Lost 2

14.3K 941 56
                                        

Langkah Floretta menjejak lembut padang rumput yang luas, seakan dipandu oleh sesuatu yang tidak kasatmata. Ia tidak tahu sudah berapa lama berjalan. Waktu di tempat ini terasa elastis kadang melambat, kadang seperti melompat melewati detak jantungnya.

Angin berhembus ringan, membawa aroma samar kayu basah dan bunga liar. Di kejauhan, seperti fatamorgana, muncul siluet sebuah pohon besar, berdiri sendiri di tengah padang. Pohon itu seperti tidak berasal dari tempat ini ia terlalu hitam, terlalu dalam, terlalu hidup.

Floretta mendekat. Semakin dekat, udara berubah.

Diam. Terlalu diam.

Pohon itu menjulang tanpa suara, batangnya besar dan retak-retak seperti kulit bumi tua. Akar-akarnya menjalar liar ke segala arah, menembus tanah seperti urat luka yang tak pernah sembuh, berdenyut perlahan dalam keabadian. Cabang-cabangnya bengkok dan menjuntai, mengayun ringan ditiup angin seperti tangan-tangan renta yang terus menggapai sesuatu yang telah lama hilang.

Floretta ternganga. Nafasnya tertahan.

Jantungnya berdegup keras, tak beraturan, seperti dentang jam tua yang baru saja terbangun dari tidur panjang.

Tangannya terangkat pelan, nyaris ragu, lalu menyentuh permukaan batang pohon itu. Kulit kayunya kasar, hangat, nyaris berdenyut. Ujung jarinya menangkap sesuatu yang tak bisa dijelaskan oleh logika getar halus, seperti bisikan. Dunia di sekelilingnya mengerut perlahan, menyempit seperti terhisap ke dalam ingatan.

Dan saat itu terjadi, suara-suara masa lalu meledak dalam kepalanya. Bukan hanya suara, tapi rasa. Aroma. Gambar. Teriakan. Tawa. Tangis. Semua datang sekaligus, menyerbu seperti air bah menenggelamkan ruangan kosong yang terlalu lama sunyi.

Floretta terhuyung. Lututnya lemas.
Air mata jatuh tanpa izin, tanpa alasan yang bisa ia mengerti, air mata dari tempat yang lebih tua dari ingatannya.

Ia jatuh berlutut di bawah pohon itu, tubuhnya menggigil tanpa sebab jelas. Dan di tengah kekacauan sunyi itu. Seseorang datang.

Rosella muncul.

Diam-diam, tak bersuara. Seperti bayangan yang tahu kapan harus hadir, dan kapan harus menunggu.

Wajahnya tenang, tapi matanya menyimpan badai. Ia memandangi Floretta tanpa berkata sepatah pun, membiarkan keheningan mengisi celah di antara mereka.

"Aku sudah mengingat semuanya," bisik Floretta, suaranya serak dan pecah, seolah dibentuk dari puing-puing yang baru saja dikumpulkan.
"Seluruhnya. Kehidupan pertama, kedua, dan ketiga."

"Apakah kau pikir... kau manusia yang spesial?" tanya Rosella, suaranya dingin namun penuh tekanan. Tatapannya menusuk tajam ke arah Floretta yang berdiri terpaku.

"Pernahkah kamu bertanya pada dirimu sendiri, mengapa Tuhan memberimu kesempatan untuk hidup, di kehidupanmu yang ketiga ini?"

Floretta tak menjawab.

Matanya membelalak perlahan, tubuhnya menegang, dan pikirannya mulai melayang pada ingatan-ingatan yang samar tentang nyawa, kematian, dan kegelapan panjang sebelum ia terlahir kembali.

Rosella melangkah pelan, nadanya semakin sinis. "Meskipun dulu kau termasuk salah satu dari manusia paling menjijikkan yang pernah kulihat... setidaknya sekarang kau sudah bertobat." Senyum mengejek tersungging di sudut bibir Rosella.

Haru HaruCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang