Saat mendengar kabar putrinya kecelakaan, Jared merasakan dunianya kembali menjadi gelap. Ia merasa seperti ditimpa badai emosional yang tak terkendali. Kesedihan dan ketakutan memenuhi hatinya, membuatnya sulit untuk bernapas.
Jared berdiri membatu, matanya kosong memandang ke depan tanpa fokus. Ia merasa seperti kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Suara-suara di sekitarnya menjadi samar-samar, dan yang terdengar hanyalah detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang.
"Tidak Tuhan, jangan ambil anakku juga," ia berdoa dengan suara lirih, sambil menggelengkan kepala.
"Berikan dia kesempatan untuk hidup. Aku tidak bisa kehilangan dia, aku tidak bisa..."
Jared merasa seperti kembali ke masa lalu, ketika ia harus menghadapi kesedihan yang sama. Ia mengingat saat mendengar kabar istrinya tiada, dunianya hancur dan rasanya seperti kehilangan sebagian dari dirinya sendiri. Ia terpaksa bertahan dan baik-baik saja di depan orang lain, tetapi rasa sakitnya masih terasa hingga kini, seperti luka yang belum sembuh sepenuhnya.
Ia mengingat, bagaimana ia harus menjadi kuat untuk putrinya. Ia harus menutupi rasa sakitnya dan menjadi sandaran bagi putrinya. Namun, sekarang, Jared merasa takut bahwa rasa sakit kehilangannya bertambah, Jared tidak ingin kehilangan orang yang dicintainya lagi.
Dengan air mata yang mulai mengalir, Jared memohon kepada Tuhan agar putrinya diselamatkan dan diberikan kesempatan untuk hidup. Ia berjanji untuk menjadi lebih kuat dan lebih sabar, jika hanya putrinya bisa pulih dan kembali ke pangkuannya.
Dengan langkah berat, Jared berjalan melewati lorong rumah sakit, hatinya dipenuhi dengan kecemasan dan ketakutan. Saat ia berbelok ke sudut lorong, tatapannya terpaku pada seseorang yang sangat ia kenal. Laki-laki itu adalah Alexander.
Penampilan Alexander sangat kacau, rambutnya berantakan dan wajahnya terlihat lelah. Tapi yang membuat hati Jared semakin berat adalah darah yang mengotori kemeja putih milik Alexander. Jared bisa melihat noda darah yang cukup besar di dada kemeja Alexander, membuatnya semakin khawatir.
"Alexander... apa yang terjadi?" Jared bertanya dengan suara yang terguncang. "Apa yang terjadi pada putriku?"
Alexander terdiam, suasana hatinya kacau dan ketakutan. Ia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan kepada Jared, tentang keadaan putrinya yang sebenarnya.
Saat ia mendapat panggilan dari Floretta. Alexander meminta Kevin untuk mencari tau apa yang terjadi kepada Floretta.
Setelah mendapatkan lokasi Floretta, Alexander segera menyusul.
Dalam perjalanan, Kevin menjelaskan tentang kebakaran Ruko Floretta, tapi Alexander tidak terlalu menanggapi. Ia hanya ingin menemukan Floretta dan memastikan keselamatannya.
Tiba-tiba, mobil mereka terjebak dalam kemacetan karena kecelakaan di jalan. Alexander yang sudah tidak tenang tidak bisa menunggu lagi, ia keluar dari mobil dan melihat tempat kejadian. Jantungnya terasa berhenti saat melihat mobil yang terguling dan terhimpit oleh truk box.
Alexander berlari ke arah mobil yang rusak parah, dan saat itu ia melihat beberapa tenaga medis yang berusaha mengeluarkan seseorang dari dalam mobil. Ia berharap bahwa itu bukan Floretta, tapi saat ia melihat wajah yang terluka dan pucat, ia menyadari bahwa itu memang Floretta.
"Floretta! Oh Tuhan, Floretta!" Alexander berteriak dengan suara yang penuh dengan ketakutan dan kecemasan, sambil berlari ke arah tim medis. "Apa yang terjadi padanya? Bagaimana keadaannya?" ia bertanya dengan suara yang terguncang.
.
.
.
.
.
Floretta tengah duduk di bawah pohon, tatapannya memandang padang ruput yang luas ada danau yang tenang di tengahnya,
Floretta duduk sendirian di bawah pohon besar yang rindang. Angin berhembus pelan, menggoyangkan dedaunan yang mengayun seperti bisikan halus dari masa lalu. Di hadapannya, terhampar padang rumput luas yang tak berujung, dihiasi oleh bunga-bunga liar berwarna lembut. Di tengah padang itu, terbentang sebuah danau yang tenang airnya begitu jernih, memantulkan langit yang pucat dan sunyi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Haru Haru
FantasiLariana memiliki ingatan tentang kehidupan pertamanya, Tuhan mungkin sedang menghukumnya sehingga ia memiliki ingatan yang utuh tentang kehidupan pertama sebagai Floretta Brown. Floretta Brown anak satu-satunya dari keluarga Brown, egois, sering men...
