Takut. Mungkin itu yang dirasakan dua adik kelas ini sekarang ketika ia tidak sengaja menyenggol Draven saat sedang berlari. Mereka berdua terus menunduk sedari tadi.
"M-maaf, kak. Saya tadi gak...."
"Iya... Lain kali hati-hati, ya!?"
Mereka berdua saling menoleh satu sama lain ketika mengetahui kalau Draven tidak marah kepada mereka. Matanya terbuka lebar karena terkejut, lalu mulai berani untuk menatap Draven. Kedua adik kelas laki-laki itu meminta maaf sekali lagi lalu pamit untuk pergi.
Aku benar-benar mengukir senyum melihatnya yang sekarang. Sepertinya, misiku berhasil. Ia benar-benar berubah, bahkan aku tidak melihatnya merokok lagi sejauh ini. Syukurlah.
Mungkin, hatinya juga merasa lebih lega karena tidak lama ini mamanya Draven baru saja bercerai dengan suaminya. Mendengar itu saja bukan hanya Draven, hatiku juga merasa tenang mengetahui itu. Ada beberapa alasan mengapa mamanya Draven tidak menceraikan suaminya dari dulu, Terutama adalah karena faktor Draven sendiri. Ia tidak mau jika anaknya hidup tanpa seorang ayah, walaupun mungkin selama ini Draven juga tidak mendapatkan sosok ayah itu sendiri semenjak ayahnya itu mulai menjelma menjadi lelaki brengs*k.
Apapun itu, semuanya jadi lebih membaik sekarang. Dengan uang simpanan yang sangat cukup di bank milik mamanya itu dan usaha desainer yang ternyata sudah beliau tekuni dari muda, membuatnya tidak perlu berpikir panjang untuk menjalankan hidupnya yang baru. Ditambah terdapat rumah megah di Jakarta milik kakeknya Draven yang sejak lama sudah menetap di Belanda. Ternyata Draven memang keturunan dari keluarga yang sudah kaya-raya. Ia dan mamanya pun mulai tinggal bersama di rumah itu.
Berbanding terbalik dengan suaminya. Beberapa hari sebelum bercerai, kini perusahaan yang beliau pimpin bangkrut, membuatnya harus mengganti semua kerugian dan hutang-hutang hingga rumahnya itu disita paksa. Padahal yang aku tahu, rumah itu adalah pemberian dari orangtua mamanya saat mereka baru menikah. Namun justru saat suaminya itu sudah berhasil dan mengalami level up dalam hidupnya, ia malah berani-beraninya berkhianat. Ternyata karma itu nyata.
Mengetahui beliau mengalami perubahan hidup yang sangat drastis, membuatnya sempat memohon untuk mencabut gugatan cerainya. Tentu saja, tidak semudah itu. Melihat mantan suaminya itu yang sudah tidak punya apapun, membuat mamanya Draven tidak perlu takut lagi dengan ancaman-ancaman yang seringkali suaminya berikan selama ini. Pada akhirnya semua akan membaik.
Kami kembali melanjutkan jalan kami. Aku dengannya sedang berjalan di koridor sekolah bersama.
"Oh iya, Ra....." Draven kembali memulai pembicaraan setelah tadi sempat terputus.
"Beberapa hari lagi, kan kita ulangan semester, mungkin satu bulan lagi bakal new year. Lo, mau gak ngerayainnya sama gue?" Lanjutnya.
Aku sedikit berpikir. Karena biasanya saat tahun baru, aku merayakannya bersama Ririn dan Syifa. Aku membuka bibirku hendak berujar. Namun, sesuatu menabrak kakiku yang membuatku memberhentikan langkahku. Aku pun menunduk untuk melihatnya. Ternyata sebuah pesawat kertas kecil yang meluncur ke arahku. Darimana datangnya?
Draven tampak menoleh ke sana kemari mencari tahu siapa yang melakukannya. Disaat itu juga aku mengambil pesawat kertas itu dan membukanya yang ternyata terdapat sebuah pesan.
New year pergi bersamaku?
From,
Datanglah ke perpustakaan untuk menemui si pembuat pesawat kertas
Membacanya saja aku sudah langsung mengetahui kalau ini dari siapa. Aku mengukir senyum miring. Draven tampak mulai kembali menoleh ke arahku yang membuatku langsung bergegas melipat kembali pesawat kertas itu dan ku masukkan kedalam saku rok-ku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Waktu Itu
Fiksi RemajaBukankah setiap manusia mempunyai waktunya masing-masing? Bukankah setiap manusia mempunyai zamannya sendiri-sendiri? Bukankah pepatah mengatakan setiap orang ada masanya? Jadi, apa yang ia lakukan terhadap waktu sampai aku bisa mengenalnya? Mungkin...
