Mutia (Tia) adalah seorang ibu muda berusia 25 tahun yang memiliki satu orang anak.
ia selalu di anggap tidak bisa apa-apa dan hanya bergantung pada suaminya.
Pada suatu hari Tia harus bercerai dengan suaminya, karena suaminya berselingkuh dengan se...
Aku sedang menatap tajam, kearah dua manusia yang tengah berdiri di pelaminan itu.
Mereka mengumbar senyum kesemua orang yang hadir. Aku tidak bisa mendeskripsikan pasti seperti apa prasaan ku saat ini. Mengapa aku bisa berada di sini?, Apa yg sedang aku lakukan!
Dengan tangan kanan menggenggam buket uang senilai 500.000 Rupiah,yang dihiasi sedikit bunga-bungan cantik berwarna biru dan merah jambu. Dan tangan kiriku menggenggam totebage kecil berisi jam tangan cople.
"Dasar kaki bodoh!berani-berani nya melangkah ke tempat ini"
kata ku dalam hati.,memaki diriku sendiri. Hingga, aku dikagetkan oleh tepukan di pundak ku dari arah belakang.
" Tia,,,, datang juga akhirnya,ditungguin dari tadi." Ucap seorang ibu-ibu berbadan sedikit gemuk yg sangat aku kenal.
" Iyah budhe,baru sampe. Jalanan macet." Jawabku sambil tersenyum kaku, aku meraih tangan nya dan mencium nya.
" Ayo,,udah kasih selamat belum sama Ibran dan istri nya?" Ucap nya sambil mengarahkan tangan ke arah pengantin baru di pelaminan yang sangat berbahagia itu.
" Iyah budhe,ini Tia mau kesana. Tapi gio kemana yah budhe? Dari tadi Tia cari gak ada" tanyaku sambil melihat-lihat sekeliling
"Gio ada,,sama ibu mertua mu. Eh, maksudnya... Mantan ibu mertua mu,di dalam. " ucap bude buru-buru menutup mulut dengan tangan nya.
" Tia masih mengganggap ibu seperti dulu,ko budhe. Gak ada yang berubah, selain setatus Tia dengan Mas Ibran"jawabku sambil sedikit menunduk.
.. Cepet-cepet nyusul Ibran..! Biar kamu ndak kelamaan sendiri nya.." tambah budhe, sebelum beranjak.
Kata-kata yang tidak membuat ku senang. Kenapa dia harus herbicara seperti itu? Membuatku semakin muak saja dengan keluarga ini.
Aku berjalan menuju pelaminan. Dari jauh keduanya telah menatapku dengan senyuman. Entah,senyuman apa yang sedang mereka tunjukan. Namun, aku sangat kesal melihatnya. Seakan mereka sedang menertawakan ku dan berkata..
"lihat, kita sedang berbahagia. Sedangkan kamu,terlihat begitu menyedihkan!"
Aku berusaha menunjukan senyum terbaikku.
Dengan mengenakan hils setinggi 5 cm, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek. Kebaya berwarna merah jambu ber lengan pendek, yang pas dengan tubuhku. Namun,masih sangat nyaman di gunakan.
Diselaraskan dengan rok batik bercorak merah jambu, sebawah lutut. Dan rambut terurai yang aku curlie, hanya sampai bagian tengah kebawah. Tak lupa tas mungil namun tetap terlihat elegan,dan riasan yg menawan. Su Pidah cukup membuat ku percaya diri. Hadir di pesta pernikahan mantan suamiku itu.
Akupun melangkahkan kakiku ke pelaminan dengan senyum yang merekah di bibirku. Kemudian menyalami kedua mempelai yang sedang berbahagia itu. ...............
A/N:
Hai temen-temen semua 👋🏻🥰 Aku mau mengucapkan, Terimakasih banyak untuk kalian semua, yang masih menantikan cerita Mutia&Bimasena 🤗
Hari ini aku mau revisi beberapa tulisan aku yang berantakan, supaya kalian bisa lebih nyaman membaca ceritanya.
Aku juga mau kasih tau kalian, Kalo aku juga lagi nulis cerita keduaku yang judulnya
“PERFACT AND UGLY"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Yang bisa kalian baca di Wattpad juga, semoga kalian sukadengan cerita ke duaku ini,dan dapat di terima dengan baik 🥰
Seperti biasa,aku minta bantuan temen-temen semua, untuk kasih vote 🌟 dan komen nya. Karena dukungan kalian sangat berarti buat aku 🤗