20. Market night

1 0 0
                                        

"Ra, Lo serius gak mau ikut kita?" Tanya Syifa kepadaku. Kami bertiga sedang berjalan di halaman sekolah.

"Iya, gue harus pergi sama Draven!" Ujarku kepada mereka berdua.

"Ya udah kalau gitu, kita duluan ya, Ra." Ujar Ririn kepadaku.

Aku mengangguk untuk meresponnya, lalu Ririn langsung menggandeng lengan Syifa dan pergi meninggalkanku. Tidak lama, aku melirik kearah tempat parkir. Aku melihat Draven yang sedang menyiapkan motornya itu, aku pun segera untuk hendak menghampirinya. Namun tiba-tiba saja ada seseorang yang menahan lenganku yang membuatku langsung menoleh. Reyhan?

"Rey? Kenapa?" Tanyaku kepadanya.

Ia mulai melepas genggamannya dari lenganku lalu meraih telapak tanganku dan membiarkanku menggenggam tali dari paper bag yang aku berikan kepadanya. Apa ia berniat untuk mengembalikannya? Bukannya ia sudah setuju untuk menerima pemberianku itu?

"Loh, ini..."

"Aku gak bisa, Ra!" Ujarnya cepat dan tidak membiarkanku melepas genggamanku dari tali paper bag itu.

"Maaf, ya!?" Ujarnya kembali lalu mulai benar-benar melepas genggamannya dariku.

Tin tin

Aku dan Reyhan menoleh bersamaan mendengar suara klakson itu yang ternyata bersumber dari Draven di depan sana.

"Pergi sana, udah ditungguin!" Ujar Reyhan yang membuatku kembali menatapnya.

Reyhan tersenyum sekilas lalu pergi meninggalkanku. Menurutku, ia tampak kelihatan lebih ketus, walaupun cara berbicaranya masih pelan dan lembut. Namun, tidak mungkin, kan kalau aku membatalkan janjiku kepada Draven? Yang seperti ini nih yang aku tidak suka dari kisah cinta cinta huek! Rumit, ribet, dan itu bukan aku banget yang selalu menghindari sesuatu yang tampak ribet dan rumit.

Habis, mau gimana lagi dong? Reyhan terlanjur membuatku jatuh untuk pertama kalinya. Iya aku akui itu, kalau dia memang hebat. Atau aku yang terlalu bodoh bisa jatuh karenanya? Entahlah.

Tiiiiiin.....

Aku tersentak dari lamunanku, lalu menoleh ke arah Draven, ia tampak sedikit geram karena aku belum kunjung juga menghampirinya. Aku menghela nafasku lalu menyimpan paper bag itu ke dalam tas ranselku dan segera menghampirinya sebelum ia tambah naik pitam.

"Kok bengong, sih? Ada apa?" Ujarnya sambil memberikan helm kepadaku.

"Bukan apa-apa," Ujarku yang sedang memakai helm pemberiannya itu.

Kesal. Kenapa juga, sih aku belum bisa mengunci helm ini, memangnya sesulit itu? Draven tampak hendak ingin membantuku seperti biasa, namun aku langsung menahannya.

"Sini gue bantuin!" Ujarnya, ia tampak mengerutkan alisnya karena aku menahannya dari Ingin membantuku.

"Gak usah! Ya udah yuk, langsung jalan." Ujarku bergegas menaiki motornya tanpa mengunci helm itu, namun Draven menahanku.

"Nih, Lo pakai dulu! Nanti kalau sakit lagi gimana?" Ujarnya memberikan jaketnya itu kepadaku.

Aku menerima jaket pemberiannya lalu segera memakainya dan menaiki motornya itu. Aku menunggu, namun ia belum juga menjalankan motornya itu. Tumbenan banget. Biasanya saat aku sudah naik, ia langsung menjalankannya?!

"Kok masih diem, sih?" Tanyaku padanya.

"Lo belum pegangan, Ra! Lo, kan baru sembuh, Kalau nanti jatuh gimana?" Perintahnya.

Aku menghela nafas, lalu hendak ingin ku turuti keinginannya. Oh iya, ia mau aku pegangannya dimana? Aku memberhentikan tindakanku untuk menggenggam seragam sekolahnya, mengantisipasi kalau hal yang terjadi pada saat dengan Reyhan tidak terulang kembali.

Waktu ItuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang