27. Kembali berjalan

2 0 0
                                        

Ririn dan Syifa terus saja memandangiku heran. Kami bertiga sedang berjalan di koridor sekolah dengan masih menggendong tas ransel masing-masing hendak ke kelas.

"Ra....." Ujar Syifa.

"Hm?"

"Sejak kapan Lo suka pakai jepitan? Ada warna pink-nya pula?"

"Gak mungkin kan Lo beli dengan sengaja?" Kini Ririn yang bersuara.

Aku mengangguk, "iya, ini dari Reyhan."

Mereka berdua langsung menaikkan kedua alisnya.

"Gue gak nyangka Lo benar-benar ngalamin itu. Kok, bisa, ya ada kejadian kayak gitu?" Ujar Ririn.

"Tapi gue juga jadi penasaran. Kayak gimana, sih Reyhan itu? Sampai-sampai bisa buat Lo kayak gini. Lo pasti suka, kan sama Reyhan itu?!" Kini Syifa yang berujar.

Tiba-tiba saja Ririn tertawa sekilas, "dipikir-pikir keren juga anjir. Kayaknya, baru dia, ya?"

Aku hanya tertawa kecil tidak menjawab banyak dengan ocehan mereka. Tidak lama dari itu, kami melihat Draven dari kejauhan. Ia pun sepertinya juga melihat kami. Tidak. Dia melihatku dengan alis yang di kerutkan. Saat sudah semakin dekat, ia mencegah kami yang akhirnya memberhentikan langkah. Alisnya masih mengkerut namun mulai mengukir senyum kecil.

"Gue baru tahu kalau Lo suka pakai jepitan. Cantik."

Ririn dan Syifa saling tatap dengan senyuman jahil mendengar perkataan dari Draven.

"Itu dari Reyhan." Ujar Syifa dengan polosnya.

Draven tampak bersikeras untuk tidak menghilangkan senyumannya. "Oh...."

"Ra, kita duluan, ya!" Ujar Ririn menarik lengan Syifa. Mereka pun pergi dengan terburu-buru.

"Ra, ada yang mau gue omongin," Draven melihat jam tangannya. "Nanti, Lo samperin gue, ya di warung Mbak Eti?"

Aku mengangguk meresponnya. Kira-kira, Draven mau membahas apa, ya?

{•••}

Aku melihat sekeliling. Tidak ada teman-temannya Draven saat ini di warung Mbak Eti. Tumben banget.

"Teman-teman Lo mana?" Ujarku memulai percakapan.

"Gak usah dipikirin." Ia sedang menggenggam gelas berisikan teh itu.

"Jadi, Lo mau omongin apa?"

Draven menaruh gelas itu. "Lulus SMA nanti, entah kapan tepatnya, gue bakal menetap di Belanda, Ra."

Aku mulai menatapnya serius. "Kenapa?"

"Lo tau kan Mama udah cerai sama laki-laki itu. Keluarga Mama sekarang ini gak ada yang tinggal di Jakarta, semuanya udah pada menetap di sana. Makanya Mama mau bawa gue untuk tinggal di sana juga."

Aku terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Namun tidak lama, Draven kembali berujar.

"Tapi sebelum itu....." Ia menunjukkan sebuah brosur sebuah universitas negeri di Jakarta. "Gue mau Lo kuliah di tempat ini, ya."

Aku mendengus, "Rav, kita saat ini lagi bahas Lo, bukan bahas gue!"

"Gue tahu, Ra. Anggap aja ini sebagai permintaan terakhir gue sebelum gue pergi nanti. Ya?"

Aku sempat terdiam sebentar, sebelum akhirnya kembali berujar. "Kenapa Lo mau banget gue kuliah di sana? Bukannya seharusnya, Lo ajak gue ke Belanda juga?"

Draven terdiam sekarang, namun tidak lama ia mengukir senyum. "Gue suka sama Lo, Ra. Gue juga tahu di hati Lo cuma ada Reyhan. Tapi tetap aja rasanya berat buat gue ninggalin tempat ini. Bagaimanapun juga, gue lakuin ini karena gue sayang sama Lo."

Waktu ItuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang