Author's POV
Sudah hampir setengah jam yang lalu Eine sampai di rumah. Dan selama itu pula, cewek itu mengurung dirinya di kamar.Eine memegang kedua pipinya yang memerah dan tersenyum malu-malu. Sesekali ia menutup matanya dengan senang, mengingat kembali apa yang tadi terjadi.
"Kata siapa? Kan ada gue." Eine mengikuti gaya bicara Jasper dan mengulang perkataan Jasper tadi.
Eine benar-benar merasa senang sekarang. Jasper membuatnya semakin jatuh cinta!Eine berguling-guling di atas kasurnya sambil cekikikan sendiri. Ditariknya selimutnya dan menutupi tubuhnya sampai atas kepala. Di dalam selimut, ia kembali cekikikan mengingat kejadian tadi.
Gue pasti udah gila, batin Eine.
Di sisi lain, Jasper juga sedang mengingat perkataannya tadi.
"Kata siapa? Kan ada gue." Jasper mengulang perkataannya ke Eine tadi, dengan suara kecil. Entahlah, dia takut ada yang mendengarnya. Padahal, dia sedang sendirian di apartementnya.
Kedua tangan Jasper menjambak rambutnya sendiri dengan pelan. Jasper terus-terusan merutuki kebodohannya. "Kenapa gue bisa ngoming gitu, sih?"
Jasper kembali berdiri dari posisi berbaringnya. Cowok itu mondar-mandir di kamarnya sambil memikirkan 'apa yang harus dia katakan kalau bertemu Eine nanti'. Tapi, nihil. Jasper sudah kehabisan ide. Lagian, kenapa bisa-bisanya dia bicara begitu tadi?
Jasper membanting tubuhnya ke atas kasur. Matanya menerawang ke atas langit-langit kamarnya. Mengingat lagi apa yang terjadi tadi. Memastikan kalau itu tidak nyata.
"Jasper, lo bego' banget." kata Jasper pada dirinya sendiri.
"Lo emang bego' dari dulu 'kan?" Seorang wanita ikut berbaring di samping Jasper. Tanpa menoleh, Jasper sudah tau siapa wanita itu. Wanita dengan wajah cantik dan bentuk tubuh sempurna.
"Kok bisa masuk kesini?" tanya Jasper, tanpa mengalihkan pandangannya.
"Gue rasa, semua orang tau tanggal lahir lo, Jas. Dan gue rasa, semua orang bisa buka pintu apartement lo."
Jasper berdecak kesal, "Gue harus ganti password, nih."
"Lagian, cuma artis bego' macem lo tuh yang make tanggal lahir untuk password pintu apartement."
"Whatever."
"Duh, sensitif amat. Dasar, cowok jatuh cinta."
"Gue gak jatuh cinta!"
"Oh, ya?" Wanita itu semakin menggoda Jasper dengan memeletkan lidahnya.
"Keluar dari apartement gue, Jesslyn!"
Jesslyn akhirnya keluar dari kamar Jasper dengan kesal. Hanya kamar, karena Jesslyn belum meninggalkan apartement Jasper. Dia belum puas mengganggu cowok itu. Cowok yang sedang jatuh cinta, menurutnya.
Jasper keluar dari kamarnya dan menuju ke dapur. Cowok itu menatap malas ke sofa di depan tv. Lebih tepatnya, ke wanita yang sedang berbaring di sofa itu.
Jasper mengambil segelas air putih dan meminumnya dalam sekali tegukan. Ia kembali meletakkan gelasnya di meja dan menghampiri Jesslyn.
"Kenapa masih disini, sih?"
"Emangnya kenapa?" Jesslyn balik bertanya dengan nada sesantai mungkin.
Jasper memutar matanya kesal dan duduk di sofa tempat Jesslyn berbaring.
"Lo tau 'kan? Gue gak suka sembarang orang masuk ke apartement gue." Jasper melipat kakinya untuk membuat posisi duduknya menjadi lebih nyaman.
"Dan gue gak termasuk dalam daftar 'sembarang orang' itu, Jasper sayang." Jesslyn kembali fokus ke acara di tv dan sesekali tertawa melihat adegan yang menurut Jasper cukup --bahkan sangat-- garing.
Tiba-tiba terdengar alunan lagu dari ponsel Jasper yang diletakkan cowok itu di saku kanan celananya. Jasper segera mengangkat telepon tersebut, setelah melihat ID pemanggil. Ternyata Eine.
"Ya?"
"Kayaknya dompet gue ketinggalan di mobil lo, deh. Gue ambil kesana, ya?"
"Iya," Jawab Jasper singkat, dan langsung menutup panggilan. Kebiasaan buruknya.
Ya, tadi Jasper sempat mengantarkan Eine ke rumahnya. Katanya sih, karena sekalian mau lewat. Entah, itu benar atau enggak. Yang pasti, Eine senang karena Jasper mengantarnya pulang.
Okay, kembali ke sekarang.
Jasper bergegas menuju parkiran untuk memastikan dompet Eine berada di mobilnya.
Ternyata, benar.
Jasper segera mengambil dompet itu dan membawanya masuk ke kamarnya. Setelah meletakkan dompet Eine di kamarnya, Jasper kembali ke ruang tengah dan ikut menonton acara komedi yang garing, bersama Jesslyn.
"Bersih juga, ya." kata Jesslyn tiba-tiba.
"Apanya?" tanya Jasper.
"Apartement lo. Lo 'kan paling gak bisa bersih-bersih."
Ting Tong.
Belum sempat Jasper menjawab perkataan Jesslyn, ada yang memencet bel pintu. Baru aja Jasper mau mebuka pintu, Jesslyn sudah menahan tangan Jasper dan beranjak dari posisi berbaringnya.
"Gue aja yang buka pintu. Gue mau liat, siapa 'sembarang orang' selanjutnya yang bakalan masuk ke neraka yang mirip surga ini." kata Jesslyn sambil menatap Jasper dengan senyum penuh arti.
"Bacot. Mending cepetan buka pintu," Jesslyn langsung bergegas dan membuka pintu apartement Jasper. Jesslyn terlihat bingung, menatap cewek di hadapannya. Siapa dia?
Sedangkan Eine, ia tampak kaget melihat Jesslyn. Bukan hanya kaget, tapi juga kagum. "Jesslyn London. Kakak perempuan dari Jasper. Seorang model catwalk dan model iklan beberapa merk-merk terkenal mulai dari pakaian, barang elektronik, perhiasan, makanan, parfum, dan banyak lagi." ujar Eine tanpa sadar.
Jesslyn semakin bingung melihat kelakuan Eine. Ini baru, nih 'sembarang orang' Baru saja Jesslyn mau menutup pintu, teriakan Jasper dari ruang tengah sudah terdengar.
"Jess, cepet suruh dia masuk!"
"Iya, bawel!" Jesslyn kembali menatap Eine dan menyuruhnya masuk, masih dengan tampang bingungnya.
"Masuk aja ke kamar gue. Dompet lo ada di meja dekat kasur." kata Jasper. Eine hanya mengangguk dan langsung masuk ke kamar Jasper.
Jesslyn masih menatap Eine yang mulai menjauh dengan tatapan gak percaya. Jelas, dia gak percaya. Bagaimana bisa, Jasper --adik kandungnya sendiri-- menganggap dia 'sembarang orang', sedangkan cewek itu?
"Jadi dia bukan 'sembarang orang', Jas?" tanya Jesslyn sambil terus memandang ke arah kamar Jasper. Padahal, Eine sudah tidak kelihatan.
Sebelum Jasper menjawab, Jesslyn sudah mengutarakan hipotesisnya. Okay, mungkin bahasanya terlalu ilmiah. Yang pasti, Jesslyn mengutarakan dugaannya.
"Dia pacar lo, ya?"
Tanpa mereka ketahui, Eine mendengar percakapan mereka. Ah, sebenarnya bukan percakapan. Karena, daritadi Jasper gak menjawab 'kan?
Diam-diam, Eine tersenyum mendengar dugaan Jesslyn. Amin deh, kakak ipar! teriaknya dalam hati.
"Bukan, dia yang bersih-bersih disini." Jawab Jasper. Seketika Eine terbelalak, rahang bawahnya jatuh, membuatnya menganga seperti orang bego'.
"Oh, pantesan apartement ini bersih."
Aku sakit, aku sakit hati. Kau terbangkan ku ke awan, dan kau jatuhkan ke dasar jurang.
----
21 Desember 2014
KAMU SEDANG MEMBACA
Jasper!
RandomJasper emang kelihatan baik banget kalo lagi di layar kaca. Tapi apa di dunia nyata juga begitu? Jawabannya, enggak. Mungkin ini yang orang-orang sebut dengan 'Serigala Berbulu Domba'
