24. Tidak masuk akal!

1 0 0
                                        

Aku menatapnya heran, mataku benar-benar menatapnya dalam meneliti. Namun, Draven juga tidak kalah terlihat herannya. Kami seperti sama-sama kebingungan dengan pikiran kami masing-masing.

"Maksud, Lo apa?" Tanyaku menyipitkan mataku.

"Reyhan yang Lo maksud itu udah lama lulus, Ra!" Ujar Draven. Aku semakin mengerutkan alisku.

"Ya gak mungkin lah, orang setiap hari biasanya gue bareng dia terus kok. Jangan halusinasi deh, Rav!"

"Justru kamu yang halusinasi," Ujarnya tidak kalah denganku. "Gue gak tahu Lo kenal Reyhan dari mana, tapi yang jelas, kalo Lo nyari dia di sekolah gak bakal ada, karena dia udah alumni dari sekolah kita." Lanjutnya.

Aku menggeleng-gelengkan kepala tidak mengerti dengan semua ini. "Lo ngomong apa, sih?" Aku melangkah meninggalkannya.

Satu-satunya bukti untuk mengetahui semua ini siapa yang benar adalah dengan melihat buku tahunan. Ya, buku tahunan! Rav kembali mengikutiku, ia memanggil-manggilku namun aku tidak menghiraukannya.

Saat melewati kantin, ternyata Ririn dan Syifa ada di sana, ia melihatku dengan Draven karena tidak disengaja kami berpas-pasan.

"Loh, kenapa tuh, Rin?" Ujar Syifa kebingungan. Ia sedang membawa nampan yang di atasnya terdapat semangkuk bakso dan jus jeruk.

"Fa, ayo!" Ujar Ririn.

"Eh, tapi ini bakso gue gimana?"

"Udah taro sini dulu, lama Lo anjir makan mulu kerjaannya!" Ujar Ririn menaruh nampan yang dibawa Syifa di atas meja kantin itu.

"Ya, kalo gue gak makan, entar gue ma......"

"Sssttt... Berisik! udah ayo."

{•••}

"Ra, Lo mau ke mana....?" Ujar Draven, ia masih tidak capek-capeknya memanggilku.

Tidak lama aku langsung memasuki perpustakaan dan diikuti oleh Draven. Tanpa harus berlama-lama, aku langsung menuju ke meja resepsionis, menanyakan buku tahunan ada di rak sebelah mana. Penjaga perpustakaan itu tampak kebingungan dengan kehadiranku tiba-tiba. Ia menunjuk ragu ke suatu tempat.

Aku pun langsung berjalan menuju arah jari telunjuknya. Tidak lama setelah Draven juga mengikutiku, Ririn dan Syifa memasuki perpustakaan ini juga. Melihatku dengan Draven, mereka pun juga menghampiri.

Sesampainya di rak buku yang terdapat cukup banyak deretan buku tebal itu, aku mulai memilih buku tahunan angkatanku, yaitu angkatan ke 23. Aku mengeluarkan buku yang cukup terasa berat itu dari barisannya. Aku pun duduk di lantai lalu membukanya di sana.

Ririn dan Syifa tiba-tiba saja datang, ia sempat menoleh kepada Draven sebentar.

"Ra, ada apa?" Ujar Ririn. Namun aku tidak menjawabnya, aku terus fokus memeriksa setiap lembaran buku tebal itu.

Ririn dan Syifa ikut duduk disampingku, mereka seperti menemaniku di sini, walaupun mereka tidak benar-benar tahu sebenarnya apa yang aku cari.

Setelah beberapa menit berlalu, bahkan beberapa kali aku selalu memulainya dari bagian awal, tetap saja aku tidak menemukan foto dan nama Reyhan Radityaswara di sana. Entah dari jurusan IPA ataupun IPS.

Aku menutup lembaran terakhir dengan kenyataan pahit. Dadaku mulai terasa sesak, nafasku memburu khawatir, raut wajahku tidak karuan. Ririn memegangi pundakku.

"Ra, Lo kenapa? Sebenarnya ada apa?" Ujar Ririn.

"Ra, cerita dong. Ngeliat Lo kayak gini kita jadi khawatir tau gak?!" Ujar Syifa mengelus-elus punggungku.

Waktu ItuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang