Duadelapan!

32 4 0
                                        


Ini masih jam 6 pagi dan Eine sudah rapi dengan seragam serta atribut sekolahnya. Ya, memang sangat tidak biasa Eine sudah siap pagi-pagi begini. Tapi jujur, Eine benar-benar tidak sabar bertemu Jasper. Mengingat kejadian kemarin, rasanya wajah Eine memanas.

"Kamu ngapain pake seragam gitu, Ne?" tanya Bunda--yang entah sejak kapan berada di belakang Eine--dengan wajah bingung.

"Ya, siap-siap sekolah lah, Bun." jawab Eine dengan tatapan bingung juga.

Bunda menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berdecak. "Kamu tuh, ya. Tadi malam 'kan udah dibilangin."

"Bilang apa, Bun?"

Bunda menjewer telinga putrinya itu,"Aw!" rintih Eine.

"Kamu lupa besok hari apa? Besok 'tuh kamu dan Iyon udah berangkat ke Singapore!"

Eine terdiam sejenak,"Jadi hari ini Ine gak sekolah, Bun?"

Bunda makin mengeraskan jeweran pada telinga Eine. "Ya, iyalah! Kamu harus beresin barang-barang kamu. Hari ini barang-barangnya udah mau di kirim ke sana! Lagian Bunda udah bilang ke wali kelas kamu, kok!"

"Ampun, Bun. Kuping Ine sakit tau!"

"Ya udah, cepet ganti baju lagi dan lanjut bersin barang-barang kamu." perintah Bunda sambil melepas tangannya dari telinga Eine.

Baru bergerak beberapa langkah, Bunda kembali menoleh ke Eine. "Ngomong-ngomong, kamu udah pamit sama temen-temen sekolah kamu 'kan, Ne?"

"Udah." jawab Eine asal. Bunda hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dan pergi meninggalkan Eine.

"Temen aja kagak ada, mau pamit ke siapa?" ujar Eine pada dirinya sendiri.

Eine terdiam sejenak. Tiba-tiba ia ingat pada seseorang--ah, enggak. Bukan seseorang, tapi dua orang. Gadis itu segera mengambil ponselnya dan mencari kontak Jackson dan Yara di sana.

"Mungkin gue harus kasih tau mereka soal ini."

Eine segera mengirim pesan untuk Jackson dan Yara. Lagipula, kepergian Eine ke Singapore alasannya jelas berhubungan dengan Jackson. Sedangkan Yara, menurut Eine Yara lah teman Eine satu-satunya saat ini.

Gimana dengan Jasper? pikir Eine.

"Mungkin gue harus kasih tau Jasper juga. Lagian, hubungan gue sama Jasper udah jauh lebih baik." Lagi-lagi Eine berbicara sendiri. Ya, terlalu banyak monolog disini.

Baru saja hendak mengetikkan SMS ke Jasper, tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponsel Eine. Nama yang tertera di sana membuat nafas Eine berhenti untuk sekitar 2 detik. Ah, atau 3 detik? Entahlah.

From: Mbak Syahqila

Ne, tadi aku coba ajak Jasper untuk makan malam bareng. Siapa sangka? Ternyata dia mau, loh. Ini semua pasti karena bantuan kamu. Makasih ya.

Dengan kesal, Eine langsung menghapus pesan tersebut. Gadis itu gak berniat membalas pesan Syahqila sama sekali. Bantuan apanya? Eine bahkan gak pernah berniat membantu Syahqila untuk kembali dengan Jasper. Menyebut nama Syahqila di depan Jasper saja rasanya Eine ogah. Terdengar jahat dan egois memang. Tapi mau bagaimana lagi? Itu yang Eine rasakan sekarang.

Bego' banget gue sampe kepikiran buat ngasih tau Jasper soal kepergian gue. Dia mana peduli? Lagian, bentar lagi dia pasti balikan sama Mbak Syahqila. batin Eine.

Eine berusaha untuk tidak memikirkan lagi soal Jasper ataupun Syahqila. Lagian, sebentar lagi dia akan pergi. Gak ada gunanya stuck di orang yang gak jelas.

Jasper!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang