BIMA POV :
Aku melempar ransel yang ku bawa ke sembarang arah di ruang tamu,rumah-ku.
Berjalan menuju kamarku lagi,
Merebahkan badanku di kasur yang ku beli cukup mahal dari hasil gaji-ku sendiri.
Kasur yang empuk lembut dan nyaman. Sebanding dengan harga yang ku keluarkan untuk mendapatkan nya.
Wanita itu....
Apakah dia sengaja melakukan nya?
Apakah semua adalah rencana nya?
Apa dia sedang berusaha membuat ku masuk dalam perangkap nya?
Begitukah cara seorang janda mendapatkan laki-laki yang dia inginkan?
Apakah seperti itu cara yang di lakukan wanita itu pada ayah,sehingga ia meninggalkan ibu?
Benar-benar cara yang murahan!
Jika benar,
Dia bukanlah satu-satunya wanita yang berusaha untuk menaklukan hati-ku.
Tapi caranya adalah yang paling ku benci dari wanita yang lain,yang berusaha mendapatkan perhatian ku.
Jikaku pikir..
Banyak wanita yang lebih cantik darinya berusaha membuatku takluk.
Tapi tidak ada satupun yang berhasil.
Aku!
Bimasena!
Tak akan mudah di taklukan oleh wanita manapun yang tidak aku suka.
Apalagi seorang janda murahan seperti Mutia!
Apa yang dia laku kan barusan itu sangat menjijikan.
Aku yakin dia,sengaja melakukan semua itu.
Membuat ku berpapasan dengan mantan suami nya,
Memintaku membelikan pakaian dalam.
Dan yang tadi itu!
Dia sengaja memamerkan 'itu' kepada ku?
Huh..!
Aku mendengus mengingat nya.
Dia pikir aku akan masuk dalam perangkapnya?
Dia sama saja dengan semua wanita yang ku temui.
Yang berusaha mencari perhatian ku!
Dia sama sekali bukan tipe ku.
Aku tidak akan masuk prangkap nya.
Janda itu!
.......
TIA POV :
Hari ini seperti biasa aku bersiap masuk kerja, setelah 4 hari aku di rawat inap.
Waktu istirahat ku cukup panjang, hingga aku bersemangat lagi untuk bekerja.
Gio sudah di jemput oleh Mas Ibran pada minggu sore.
Aku cukup senang, Pak Bimasena pada malam itu tak berbicara apapun.
Dan sepertinya SP ku sudah ia cabut.
Aku memasuki tempat kerja ku tepat waktu.
Ku lihat Bu Fatma mendekat kearah ku.
"Kamu sudah sehat, Tia?" Tanya Bu Fatma
"Alhamdulillah Bu, sudah membaik" jawabku dengan senyuman.
"Ada kabar bagus dan kabar buruk untuk kamu" ucap Bu Fatma
Jantungku berdetak kencang lagi.
"Kabar baik nya kamu tidak jadi di pecat.
Dan kabar buruk nya,kamu di mutasi ke departemen sewing"
ucap Bu Fatma
Mata ku membelalak kaget.
"Kenapa seperti itu,Bu?"
Tanyaku,mulai gelisah
"Saya sudah berusaha memperjuang kan kamu, Tia. Namun pak Bimasena bersikeras tetap memberi mu SP.
Pada akhirnya dia memberikan pilihan untuk kamu.
Bekerja di sewing atau tidak sama sekali"
Jelas Bu Fatma
Aku melamun sebentar, ternyata laki-laki itu tak sepenuh nya berbaik hati.
"Tia gak bisa jait bu" ucapku mulai gelisah
"Pak Bima memmberi kamu waktu 3 bulan.
Kamu di training lagi.
Jika 3 bulan kamu tidak bisa jahit juga maka kontrak mu akan berakhir.
Saya sudah berusaha semempu saya, Tia.
Untuk mempertahan kan kamu pada Pak Bimasena.
Hanya ini yang saya bisa."
KAMU SEDANG MEMBACA
Mutia & Bimasena
RomantizmMutia (Tia) adalah seorang ibu muda berusia 25 tahun yang memiliki satu orang anak. ia selalu di anggap tidak bisa apa-apa dan hanya bergantung pada suaminya. Pada suatu hari Tia harus bercerai dengan suaminya, karena suaminya berselingkuh dengan se...
