19. Reyhan yang aneh

1 0 0
                                        

"Kamu serius, besok udah mau masuk sekolah?" Tanya Ayah kepadaku. Aku tentu mengangguk meresponnya.

"Radita udah sehat kok, Yah." Ujarku meyakinkan lalu menyuap makananku.

Kami memang sedang makan malam bersama di meja makan. Tidak lama, Bibi datang mengantarkan susu untukku. Aku memang seperti diwajibkan untuk meminum susu dua kali sehari, saat sarapan dan setelah makan malam.

"Bi, sebentar," Ujarku di saat Bi Lilis hendak kembali.

"Iya, non?" Tanya Bi Lilis.

"Bibi inget gak, hape saya yang lama itu di mana ya?" Tanyaku kepada Bi Lilis. Sepertinya Ayah dan Mama terlihat heran kenapa tiba-tiba aku menanyakan ponsel lamaku.

"Kalau gak salah, masih di lemari yang ada di gudang, non. Coba nanti saya carikan." Ujar Bi Lilis.

"Iya, Bi, tolong ya? Makasih, Bi."

"Sama-sama, non." Bibi pun pamit pergi. Aku pun kembali di posisi awal ku, menyantap kembali makan malam ku.

"Kamu kenapa tiba-tiba nanyain hape lama kamu?" Tanya Mama penasaran.

"Jadi, teman Radita ada yang gak punya ponsel. Kalau misalkan hape lama Radita masih nyala, Radita mau kasih itu ke dia." Ujarku menjelaskan.

"Tumben kamu perhatian dan peka gitu sama orang lain?" Tanya Mama.

"Gak apa-apa dong, Ma. Justru itu hal yang bagus kalau Radita jadi lebih peduli sama orang lain. Apalagi ini kan sama temannya." Ujar Ayah membelaku.

"Ya iya, sih. Cuma Mama pengen tahu aja penyebabnya. Tapi gak apa-apa, selagi itu berdampak baik." Mama tersenyum kepadaku, aku pun membalasnya dengan senyuman juga.

Sebenarnya, aku bukannya tidak peduli dengan orang lain. Hanya saja aku terlalu bodoamat saking tidak inginnya ikut campur urusan orang lain. Baru kali ini nih aku terjun cukup jauh ke dalam dunianya Draven maupun Reyhan yang waktu itu kategorinya adalah 'orang lain'. Beda dengan Ririn dan Syifa yang mereka berdua bisa dibilang adalah temanku sejak kecil. Makanya saat diawal, aku banyak ngeluhnya karena itu benar-benar membuatku merasa tidak nyaman dan bertolak belakang dengan karakteristik diriku sendiri yang tentu saja aku sangat mengenalnya.

Drrrtt drrrt

Aku menoleh kepada ponselku yang ada disebelah piring. Aku tersenyum kecil setelah melihat nama kontak yang tertera disana. Aku segera menaruh garpu dan sendok di atas piring itu, lalu mengambil ponselku.

"Yah, Ma, Radita ke kamar duluan, ya." Ujarku sambil mengambil segelas susu itu.

"Loh, emangnya makan kamu udah selesai?" Tanya Mama.

"Udah, Ma...." Ujarku sambil berjalan pergi menuju kamarku dan membawa segelas susu itu.

{•••}

"Tadi disekolah, aku gak lihat kamu. Kamu ijin hari ini, ya?"

"Iya, tadi aku ijin, Rey."  Ujarku sambil menutup pintu kamar dengan sikut tangan, lalu berjalan menuju kasurku.

"Kamu masih sakit? Udah ke rumah sakit?" Ujarnya dibalik ponsel itu.

"Enggak, Rey. Aku cuma butuh istirahat aja. Lagi pula sekarang aku udah baik-baik aja kok." Ujarku sambil menaruh segelas susu itu di atas nakas, lalu aku duduk ditengah kasurku dengan bantal yang aku pangku.

"Berarti besok kamu udah mulai sekolah?" Tanyanya kembali. Aku mengiyakannya untuk merespon.

"Kalau kamu masih sakit, lebih baik kamu ijin lagi aja," Sarannya kepadaku.

Waktu ItuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang