Beberapa jam setelah interogasi berdarah, gudang telah dibersihkan. Bau karbol samar masih menggantung di udara, berbaur dengan sisa logam dan jelaga yang tak bisa sepenuhnya dihapus. Bekas darah di lantai kini mengering, membentuk pola gelap seperti bayangan yang menolak pergi. Lampu-lampu tua menggantung lesu di langit-langit, bergetar pelan digoyang angin malam yang menyelinap masuk lewat celah-celah dinding seng yang berkarat.
Alexander duduk di kursi besi tua di tengah ruangan. Tubuhnya santai, satu kaki disilangkan di atas yang lain, tapi matanya, matanya tetap tajam dan awas, seperti binatang buas yang menyamar dalam diam. Di hadapannya, segelas anggur merah berdiri tenang di atas meja kayu lapuk sebuah ironi sunyi di antara kekacauan yang baru saja usai.
Pintu samping berderit pelan. Seorang wanita bertubuh mungil melangkah masuk, siluetnya tertelan sebagian oleh cahaya kuning remang. Jaket kulit hitamnya memantulkan kilau, celananya gelap, dan dari pinggangnya tergantung pisau lipat yang tampak usang tapi bersih bukan pajangan, melainkan alat kerja.
Dia bernama Tosca. Di dunia yang tak mengenal belas kasihan, dia adalah bisikan yang terdengar lebih dulu sebelum peluru ditembakkan. Mata dan telinga Alexander di tempat-tempat yang bahkan iblis pun enggan menginjakkan kaki.
“Hunter Blake,” ucapnya, tanpa basa-basi. “Pemilik resmi Krax. Anak haram keluarga Blake, disembunyikan selama dua dekade oleh ibunya. Dia mulai aktif di pasar senjata gelap empat tahun lalu agresif, licik, dan tidak loyal kepada siapa pun kecuali uang.”
Alexander menyesap anggurnya. Perlahan. Diam menanti kelanjutan.
Tosca membuka ponselnya dan meletakkannya di atas meja. Layar menampilkan serangkaian gambar dan log komunikasi. “Selama seminggu sebelum kecelakaan Floretta, hanya ada satu orang yang dia temui dan hubungi secara intens. Lokasi: Yupei. Hotel pribadi milik Blake Group.”
Tosca terdiam sejenak, dia kembali menatap Alexander tajam.
“Kekasihmu, Leila.”
Hening. Dingin. Waktu seolah berhenti satu detik terlalu lama.
Gelas anggur di tangan Alexander tetap tak bergeser. Tapi matanya, mata itu berubah. Ada bayangan yang melintas cepat, seperti badai yang menari di permukaan danau tenang.
Alexander berdiri perlahan, mengambil ponsel dari meja, lalu memutar layar hingga menampilkan foto terakhir pertemuan Leila dan Hunter terlalu dekat, terlalu nyaman untuk sekadar kebetulan. Ia menatapnya lama, seolah mencari sesuatu yang tersembunyi di balik senyuman Leila yang manis namun tidak polos.
.
.
.
.
.
Gudang yang sama.
Tapi kali ini, malam terasa lebih berat. Hujan turun di luar, mengetuk atap seng seperti detak jantung yang memburu.
Di tengah ruangan, Hunter Blake duduk terikat di kursi logam. Bajunya mahal, tapi kini kotor dan robek. Wajahnya memar, bibirnya pecah, namun mata itu… masih menyimpan arogansi. Matanya menatap Alexander seperti menatap cermin dua pemangsa dari dunia yang sama, hanya beda posisi.
Alexander berdiri di hadapannya, tenang, tanpa ekspresi. Ruangan itu tak perlu teriakan. Ancaman terasa dari setiap helaan napas yang tertahan.
“Bagaimana rasanya menjadi buruan?” tanya Alexander pelan.
Hunter menyeringai meski darah mengering di sudut bibirnya. “Lucu. Aku ingin menanyakan bagaimana kondisi Floretta, apakah dia sudah dimakamkan?.”
Satu tamparan cepat, bersih, tanpa emosi. Kepala Hunter terhuyung, tapi ia tertawa pendek.
“Leila,” kata Alexander, dingin. “Apa hubunganmu dengannya?”
Hunter mengangkat alis. “Langsung ke inti, ya? Tidak mau basa-basi dulu? Aku kecewa.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Haru Haru
FantasyLariana memiliki ingatan tentang kehidupan pertamanya, Tuhan mungkin sedang menghukumnya sehingga ia memiliki ingatan yang utuh tentang kehidupan pertama sebagai Floretta Brown. Floretta Brown anak satu-satunya dari keluarga Brown, egois, sering men...
