TIA POV :
Menurut tante itu prinsip dalam hidup nya,yang ia buat.
Tapi cinta,,, tidak akan ada orang yang bisa 'membuat' nya agar jatuh pada siapa.
Begitupun dengan Bima maupun kamu.
Apa kamu yakin dengan rasa sakit yang menurutmu besar itu..
Membuat mu sudah tidak mencintainya?
Perkataan tante Ros tempo hari terus terngiang-ngiang di kepalaku.
Ada perasaan yang berkecamuk di dalam hati ku saat memikir kannya.
Kemudian membawaku pergi lebih jauh lagi ke masa lalu bersama Mas Ibran.
Saat ia berselingkuh dengan Nasya.
Dan sekarang ada Karisa di pernikahan ku dengan Mas Bima.
Seolah-olah takdir tidak mengizinkan ku memiliki pernikahan yang benar-benar happy anding.
Mengapa selalu ada kehadiran orang ketiga?
Mengapa selalu ada saja yang membuat ku merasa tak berharga sebagai seorang istri?!.
Aku hanya ingin mencintai suamiku tanpa ada perasaan bahwa aku mencintainya sendirian.
Tanpa ada perasaan aku selalu terkalahkan oleh prempuan lain di luaran sana.
Tanpa ada banyak rasa khawatir yang selalu menghantuiku karena terus berprasangka buruk pada suamiku sendiri.
Tanpa aku harus merasa insecure pada wanita lain di luaran sana yang berusaha merebut suamiku.
Aku lelah dengan semua perasan itu!
Tok tok tok
Lamunan ku seketika pecah saat ada seseorang yang mengetuk pintu.
Aku berjalan meraih gagang pintu dengan perutku yang semakin membesar ini.
Kulihat dari jendela untuk memastikan siapa orang yang berada di luar sana.
Dia tersenyum kepadaku, senyuman yang sangat manis.
Yang selalu membuat jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya.
Aku membukaan pintu.
Dia menyodorkan seikat bunga Matahari kepadaku sambil terus tersenyum.
Sangat manis sekali, rasanya ingin jatuh di pelukaan nya.
Memeluk nya erat dan tak ingin kulepas.
Namun tentu saja itu hanya sebuah khayalanku.
Kenyataan nya aku terus bersikap acuh kepada laki-laki yang masih menjadi suamiku ini.
Aku meraih buket bunga yang cantik itu dengan ekspresi datar.
"Untuk besok dan seterus nya tidak perlu membawakan ku bunga setiap hari!
Bawalah beberapa hari saja dalam seminggu"
Ucapku sambil mempersilakan nya masuk
"Apa kamu sudah tidak menyukai nya?"
Ucapnya
"Bukan,,,.
Hanya saja ini akan menumpuk, jika aku menerimanya setiap hari.
Aku tidak mungkin membuang bunga yang belum kering.
Jadi, bawalah saat bunga di fas itu sudah kering"
Ucapku masih datar
"Baiklah"
Ucapnya singkat
Kami berjalan ke ruang tamu. aku berjalan di depannya, berjarak sekitar tiga langkah mendahului.
"Aku lapar" Ucapnya
"Aku juga,
Aku tidak masak hari ini"
Ucapku masih datar
"Apa kamu membuat nya kelaparan?"
Ucapnya dengan nada suara yang terdengar takut
"Aku berkata tidak masak, bukan tidak makan!
Tenanglah,,,
Anak mu baik-baik saja di dalam sini"
Ucapke ketus
Aku duduk di sofa yang empuk dengan sedikit kesulitan karena perutku yang besar ini.
Ia berusaha meraih ku untuk membantu, namun aku menepisnya dengan gestur yang sedikit menghindar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mutia & Bimasena
RomanceMutia (Tia) adalah seorang ibu muda berusia 25 tahun yang memiliki satu orang anak. ia selalu di anggap tidak bisa apa-apa dan hanya bergantung pada suaminya. Pada suatu hari Tia harus bercerai dengan suaminya, karena suaminya berselingkuh dengan se...
