Dibully karena tidak mempunyai kekasih sudah menjadi makanan sehari-hari Kunti, tetapi bukan 'Kuntilanak'. Gadis itu bernama Kuntiana, orang-orang juga sering meledeknya dengan memberi panggilan 'Mbak Kunti'.
"Halo, Mbak Kunti! Mas Pocong-nya ke mana?"
"Mbak Kunti kok sendirian aja? Oh iya ... gue lupa, Mbak Kunti 'kan jomblo."
"Pantes sih jomblo, orang muka sama body-nya aja jelek. Mana ada yang mau sama lo. Apalagi, nama lo aneh. Bilangin sama orang tua lo, kalau kasih nama itu yang bagusan dikit!"
Perkataan dari teman-temannya terus terngiang di kepala hingga dia mengacak rambut sebahunya dengan frustrasi. Gadis itu merasa tidak pernah berbuat salah pada mereka, tetapi mengapa mereka berlaku seperti itu padanya?
"Perasaan ... gue jomblo pun gak ngerugiin mereka, tapi kenapa mereka yang repot sih?"
Ketika gadis itu sibuk menggerutu di kelas seorang diri, tiba-tiba di belakang terdengar suara kursi terjatuh. Kuntiana tidak berniat menoleh. Kemudian, sebuah suara kembali terdengar. Kali ini seperti orang yang memukul-mukul meja dengan berirama.
"Tiana, jangan marah-marah ... takut nanti lekas tua ...."
Akhirnya nyanyian itulah yang berhasil membuat Kuntiana menoleh. Mata cokelatnya menemukan pemuda tampan dengan wajah pucat pasi sedang tersenyum ke arahnya. Bukannya kaget, gadis itu malah menggelengkan kepala.
Pemuda tersebut kemudian mendekat ke arahnya dengan kedua tangan di simpan di belakang. Setibanya di samping Kuntiana, ia pun menyodorkan sebuah ice cream.
Kuntiana menaikkan sebelah alis."Dapet dari mana nih? Bukan dari kuburan 'kan?"
"Bukanlah. Mana ada di kuburan yang jualan ice cream," kekehnya.
Walaupun jomblo, tetapi Kuntiana memiliki seseorang yang begitu perhatian. Ya, perhatian dari pemuda berpakaian serba putih yang kini duduk di sampingnya. Pemuda bernama Bian yang entah muncul dari mana, karena dia selalu muncul tiba-tiba seperti barusan. Setiap Kuntiana bertanya tentang identitas Bian, Bian selalu berkata 'identitas aku gak penting. Yang penting itu, aku selalu ada buat kamu'. Yang jelas, mereka dari dunia yang berbeda.
Bian tersenyum, lalu mengacak gemas rambut Kuntiana ketika melihat gadis itu memakan ice cream dengan belepotan.
"Tiana!"
"Heem," dehemnya tanpa menoleh.
Sepertinya Bian harus mengatakan kebeneran sekarang, mereka tidak bisa terus seperti ini yang nantinya akan menyakiti hati masing-masing. Walaupun, setelah pernyataannya ini pun tetap akan menyakiti.
"Aku bakal jawab, pertanyaan kamu yang selama ini belum aku jawab."
Penuturan Bian kini berhasil membuat Kuntiana menoleh.
"Kita ini satu sekolah, Na. Aku kenal kenal kamu, tapi kamu gak kenal aku."
Baru awalan saja, perkataan Bian sudah membuat Kuntiana tersentak. Jika saja yang dinikmatinya sekarang adalah bakso, bisa saja dia tersedak.
"Aku anak IPS, sedangkan kamu anak IPA. Jadi, pantes aja kamu gak kenal aku. Apalagi, aku cuma murid biasa. Kamu pasti tanya, kenapa aku bisa kenal kamu. Karena dari kelas sepuluh, aku menjadi pengagum rahasia kamu."
Lagi-lagi Kuntiana dibuat terkejut.
"Aku gak bisa kayak yang lain, jadi pengagum rahasia yang ngasih surat, cokelat, bunga, dan lain-lain. Aku cuma bisa melihat kamu dari kejauhan. Emang gak gentle banget aku ini," kekehnya.
"Kamu inget gak, ada anak yang namanya Darrel dari jurusan IPS meninggal waktu naik ke kelas dua belas?"
Kuntiana berusaha mengingat, kemudian dia mengangguk.
"Itu aku. Nama asli aku emang Darrel, sedangkan nama yang sekarang itu memiliki arti rahasia. Dulu aku punya penyakit sampai dokter memvonis hidupku gak lama lagi. Dengan penyakit ini, aku jadi gak berani deketin kamu. Aku gak mau nyakitin kamu dengan membuat kamu merasa kehilangan nantinya. Tapi sekarang kita udah beda alam, aku malah berani deketin kamu. Padahal tetep aja, kita gak akan bisa bersama."
Ya, Kuntiana ingat bahwa ada anak dari jurusan IPS yang meninggal. Namun, Kuntiana tidak kenal jadi tidak mencari tahu. Dia tidak pernah menyangka orang itu adalah pemuda yang sedang duduk dengannya saat ini. Ia juga tidak pernah menyangka ada yang mencintainya. Jika saja Kuntiana mempunyai mesin waktu, dia ingin kembali ke masa Bian alias Darrel masih hidup agar mereka bisa bersama dengan dunia yang sama.
Tangan dingin Bian menggenggam tangan kiri Kuntiana."Jadi, kita sampai di sini aja! Aku gak mau semakin menyakiti kamu. Kamu berhak bahagia bersama orang yang satu alam denganmu."
Ice cream di tangan Kuntiana mencair, bersamaan dengan air matanya yang mengalir.
***
Cermin karya Tiaratrii22
KAMU SEDANG MEMBACA
Cukup Disimpan
Historia CortaBerisi kumpulan cerita mini dan cerita pendek berbagai genre karya para member.
