29. Akhir

2 0 0
                                        

Aku melihat jam yang melingkar dipergelangan tanganku. Kenapa Draven belum kunjung datang juga? Aku menghela nafas, karena hampir satu jam aku menunggunya di restoran yang Draven kirim alamatnya lewat pesan di WhatsApp.

Tidak lama, tanganku meraih gelas berisikan es teh manis lalu meneguknya satu kali. Aku memang baru hanya memesan minuman karena ingin menunggu Draven datang terlebih dahulu, setelah itu aku akan langsung memesan makanan. Namun kenyataannya, sampai sekarang belum ada tanda-tanda kemunculannya.

Hal itu membuatku sedikit gelisah. Akhirnya aku meraih ponselku yang ada di atas meja, lalu mencari kontak Draven dan meneleponnya. Panggilannya memang sudah berdering, namun tidak biasanya Draven mengangkat telepon dariku selama ini. Walaupun pada akhirnya, ia pun mengangkat panggilan dariku.

"Rav, Lo di mana?"

Aku menunggu. Namun, belum ada jawaban juga darinya. Apa ada hal yang mengganggu pikirannya saat ini?

"Rav? Lo di mana? Jadi makan siang bareng, kan?" Tanyaku kembali.

"Sorry ya, Ra. Gue kayaknya gak bisa, deh. Tiba-tiba ada urusan mendadak." Akhirnya ia menjawab. Namun ada yang aneh dengan suaranya saat ini yang terdengar seperti bergetar.

"Tapi Lo gapapa, kan? Kok suara Lo bergetar gitu?"

Tidak lama, terdengar suara dehaman dari balik ponselku yang pastinya berasal dari Draven sendiri. Aku mulai sedikit mengerutkan alisku.

"gue gapapa, Ra. Cuma lagi sedikit flu aja." Ternyata memang ia sedang tidak begitu sehat.

"Ya udah, gapapa. Jangan lupa minum obat, ya, Rav. Gue tutup telponnya?!"

"Iya."

Aku pun mematikan panggilan. Semoga saja Rav memang benar-benar hanya flu biasa saja. Aku memanggil salah satu waiters di restoran ini lalu mulai memesan makanan untuk makan siang ku hari ini. Sayang sekali Draven tidak jadi datang. Padahal aku ingin cerita kepadanya, tentang kalau aku bertemu dengan Reyhan kembali namun ia seperti tidak mengenalku. Aku kembali menghela nafas saat mengingat kembali kejadian di kampus tadi.

Mau bagaimana lagi. Satu-satunya teman yang bisa aku ajak untuk menjadi tempat cerita secara langsung saat ini hanyalah Draven. Beda ceritanya lagi kalau ia sudah berangkat ke Belanda. Aku hanya berharap kalau dia masih lama untuk pergi ke sana dan kalau pun bisa tetap menetap di negara ini.

{•••}

Aku menuruni taksi yang baru saja aku tumpangi. Setelah makan siang sendiri di restoran itu dan pergi kumpul dengan teman kuliahku, entah kenapa aku malah kembali lagi ke kampus.

Tidak lama, aku melihat ke atas langit. Di atas sana hampir seluruhnya sudah dipenuhi dengan warna jingga. Langit senja hari ini cukup untuk menarik mata siapapun untuk berdecak kagum melihatnya.

Aku mulai melangkahkan kakiku berniat untuk pergi ke atas roof top gedung kampusku ini. Kalau bukan karena pintu roof top mall itu di kunci, mungkin aku akan lebih memilih untuk ke sana.

Karena bertemu Reyhan tadi siang, aku jadi terus memikirkannya. Bahkan dadaku menjadi sesak. Dan aku memilih habit-nya itu untuk menenangkan kegundahan yang sedang hadir di dalam diriku. Mungkin hanya sekedar untuk merenung; tetap memegang harapan, atau melupakan?

Aku mendorong pintu besi itu cukup mengeluarkan tenaga. Setelah melangkah masuk menginjakkan kaki di atap itu, angin langsung menyerbu seluruh tubuhku. Aku memejamkan mata. Menarik nafas dalam-dalam sembari berjalan masuk perlahan. Setelah sudah mencapai batasnya, aku menghembus nafas itu sekaligus dan memberhentikan langkah. Hati yang merasa sedikit tenang membuatku mengukir senyum tipis. Tidak lama, mataku mulai kembali terbuka.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 17, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Waktu ItuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang