28. Kehidupan baru

0 0 0
                                        

Duk

"Eh, sorry sorry." Ujar salah satu mahasiswi yang tidak sengaja menabrak ku. Sepertinya ia sedang bermain-main dengan pria yang ada di depannya.

Mahasiswi itu kembali menatap pria yang sepertinya juga mahasiswa kampus ini, "Lo, sih. Balikin buku gue!" Ia menyodorkan tangan.

Melihat itu, pria yang mungkin temannya itu berjalan menghampiri gadis ini dan memberikan buku milik gadis itu dengan wajah cemberut.

"Maaf." Ujar pria itu.

Mahasiswi itu mengambil bukunya dengan jengkel. Ia kembali menatapku. "Sekali lagi maaf, ya."

Aku mengukir senyum tipis meresponnya lalu kembali melanjutkan jalanku. Untung saja buku yang sedang aku peluk ini tidak sampai jatuh berserakan di lantai. Aku berjalan sembari melihat-lihat pemandangan yang aku dapatkan saat ini. Sekelompok mahasiswa yang sedang membaca buku di sebuah tiang koridor gedung, sekelompok mahasiswi yang sedang saling berbagi canda tawa di salah satu kursi panjang, bahkan ada juga yang sepertiku yang hanya berlalu-lalang di salah satu koridor kampus.

Seperti yang kalian tahu saat ini, aku sedang menjalankan masa kuliahku di universitas negeri di Jakarta yang dipilih oleh Draven untukku. Kampus yang Draven pilih untukku ini sebagai permintaan terakhirnya ternyata cukup populer. Tidak sedikit orang yang ingin melanjutkan pendidikannya di universitas ini. Namun, Untung saja aku bisa lolos dan akhirnya aku menjalankan kehidupan baruku disini sekarang.

Kalau Draven sendiri akan menetap di Belanda nantinya, Ririn dan Syifa juga sudah mempunyai jalannya masing-masing. Ririn dikirim orang tuanya untuk berkuliah di luar negeri, sedangkan Syifa sendiri adalah melanjutkan pendidikannya di salah satu universitas swasta di Bandung, tempat dari keluarga ibunya. Pada akhirnya dugaanku benar, justru setelah lulus sekolah menengah jarak kami malah jadi jauh, dan tidak akan sesering dulu untuk bersua sapa secara langsung walaupun kami masih bisa bertemu lewat video call. Tetapi tetap saja kami mengharapkan hal yang sama untuk bisa saling tatap muka secara langsung walaupun sekarang, itu akan jarang sekali terjadi.

Tidak lama ponselku berdering, aku langsung meraihnya dari saku celanaku. Itu Draven. Lantas, aku langsung mengangkatnya.

"Halo?"

"Ra, hari ini gue mau ajak Lo makan siang bareng. Mau, ya?!" Ujar Draven dibalik ponsel itu.

"Okey."

"Lokasinya nanti gue Sherlock di WhatsApp, okey?"

"Okey."

"Kalau gitu, sampai jumpa nanti."

Tut

Draven menutup panggilannya. Aku kembali menyimpan ponselku ke dalam saku celana, lalu mempercepat langkahku menuju kelas karena saat ini aku ada mata kuliah yang harus aku ambil.

{•••}

Dosen dengan pelajaran yang sudah ia kuasai itu sedang menjelaskan ilmu di bidangnya itu. Saat ini ia sedang menjelaskan tentang ruang dan waktu. Namun, tiba-tiba saja ia menyinggung tentang dimensi waktu sekaligus menyampaikan pendapat dan teori konspirasi dari beberapa ilmuwan.

Aku yang mengingat kejadian yang pernah aku alami sebelumnya pun mengangkat tangan hendak bertanya. Dosen itu mulai memandangku dan mempersilahkanku untuk bersuara.

"Bagaimana para ilmuwan itu bisa menemukan teori-teori tersebut? Apa beliau pernah mengalami atau melihat fenomenanya secara langsung?"

Dosen itu tersenyum mendengar pertanyaan yang aku lontarkan.

"Ada sebuah rumor yang usianya cukup lama. Rumor itu menceritakan seorang polisi di New York yang menemukan seorang pria yang memakai baju berdesain jaman dahulu, dengan kamera kuno yang talinya ia kalung kan berjalan di pinggir kota terlihat kebingungan. Saat didatangi, pria itu mengaku kalau ini bukan jamannya. Jaman dimana yang pria itu tahu New York belum ada gedung-gedung tinggi. Karena merasa mencurigakan, polisi itu membawa pria itu ke kantor polisi. Setelah beberapa hari diselidiki, tiba-tiba saja pria itu tidak ada di tempatnya. Dari informasi yang didapat ia mempunyai seorang istri, mereka tinggal di salah satu daerah yang ada di New York. Disaat mengunjungi tempat tinggalnya, ada seorang wanita tua yang mengaku istrinya pria tersebut. Setelah di tanya ternyata suaminya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Namun, suaminya selalu bercerita tentang masa depan kepadanya saat masih muda, menceritakan tentang masa dimana New York penuh dengan gedung-gedung tinggi." Dosen itu bercerita panjang lebar tentang pengetahuan yang ia dapatkan.

Waktu ItuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang