"Dulu, dia juga seperti kamu."
Aku sedikit terkejut karena tiba-tiba saja ada yang berbicara denganku. Aku menoleh, penjaga perpustakaan itu sudah ada di hadapanku. Tidak lama, beliau duduk di tempat di mana aku selalu duduki saat di perpustakaan sekolah. Tangannya mengatup di atas meja.
"Namanya Reyhan, dia sering duduk di kursi itu memandang keluar jendela, persis seperti yang kamu lakukan tadi." Ujarnya kembali yang membuatku mulai fokus mendengarkan ceritanya.
"Kadang, dia juga sering seperti bicara sendiri di sini. Selama ini saya juga sering memperhatikan kamu. Melihat kamu juga selalu berbicara sendiri di kursi yang sekarang ini saya duduki, membuat saya teringat dengan dia."
Penjaga perpustakaan itu mulai menyipitkan matanya namun juga mengukir senyum kecil. "Anehnya, Reyhan juga melakukan hal yang sama dengan kamu. Waktu itu ia mencari seseorang di semua buku tahunan yang pernah ada. Saya kira dia mau ngapain, setelah saya samperin ternyata ia mencari seorang gadis yang namanya......." Beliau tampak berpikir untuk mengingat sesuatu.
"Apa namanya, Radita?" Ujarku akhirnya.
"Ah, iya. Tunggu, gimana kamu bisa tahu?"
Aku melirik nametag-ku di seragam. Penjaga perpustakaan itupun ikut melirik. Radita Ardilla. Ia terkejut bukan main melihat nama itu tertera di nametag milikku. Ia kembali memandangiku dengan mata yang melebar.
"K-kamu......?" Beliau terlihat menjadi gagap.
"Iya, saya Radita. Dan waktu itu saat saya mencari-cari sesuatu di buku tahunan, itu saya mencari Reyhan. Reyhan Radityaswara..... Itu, kan nama lengkapnya, Bu?"
Sekarang, penjaga perpustakaan itu juga mulai menyatukan kedua alisnya. Wajahnya terlihat tampak heran dan tidak percaya. "Kok......."
"Bu....saya mau balikin buku!" Terdengar suara dari arah resepsionis yang berhasil memotong perkataannya.
Beliau pun menoleh ke arah tempatnya sambil memastikan bahwa benar-benar ada seseorang di sana. Sebelum akhirnya bangkit, ia sempat kembali melihatku dengan ekspresi wajahnya yang tidak berubah. Ia pun akhirnya bangkit dari duduknya dan pergi untuk menghampiri siswa yang baru saja datang itu.
Aku tersenyum melihat penjaga perpustakaan itu, beliau seperti tidak sengaja menjadi saksi lain dari fenomena aneh ini. Kepalaku kembali menoleh menatap bunga verbena yang selalu Reyhan tatap. Aku baru sadar bahwa bunganya memang seindah itu. Pantas saja Reyhan menyukainya selain dari arti dan makna dalam bunga itu sendiri.
Tiba-tiba saja aku teringat perkataan penjaga perpustakaan itu barusan. Ternyata kamu juga mengalami hal yang sama seperti aku saat ini, jauh sebelum aku juga mengalaminya, Rey. Ternyata ini juga diluar kendalimu sendiri. Aku sempat berpikir bahwa ini perbuatanmu, tapi ternyata semesta yang membuat hal yang tidak pernah manusia duga sebelumnya.
Aku juga baru sadar saat di mana aku masuk ke sekolah ini dan ingin melaksanakan kerja kelompok waktu itu. Guru yang memberi tugas melarang kami untuk mengerjakan tugas di perpustakaan ini, karena itu bisa saja mengganggu orang-orang yang tengah ada di sana waktu itu. Jadi, yang kamu bilang anak IPA sedang melakukan kerja kelompok di perpustakaan, itu waktu kapan?
Namun, aku tahu kalau memang tidak ada yang berbohong di sini. Draven, Ririn, Syifa, aku dan kamu mengatakan hal yang benar, tapi waktu yang seperti mempermainkan kami semua.
Pantas saja aku selalu merasa waktu itu bukanlah kali pertama aku mengenalmu. Aku selalu merasa, pertemuan itu bukanlah first time, kamu seperti tidak asing di kehidupanku. Sebenarnya, aku selalu berpikir apa kamu saudara yang sering bermain saat dulu kecil, atau sahabat kecil yang terpisah dan akhirnya dipertemukan kembali seperti kisah-kisah novel yang kubaca?
KAMU SEDANG MEMBACA
Waktu Itu
أدب المراهقينBukankah setiap manusia mempunyai waktunya masing-masing? Bukankah setiap manusia mempunyai zamannya sendiri-sendiri? Bukankah pepatah mengatakan setiap orang ada masanya? Jadi, apa yang ia lakukan terhadap waktu sampai aku bisa mengenalnya? Mungkin...
