10. Jalan jalan

3K 115 1
                                        

Minggu tiba, asrama tampak sepi karena penghuni nya banyak yang pulang kerumah untuk sekedar berjumpa keluarga.

Cicitan burung terdengar sampai kamar asrama kepunyaan Sergio dan Ferry, dua orang pasang kekasih baru itu masih terlelap dengan berpelukan diranjang bawah.

Getaran ponsel, dapat Ferry rasakan. Dirinya membuka perlahan mata yang terpejam itu dengan tangan yang meraih ponsel disamping bantalnya.

"Halo" ucapnya sesaat telepon itu tersambung dengan nomor ibunya.

"Halo, gimana? Betah gak disana?" Tanya sang ibu kemudian.

Dirinya terkekeh dengan tangan yang menjadi bantalan gio itu memijat sedikit kepalanya, "betah lah Bu, kan ada gio." Ucapnya.

Melihat sang kekasih terusik, dirinya mengelus kembali rambut hitam yang tampak legam itu hingga pelukan hangat ia rasakan saat gio mengganti posisinya.

"Dasar, nanti pulang ya... Ajak gio aja, nanti ibu buatin kue buat dia sama nanti disimpan diasrama. Kamu itu, kalo udah nemu yang baru ibunya dilupain" ibu Ferry mengatakan dengan merajuk diakhir kalimat nya.

"Iya ntar Ferry bawa kerumah anaknya, dia sekarang aja masih tidur. Ibu gausah takut ibu dilupain sama Ferry, ibu kan tetep no 1 di hati ferry" ujar ferry, matanya berkeliaran melihat jam yang menunjukkan pukul tujuh lewat empat puluh menit.

"Yaudah, ibu tunggu ya kasep"

"Iya ibuu"

"Dah" lalu terdengar panggilan terputus.

Dirinya meletakkan ponselnya kembali lalu dirinya memperhatikan Sergio yang masi terlelap dengan nyamannya.

***

Setelah ferry berteleponan tadi, dia beranjak untuk kekamar mandi. Perlahan, ia memindahkan kepala gio yang ada di lengannya kebantal.

Sedikit gio terusik, namun tak bertahan lama saat kening nya Ferry usap hingga dia terlelap kembali.

Beberapa menit terlewati dirinya untuk mandi, Ferry mulai bersiap. Niatnya ia akan membawa gio berjalan jalan, entah itu kerumahnya atau kerumah gio.

Dirinya mengenakan kaos polos yang dibaluti kemeja hitam yang tak dikancing, juga jeans sebagai bawahan. Ferry mendekati ranjang, dirinya menepuk pelan gio.

"Hei, ayo bangun" ujarnya seraya menepuk pelan gio. Bukannya bangun, gio malah menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.

"Sergio, mau ikut gak?" Ucap Ferry kembali, sekarang hanya lenguhan yang gio berikan, namun mata yang terpejam itu mulai terbuka.

"Ikut kemana?" Tanya Sergio dengan suara serak khas bangun tidurnya. Tangannya terangkat menimpa matanya untuk menghalang cahaya yang masuk.

Menghela napas, Ferry berdiri dengan tangan yang mengambil kursi untuk ia duduk. "Katanya pengen ketemu adik kamu?"

Seakan mengingat sesuatu, gio langsung terduduk. Hingga kepalanya terasa pusing, "aduh lupa hehe, bentar dulu" ujarnya.

Ferry yang melihat itu hanya menggeleng pelan, dirinya beranjak menuju sofa depan untuk duduk dan memakan cemilan yang ada disana, sebelumnya, "cepet mandi"

Mengikuti Ferry yang beranjak, gio dengan langkah sedikit sempoyongan menuju kamar mandi.

"Ay ay kapten"

27,8,23

[1] SIDE classMATETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang