salep yang ia ambil dari kotak P3K, dan mulai mengobati luka gadis itu. "Serra, Serra. Udah tahu supnya baru matang, malah ditampol. Untung cuma kena sedikit, kalo tumpahnya banyak gimana? Bukan cuma tangan lo yang habis, tamu juga jadi kekurangan lauk buat dinner."
"Iya, iya, maaf. Jangan ngomel-ngomel mulu deh. Gua 'kan nggak sengaja," gerutunya.
Bukan maksud Vino memarahi kecerobohan gadis itu. Ia hanya panik. Maka, dengan nada suara yang sedikit melunak, ia bertanya, "Lo ingat, ya?"
"Ingat apa?"
"Semalam."
"Nggak."
Laki-laki itu melirik Serra sekilas. Ia tersenyum jahil. "Oh, nggak ingat? Artinya, yang gua ajarin semalam harus diulang lagi dong."
Serra mengesah, menyerah berpura-pura. "Bisa nggak kalo kejadian semalam, lo hapus aja dari ingatan lo? Gua malu."
Pengakuan gamblang gadis itu membuat Vino tidak bisa menahan tawanya dan menggeleng. "Mana bisa segampang itu."
"Bukannya kejadian kemarin nggak berarti apa-apa buat lo?"
"Kenapa bilang gitu?"
"Karena lo kelihatan biasa aja."
"Itu 'kan yang kelihatan."
"Aslinya?"
"Selesai," ucap Vino sambil menutup salep yang telah digunakan, sengaja mengalihkan pembicaraan. "Lo pulang aja, istirahat. Masih ada yang lain, yang bisa bantu."
"Makasih," gumam Serra sambil bergantian melihat luka di tangan dan laki-laki yang sudah mengobatinya. "Kalo gitu, gua pamit."
Sebelum Serra melangkah lebih jauh, Vino membuka suara, "Kalo udah sampai rumah, kabarin gua."
Kedua alis gadis itu otomatis terangkat. "Kenapa mesti ngabarin lo?"
Lantas, Vino membungkukkan tubuh agar wajahnya sejajar dengan Serra. Ia memasang senyum manis. "Cuma mau memastikan salah satu staff gua yang seharian ini kayaknya kurang konsentrasi, bisa sampai rumah dengan selamat."
Oh, apa ini? Serra baru sadar ternyata senyum milik laki-laki itu… tidak buruk juga. Ia mendecak dan memasang raut sebal agar Vino tidak tahu bahwa senyuman itu memberi dampak yang aneh di dalam dadanya. "Emangnya gua anak kecil apa?" kata gadis itu sebelum beranjak dari tempatnya.
"Jangan lupa, ya. Kabarin." Vino mengingatkan sekali lagi sebelum sosok gadis itu menjauh. Senyumnya mengembang kembali. Untuk pertama kalinya, setelah hubungannya dengan Celine berakhir, ia bisa merasa sebahagia ini. Seperti kata Serra tadi, dari luar, ia memang bersikap seperti biasanya. Padahal, kini di dalam hatinya terbit sebuah rasa yang lain.
Ia pikir, segala sesuatu yang terjadi kemarin hanya sekadar terbawa suasana. Malam yang sunyi dan sedikit gelap, kandungan alkohol yang mengalir dalam tubuh, serta kalimat berisi tantangan yang memacu adrenalin. Suasana yang mendukung terciptanya momen di luar kendali masing-masing. Anehnya, semua itu membekas, bahkan saat ia dalam keadaan sepenuhnya sadar seperti saat ini.
Perasaan ini membingungkan, sekaligus menyenangkan. Yang jelas, mulai saat ini, sepertinya ia tidak bisa terlalu jauh dengan gadis itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Garis Romansa [END]
Fiksi Umum[WattpadRomanceID's Reading List - SPOTLIGHT ROMANCE OF DESEMBER 2023] Menjadi dewasa ternyata tidak seenak yang dibayangkan. Tidak hanya memusingkan urusan jenjang karir dan kestabilan finansial, tetapi juga harus menuntaskan persoalan cinta sepert...
![Garis Romansa [END]](https://img.wattpad.com/cover/342350778-64-k18250.jpg)