Eine's POV
Tok, tok, tok.
Suara ketukan dari pintu kamar gue membuat bayangan-bayangan di kepala gue runtuh seketika. Gue baru sadar kalau sejak pulang ke rumah tadi gue cuma bengong di kamar.
Satu kata untuk diri gue sendiri, parah.
"Masuk aja." sahut gue sekenanya.
Gue lihat Bunda hanya menongolkan kepala sampai lehernya dari balik pintu begitu ia membukanya. "Ayo turun bentar. Bunda sama Ayah mau ngomong." ujarnya to the point.
Gue langsung menuruti perkataan Bunda tanpa protes sedikitpun. Setelah beranjak dari atas kasur, gue segera turun ke lantai bawah mengikuti Bunda yang udah berjalan duluan. Sampai di ruang TV, gue lihat Ayah dan Kak Iyon juga udah duduk disana.
Ini mau nobar apa gimana, deh?
"Sini, Ne." kata Ayah sambil menepuk sofa di sebelahnya. Gue pun duduk di sebelah Ayah dan menyenderkan kepala di pundaknya. Udah lama gak manja-manjaan gini sama Ayah.
Ayah mengelus-elus kepala gue, "Gimana soal skandal kamu?" tanyanya.
"Udah membaik kok, Yah."
"Terus temen-temen kamu di sekolah gimana?" kini giliran Bunda yang bertanya.
"Mereka semuanya dukung Ine, kok." kata gue berbohong.
"Bohong, tuh. Jelas-jelas di-bully gitu." sahut Kak Iyon cuek.
Gue langsung menginjak kaki Kak Iyon kuat-kuat dan memberi kode lewat mata padanya. "Enggak kok, Bun, Yah. Kak Iyon nih yang bohong!" timpal gue.
"Udah, udah. Ayah ngajak kalian kumpul di sini buat ngomong serius." Perkataan Ayah berhasil membuat gue dan Kak Iyon diam. Kami berdua langsung menatap Ayah penasaran.
"Ngomongin apa, Yah?" tanya Kak Iyon.
Ayah menarik napasnya sebelum berbicara, "Jadi gini..."
Gue membenarkan posisi duduk, bersiap mendengarkan perkataan Ayah. Gue lihat, Kak Iyon juga melakukan hal yang sama. Tapi lain halnya dengan Bunda yang tetap tenang. Gue rasa, Bunda udah tahu apa yang mau dibicarakan Ayah.
Ayah melanjutkan perkataannya, "Iyon 'kan berniat untuk kuliah di Singapore, jadi Ayah mau Eine ikut melanjutkan sekolah di sana aja. Ayah rasa, Eine akan lebih aman di sana. Ayah akan urus semuanya, jadi kalian tenang aja."
Kak Iyon terlihat sangat kecewa mendengar perkataan Ayah. "Yah, Iyon 'kan udah nunggu-nunggu dari lama untuk pisah rumah dari Ine!" protesnya.
Bunda yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara. "Jangan kayak gitu, Riyon. Emang kamu mau adik kamu dipenuhi rasa was-was terus tiap hari?"
"Tapi Ine juga belum sepenuhnya setuju, Bun. Ini terlalu mendadak. Kenapa Ine gak pindah pas mau kuliah aja? Kan tanggung, Bun! Setahun lagi, loh." ujar gue.
"Alah, mau tahun ini, mau tahun depan juga gak ada bedanya. Lagian di sini juga lo gak ada temen, Ne. Apa yang mau dipertahanin?"
Gue kembali menginjak kaki Kak Iyon setelah mendengar bacotannya yang asal ceplos itu. "Awwwww,"
Bunda pun bangun dari sofa yang ia duduki, lalu menjewer gue dan Kak Iyon bergantian. "Udah, jangan berantem!"
"Kalian ini ribut terus, ya." kata Ayah sambil geleng-geleng.
"Ine, coba kamu pikir-pikir dulu. Ingat, ini semua juga untuk kebaikan kamu. Waktu kamu untuk menentukan keputusan kamu tinggal beberapa hari, Nak. Sebentar lagi 'kan Iyon udah mau pindah ke Singapore." kata Ayah lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jasper!
SonstigesJasper emang kelihatan baik banget kalo lagi di layar kaca. Tapi apa di dunia nyata juga begitu? Jawabannya, enggak. Mungkin ini yang orang-orang sebut dengan 'Serigala Berbulu Domba'
