"Gimana Lo bisa tahu kalo Reyhan angkatan ke-20?"
Aku melirik kepada Draven setelah ia berujar. Ia mulai kembali berjalan menghampiriku dengan terus menatapku tidak percaya. Draven menyentuh buku yang aku pegang, membuka buku itu dan berhenti di suatu halaman.
"Ini, kan? Reyhan yang Lo maksud?" Tanyanya sambil menunjuk suatu foto.
Aku mulai melirik ke arah yang jarinya tunjuk itu. Mataku melebar sekarang setelah mengetahui siapa yang ada di foto itu dan nama yang tepat berada di bawahnya.
Reyhan Radityaswara. Itu namanya. Dan wajah yang tertera di sana memanglah yang mempunyai nama itu sendiri. Itu memang benar Reyhan.
Mataku mulai meneteskan air mata kembali. Kenyataan macam apa ini? Mustahil. Tapi itulah adanya. Reyhan ternyata memang alumni dari sekolah ini. Namun kenyataan bahwa aku selalu menjalankan hari bersamanya jugalah bukan kebohongan.
Ada apa ini sebenarnya, kenapa tiba-tiba ia hadir di dalam hidupku? Apa ini alasannya kenapa aku selalu mengalami hal-hal yang aneh disaat mengenalnya? Tapi, memangnya ada kejadian seperti ini? Kalau adapun apa namanya? Dimensi waktu? Apa Reyhan datang kepadaku menggunakan dimensi waktu? Lalu, setelah itu apa yang ia lakukan terhadap waktu sampai-sampai ia bisa hadir di dalam waktuku?
Aku tahu sekarang mengapa penjaga perpustakaan selalu menganggapku melamun waktu itu, kenapa Ririn dan Syifa selalu bertanya kepadaku perihal aku sedang melihat siapa, dan kenapa seseorang yang baru saja masuk ke dalam bis waktu itu menyebut aku rakus, yang mungkin waktu itu ia tidak melihat siapapun di sebelahku. Apa mereka semua benar-benar tidak melihat Reyhan? Atau mereka tidak diperlihatkan oleh Reyhan? Kenapa hanya aku yang bisa melihatnya selama ini?
Kenapa ia seperti menghilang sekarang?!
"Sekarang, Lo percaya sama gue?" Ujar kembali Draven.
Aku menghela nafasku dengan air mata yang mengalir. Otakku terus berputar untuk mengetahui apa maksud dari semua ini. Tidak lama, Draven menutup dan mengambil buku itu dari tanganku.
"Sekarang gue mau tanya sama Lo. Gimana caranya Lo bisa kenal sama Reyhan bahkan tahu gue dulu juga ngebully dia?" Tanyanya yang sepertinya semakin penasaran itu. Aku terus menunduk.
"Rey sendiri yang bilang, Rav!" Ujarku lirih.
"Ketemu di mana?"
"Di sekolah!"
"Gak mungkin, Ra!"
"Tapi itu kenyataannya, Rav!" Aku mendongakkan kepalaku melihat kepadanya.
Sebenarnya aku mengatakan itu cukup emosional, namun aku menahannya karena mengingat peringatan penjaga perpustakaan. Melihat itu, Ririn menghampiriku dan berusaha menenangkan ku. Tidak lama dari itu, Syifa berdecak lalu menghampiri Ririn.
"Ayo, Rin masuk kelas, bentar lagi bel!" Ujar Syifa menarik lengan Ririn yang membuatnya menjauhkan tangannya dari pundakku.
"Duh, pelan-pelan dong, anjir!" Ujar Ririn yang semakin lama terdengar sayup-sayup. Syifa membawa Ririn keluar dari perpustakaan ini.
Aku kembali menunduk, melihat sikap Syifa yang begitu kecewa denganku membuatku kembali mengeluarkan air mata, tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Melihat itu, Draven menaruh kembali buku itu di tempat asalnya lalu memelukku untuk menenangkanku.
"Maafin gue, Ra."
Tidak lama dari Draven berujar, bel sekolah berbunyi. Ia melepas pelukannya lalu menyuruhku untuk mencoba tenang dan kembali ke kelas melanjutkan belajar. Ia memerintahkanku untuk fokus memperhatikan pembelajaran dan melupakan sejenak apa yang telah terjadi barusan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Waktu Itu
Ficțiune adolescențiBukankah setiap manusia mempunyai waktunya masing-masing? Bukankah setiap manusia mempunyai zamannya sendiri-sendiri? Bukankah pepatah mengatakan setiap orang ada masanya? Jadi, apa yang ia lakukan terhadap waktu sampai aku bisa mengenalnya? Mungkin...
