Krax

13.6K 888 12
                                        

Jared sedikit terhuyung saat dokter mengatakan bahwa Floretta dalam keadaan koma dan telah dipindahkan ke ruang ICU.
Kata-kata itu menghantamnya seperti pukulan telak di dada. Kakinya melemas, dan ia harus meraih sisi bangku terdekat untuk menjaga keseimbangannya.

"Kondisinya kritis," lanjut dokter dengan nada tenang namun berat. "Pasien mengalami cedera otak traumatis akibat benturan keras di kepala. Selain itu, ada beberapa tulang yang patah — lengan kiri, tulang rusuk, dan pergelangan kakinya."

Setiap kata terasa seperti pisau yang menusuk pelan-pelan. Jared hanya bisa mengangguk, meskipun pikirannya kabur. Suara-suara di sekitar terdengar seperti menjauh.

Ia mencoba membayangkan Floretta yang ceria, penuh semangat, dengan senyum yang selalu berhasil menenangkan pikirannya kini terbaring tak berdaya, dikelilingi mesin dan selang. Napasnya tersendat.

"Kami akan melakukan pemantauan intensif selama 24 jam pertama," tambah dokter, "karena kondisi cedera otaknya sangat menentukan apakah ia bisa pulih atau tidak."

Jared menggenggam erat ponselnya, seolah benda itu bisa memberinya kekuatan. Tapi yang ada hanyalah rasa takut, penyesalan, dan doa-doa yang belum sempat ia ucapkan.

Alexander yang berdiri tak jauh dari Jared, ikut mendengar setiap kata yang keluar dari mulut dokter. Rasanya seperti ada seember air es yang disiramkan langsung ke kepalanya. Nafasnya tercekat, tubuhnya kaku, dan detik berikutnya ia jatuh terduduk di kursi tunggu dengan wajah pucat pasi.

Kata “koma” terus menggema di kepalanya, bergema seperti gema kosong dalam ruang hampa. Ia menatap lurus ke depan, tetapi tak benar-benar melihat apa-apa. Pandangannya kabur, matanya terasa perih bukan hanya karena takut, tapi juga karena rasa bersalah yang menghantui.

Tulang patah. Cedera otak. ICU.

Kata-kata itu tak lagi terdengar seperti istilah medis bagi Alexander, semuanya terdengar seperti vonis yang tak bisa diubah.

Tangannya gemetar saat ia menyentuh dada, berusaha memastikan jantungnya masih berdetak. Rasanya seperti baru saja kehilangan arah dalam sekejap. Ia ingin berbicara, ingin menanyakan sesuatu, tapi mulutnya tak bisa membentuk satu kata pun. Hanya suara detak jam rumah sakit dan tarikan napas berat dari Jared yang menemaninya dalam keheningan yang menyesakkan.

Dalam pikirannya, wajah Floretta muncul tersenyum, tertawa, memeluk. Semua kenangan itu terasa seperti cambuk, menyakitkan dan terlalu cepat berlalu.

Ketika Dean dan Vivi tiba di rumah sakit, wajah mereka penuh kecemasan. Vivi menggenggam erat tangan Dean sepanjang jalan, langkah mereka tergesa, seolah berharap waktu bisa mereka kejar. Begitu melihat Alexander duduk dengan wajah muram dan mata merah, Vivi langsung bertanya dengan suara gemetar,
“Bagaimana keadaan Floretta?”

Alexander berdiri perlahan. Bahunya tampak berat, seolah menanggung beban dunia. Ia menatap Vivi, lalu ke Dean, dan akhirnya berkata dengan suara serak,
“Dia koma… sekarang di ICU. Cedera otak cukup parah, beberapa tulang patah. Dokter bilang 24 jam ke depan sangat krusial…”

Vivi menutup mulutnya dengan tangan, tubuhnya menggigil sebelum akhirnya ia roboh dalam pelukan Dean. Tangisnya pecah, isakannya terdengar jelas di lorong yang sunyi. Dean memeluknya erat, menepuk bahunya pelan sambil menunduk tak mampu menyembunyikan sorot mata yang dipenuhi kepedihan.

Alexander mengalihkan pandangan. Hatinya semakin sesak melihat reaksi mereka. Ia ingin tetap di sana, menunggu, berjaga tapi ada sesuatu yang lebih mendesak, lebih penting.

Dengan suara pelan namun tegas, Alexander berkata,
“Aku harus pergi. Ada hal yang harus aku selesaikan…"
Ia menatap Dean lurus, matanya tajam namun penuh kepercayaan.
“Tolong jaga Paman dan Floretta. Pastikan mereka tidak sendirian.”

Haru HaruCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang