Musafir Sepeda

6 1 0
                                        

Satu kata untuk Ayahku, 'tega'.

Jahat sekali beliau meninggalkan aku dan kakakku untuk mudik duluan ke kampung nenek. Alasannya, karena aku masih menghadapi ujian sampai H-3 Idul Fitri, dan Kakek sudah memaksa Ayah dan Bunda segera mengunjungi kampung.

Rentetan pertanyaan protes tersusun di otakku. Kenapa tidak menunggu sampai ujianku selesai baru melaksanakan mudik? Kenapa harus terburu-buru? Bagaimana aku dan kakakku bisa menyusul mereka nanti, sedangkan kampung kakek dan kota tempat aku tinggal berjarak sangat jauh? Mengapa juga Ujian Akhir harus saat Ramadhan, bukannya setelah Idul Fitri?!

Ketika aku menelepon, Ayah malah berkata, "Kalau nunggu kamu, nanti malah kejebak macet di jalan."

Ayah macam apa itu?! Bunda juga tidak protes sama sekali. Kakakku malah memintaku fokus pada Ujian Sekolah alih-alih memikirkan mudik. Hei, bagaimana aku bisa fokus jika aku khawatir akan menjalani Idul Fitri hanya berdua dengannya di sini?

Tapi, yang bisa kulakukan memang hanya belajar. Mencoba menghilangkan pemikiran-pemikiran di kepalaku, dan sampai di hari terakhir sekolah.

Pulang sekolah, sekitar pukul setengah sebelas, aku mendobrak pintu kamar kakakku, dan menjumpai dia yang sedang rebahan dengan rambut acak-acakan, kaos oblong, dan kolor gambar karakter kartun. Manusia kelas sebelas SMA ini benar-benar terlihat seperti pengangguran.

"Kakak, ayo mudik!"

Kakakku mengangguk, ia bangkit dari duduknya, dan menggaruk-garuk ketiak sambil menampilkan wajab malas. Aku yakin, cewek-cewek yang kagum padanya pasti risih jika melihatnya demikian.

"Habis dzuhur, ya," jawabnya enteng sementara telunjuknya mengarah pada dua tas di sudut kamar. "Barang punyamu sudah kakak kemas."

Aku mengernyit melihat tas yang kakakku maksud. Dua tas itu, memang punyaku dan kakakku, tapi ukuran keduanya seperti hanya diisi barang-barang yang ringan. Aku membuka tasku, dan hanya menemukan mukena, jaket, selimut, dan baju satu style.

"Heh Kak, kita mau mudik loh, pulang kampung, menginap paling nggak seminggu. Masak cuma bawa ini?" protesku, dan Kakakku tersenyum miring. Aku tahu, selalu ada yang tidak beres dari senyumannya yang seperti itu.

"Noya, memang kamu kuat nyepeda 100 kilometer sambil menggendong barang-barang berat?"

Aku melongo, terkejut tentu saja. "Nyepeda?" tanyaku, aku harap telingaku salah.

Tapi kakakku mengangguk. "Kita gak punya motor, Ayah cuma kasih uang seratus ribu. Nggak ada taksi yang bisa sampai pelosok rumah nenek. Kalau gak mau ikut, ya udah. Di sini aja sendirian sampai selesai lebaran."

Kashafa Hilal, namanya. Kata Bunda, artinya menampakkan hilal. Kakakku memang lahir saat pengumuman munculnya hilal. Dan dia selalu menampakkan hal-hal tak terduga dan menyebalkan seperti Ayah.

-----

Dua sepeda gunung sudah ke luar dari garasi. Masih bagus dan bersih karena tiap hari digunakan oleh Kakakku secara bergantian. Dia memang hobi mengendarai sepeda, dan hari ini ia menyeretku ke dalam hobinya, di bulan puasa.

"Kalau nggak kuat gimana, Kak? Ini puasa loh," rengekku, berharap agar Kakak mengurangi sedikit saja kadar gilanya.

"Kamu nggak yakin sama kuasa Allah?" Demikian responsnya, dan aku hanya bisa diam. Nggak asik, bawa-bawa Tuhan!

Cukup DisimpanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang