Author's POV
Eine berjalan menuju kelasnya sambil bersenandung kecil, menyanyikan lagu yang beberapa hari ini jadi lagu kesukaannya. Sampai-sampai, Jasper sering memarahinya karena bosan mendengar lagu itu.
"Ku tak bisa menggapaimu takkan pernah bisa.."
Sekolah sudah cukup ramai. Eine memang berangkat agak lebih siang hari ini, karena Riyon yang kesiangan. Eine kembali melangkahkan kakinya sambil terus bernyanyi.
"Kau hanya mimpi bagiku tak untuk jadi nya-- aww!!" Eine memghentikan langkahnya dan juga nyanyiannya saat merasa ada seseorang yang menarik rambut panjangnya yang ia kuncir kuda.
"Yeah, you're right hunny. Jasper itu cuma mimpi buat lo, gak untuk jadi nyata." ujar gadis yang menarik rambut Eine itu, sambil menyeringai.
"Duh! Meriza si ratunya kunti, tolong lepasin tangan penuh najis lo itu dari rambut halus gue."
"Apa lo bilang? Ratu kunti?!"
"Ih, udah banyak gaya, budek pula!"
Meriza semakin menjambak rambut Eine. "Kalo ngomong jaga, ya." ancam Meriza.
Eine tersenyum meremehkan. "Lo juga, punya tangan jaga,ya." Eine menghentakkan tangan Meriza dengan kasar dan berlalu meninggalkan kakak kelasnya itu.
Persetan dengan sopan santun. Eine udah gak peduli lagi dengan itu semua.
"Tunggu bentar." Eine menghentikan langkahnya mendengar suara Meriza. Eine berbalik, salah satu alisnya dinaikkan.
"Menurut lo, Jasper bakalan nganggep lo apa? Fansnya? Temannya? Atau mungkin pengganggunya?" tanya Meriza sambil tersenyum setan. Nada bicaranya terdengar meremehkan sekaligus menantang.
"Stop, ya. Gue males debat."
"Uh, why? Lo takut, ya? Takut kalau Jasper cuma anggep lo pengganggu?"
Eine maju beberapa langkah untuk mendekati Meriza. Matanya menatap Meriza tajam. Cari masalah nih anak.
"Ngapain gue takut? Gue yakin, Jasper anggep gue lebih dari itu." jawab Eine dengan percaya diri.
"Yaudah, buktiin."
"Oke, kita taruhan. Kalau Jasper anggep gue lebih dari sekedar fans, lo harus berhenti ganggu hidup gue!"
Meriza makin mempersempit jaraknya dengan Eine. Bibir kecilnya tersenyum licik pada Eine. "Dan kalau dia nganggep lo pengganggu, gue dapet apa?"
Tanpa pikir panjang, Eine menjawabnya. "Gue bakalan berhenti ngefans sama Jasper. Dan lo, bisa dengan puas deketin dia. Gue gak bakal protes!"
Ya, gue bakalan berhenti ngefans sama dia kalo dia beneran ngomong kayak gitu. Ngapain gue ngejer-ngejer orang yang cuma anggep gue pengganggu? Batin Eine.
"Okay, deal."
"Oke, kita buktiin nanti."
Eine kembali berjalan menuju kelas, tujuan awalnya yang sempat tertunda.
"Dasar, nenek lampir!" umpat Eine.
Hancurlah sudah mood cewek itu pagi ini. Sekarang, tujuannya hanyalah ke kelas dan bertemu moodboosternya, Jasper.
Yah, walaupun Jasper tidak akan menghiburnya, setidaknya melihat wajah tampan cowok itu saja sudah cukup.
Sesampainya di kelas, Eine langsung duduk di kursinya.
Tumben belom dateng, Eine menatap bangku di sampingnya yang masih kosong. Tidak ada tas Jasper disana.
"Tirub." Eine memanggil Alex yang kebetulan lewat. Dengan malas, Alex berbalik dan menghampiri Eine.
"Ngape, Ne? Mau nipu gue lagi?"
"Jasper belom dateng, ya?" tanya Eine, tanpa memperdulikan perkataan Alex.
"Belom kayaknya. Gue gak liat dia dateng ke kelas." Eine mengangguk pelan. Detik berikutnya, gadis itu beranjak dari bangkunya dan langsung ke luar kelas.
Jasper mana, sih?
Eine mengambil ponselnya dari saku dan menelpon Jasper.
Tuuut. Tuuut. Tuuut.
Tidak ada jawaban.
Eine merengut. Dua hari berturut-turut, dia harus sekolah tanpa Jasper? Kalau tahu begini, lebih baik dia pura-pura sakit dan gak sekolah, deh.
Duh, mana gue pake taruhan-taruhan sama tuh nenek lampir, lagi.
Dengan langkah gontai, Eine kembali ke kelasnya. Tiba-tiba, langkah Eine terhenti ketika matanya menangkap sesuatu. Bukan, tepatnya seseorang.
Eine tersenyum senang, memandang Jasper yang berjarak tidak jauh darinya. Saat ini, Jasper sedang dikerumuni beberapa siswi-siswi dengan posisi memunggungi Eine.
Salah satu dari siswi-siswi itu adalah Meriza. Dasar centil! ejek Eine dalam hati.
Eine semakim mendekat pada Jasper. Saat jaraknya tinggal 4 atau 5 langkah lagi di belakang Jasper, tiba-tiba Meriza menatapnya. Tangan kanan Meriza sedikit terangkat, memberi tanda 'stop' pada Eine. Eine mengerinyit bingung, tapi ia tetap melakukan perintah Meriza.
"Ehm, Jasper." panggil Meriza dengan suara genit dan volume yang agak keras. Siswi-siswi yang tadinya rusuh, langsung terdiam dan menatap Meriza bingung.
Jasper tersenyum manis kearah Meriza dan mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa, Meriza?" tanya Jasper setelah melihat nametag yang terpasang di seragam Meriza.
"Mau nanya sesuatu, boleh?"
"Boleh, tanya apa?"
Meriza menatap kearah Eine yang masih diposisi awalnya, kemudian tersenyum lebar. "Kamu ada hubungan apa sama Eine Dame? Kok kayaknya sering keliatan bareng, gitu." Meriza tetap tidak mengalihkan tatapan tajamnya dari Eine. Siswi-siswi lain disana ikutan rusuh, memaksa Jasper memberi penjelasan.
"Kenapa nanya gitu?"
Kali ini, Meriza menatap Jasper. "Banyak Jaspal yang kecewa, loh. Dan bahkan, beberapa Jaspal di sekolah ini ada yang niat keluar dari klub Jaspal karena kedekatan kamu sama dia."Lagi-lagi siswi-siswi--yang kecentilan menurut Eine-- menyutujui perkataan Meriza.
Jasper terdiam sebentar, tampak berpikir. "Gak ada hubungan apa-apa, kok. Dia memang sering ngikutin gue kemana-mana. Dan ini rahasia kita ya, she's kinda annoying."
Beberapa siswi disana langsung kembali rusuh dan berbisik-bisik heboh. Sedangkan Meriza, dia tersenyum puas sambil menatap Eine yang mematung dengan tatapan penuh kemenangan.
"Uhm, okay. Aku ke kelas duluan, ya. Bye, Jasper." Meriza berjalan menjauhi Jasper. Saat melewati Eine, Meriza berbisik, "Inget, berhenti ngefans sama dia. "
Bahu Eine langsung merosot begitu saja. Jasper parah banget jahatnya.
Eine menutup matanya sejenak. "Okay, mulai sekarang, gue beneran bakal berhenti ngefans sama Jasper!"
-----
27 Desember 2014
KAMU SEDANG MEMBACA
Jasper!
De TodoJasper emang kelihatan baik banget kalo lagi di layar kaca. Tapi apa di dunia nyata juga begitu? Jawabannya, enggak. Mungkin ini yang orang-orang sebut dengan 'Serigala Berbulu Domba'
