Duatujuh!

109 11 5
                                        

Eine memasuki mobil Jasper dan duduk di kursi penumpang bagian depan. Untuk beberapa detik, Eine tercengang melihat betapa tampannya pria di sebelahnya ini. Yah, walaupun Jasper hanya mengenakan pakaian casual  tapi tetap saja tak mudah untuk Eine menghirup udara.

"Kenapa lo liatin gue kayak gitu?" tanya Jasper.

Eine mendadak gugup, "Ng-- siapa juga yang liatin lo? Geer!"

Jasper terkekeh, "Lo lucu kalo lagi gugup gitu." ucap Jasper tiba-tiba. Ya, menurut Eine itu sangat tiba-tiba. Dia belum siap untuk menerima kata-kata manis Jasper.

"Pesawat berangkat!"

Eine tersenyum lebar mendengar perkataan Jasper yang  kekanakan tapi sangat manis menurutnya. Entahlah, mungkin Jasper sedang dalam mood yang baik sekarang ini. Sikapnya kelewat manis sampai-sampai Eine mau diabetes rasanya.

Setelah sekitar 1 jam melewati kemacetan ibukota, Eine dan Jasper akhirnya sampai di studio foto  tujuan mereka. Melihat keramaian yang ada di sana, Jasper mengurungkan niatnya. Jasper kembali memundurkan mobilnya dan keluar dari area parkir.

"Gak jadi foto?" tanya Eine bingung.

"Lo gak liat 'tuh rame banget gitu?"

"Iya juga, sih. Terus kita mau ke mana?"  tanya Eine lagi.

"Gue juga gak tau. Lo ada ide?" ujar Jasper sambil terus fokus mengendarai mobil.

"Hm, gimana kalo karaoke?" usul Eine.

"Gue gak bisa nyanyi." jawab Jasper.

Eine tertawa, "Hahaha, gue tau kok. Tapi apa salahnya senang-senang?" Jasper hanya diam, tak membalas perkataan Eine.

"Ayolah.." pinta Eine.

"Fine, dimana tempat karaoke yang lumayan sepi?" Akhirnya Jasper memilih untuk mengalah dan mengikuti mau Eine. 

Gak tau kenapa, gue pengen bikin dia seneng hari ini. batin Jasper.

-----

"Could this be that real love I've been mi--ekhem."

Sedari tadi Eine tak ada henti-hentinya tertawa mendengar suara Jasper yang sedang bernyanyi. Ini pertama kalinya Eine mendengar secara langsung Jasper bernyanyi. Dan, yah. Sesuai dengan fakta-fakta yang ia ketahui sebelumnya, suara Jasper memang ancur.

"You're out of this world, my kind of-- gue gak sanggup lagi nyanyi. napas gue abis." Padahal ini baru setengah lagu, tapi Jasper sudah men-stop lagu Knock Me Out yang baru saja ia nyanyikan.

"Yah, gak seru! itu 'kan gak nyampe satu lagu." protes Eine.

"Udah, nih. Giliran lo yang nyanyi." ujar Jasper tanpa menghiraukan bentuk protes dari Eine.

Intro dari lagu pilihan Eine mulai terputar. Kali ini giliran Jasper yang protes, "Perasaan lo dari abad kapan lagunya ini mulu." ujarnya.

Eine membela dirinya, "Duh, lagu ini 'tuh ngepas banget buat gue." 

"Halah, bilang aja cuma lagu ini yang lo tau." ejek Jasper.

Eine tak menghiraukan ejekan Jasper dan mulai bernyanyi. "Setiap ku melihatmu, ku terasa  di hati. Kau punya segalanya yang aku impikan."

Diam-diam Jasper mengambil handphonenya dan mulai merekam video Eine yang sedang bernyanyi di hadapannya. Sesekali Jasper tersenyum melihat wajah Eine yang menghayati lagu yang cewek itu nyanyikan. 

"Ku tak bisa menggapaimu, takkan pernah bisa. Walau sudah letih aku tak mungkin lepas lagi. Kau hanya mimpi bagiku tak untuk jadi nyata."

Jasper menghentikan kegiatan merekamnya dan mengambil satu mic lagi yang masih menganggur. 

Eine terus bernyanyi sambil menatap bingung Jasper yang tiba-tiba berada disampingnya. "Dan segala rasa buatmu.."

"Harus padam dan berakhir."

"Tak boleh padam dan berakhir." 

Ya, mereka berdua mengakhiri lagu tersebut dengan lirik yang berbeda. Eine masih menatap Jasper bingung. Atas motivasi apa Jasper mengganti lirik lagu itu? Apa ada pesan khusus yang disampaikan oleh Jasper dari lirik tadi? Itu pertanyaan Eine.

Jasper juga menatap Eine dengan tatapan yang tak bisa Eine artikan. Dari dulu Eine memang sulit mengartikan tatapan Jasper.  Untuk beberapa detik mereka saling bertatapan.

1 detik.

2 detik.

3 detik.

4 detik.

4 detik.

6 det--

Pletak!

Satu jitakan mendarat di atas kepala Eine.

"Duh, lo kok tiba-tiba jitak gue?!" tanya Eine kesal.

"Makanya jangan bengong! Cepetan pilih lagu lagi, nanti waktunya keburu abis." ujar Jasper.

"Lagu apa, nih?" tanya Eine sambil memencet-mencet remote mesin karaoke tersebut.

Jasper memilih untuk menjauhi Eine dan duduk di sofa. "Terserah." jawabnya singkat.

Sebisa mungkin keduanya berusaha bersikap tenang.  Tapi Tuhan pasti tahu benar kalau mereka sama-sama menyembunyikan detak jantung masing-masing.

-----

"Rasanya tenggorokan gue kayak putus, dua jam nyanyi." keluh Jasper saat keduanya sudah berada di dalam mobil.

Eine mengusap-usap lehernya, "Gue juga, nih."

Tiba-tiba Eine terkekeh, membuat Jasper bingung melihat tingkahnya. "Kenapa?" tanya Jasper.

"Hahaha. Duh, gue gak nyangka kemampuan nyanyi lo bener-bener separah itu." ejek Eine.

Jasper hanya memasang wajah datar sambil memasang seatbelt-nya, "Diem lo." 

"Untung tadi gue rekam suara lo pas nyanyi." ujar Eine senang sambil melambai-lambaikan ponsel di tangannya. Seketika Jasper menoleh dengan tatapan kaget, sedangkan Eine hanya tersenyum puas.

"Hapus itu." perintah Jasper.

"Ogah."

Jasper langsung membuka kembali seatbelt-nya dan mendekati Eine, berusaha menggapai ponsel ditangan Eine. Sebisa mungkin juga Eine menghindari tangkapan tangan Jasper. Meski pada akhirnya usaha Eine sia-sia. Jasper berhasil menangkap tangannya yang memegang ponsel.  Dan selain itu, posisi mereka saat ini agak.....

Jaraknya terlalu dekat, batin Eine.

Wangi tubuhnya terlalu kecium, batin Jasper.

Deru napas Jasper terlalu kerasa, batin Eine (lagi).

Detak jantung gue kedengeran gak, ya? batin Jasper (lagi).

Drrtt..

Suara getar dari ponsel Eine membuat keduanya sontak kembali ke posisi awal masing-masing. Mereka berdua berusaha mengatur napas masing-masing dan bertingkah (sok) tenang.

"Ekhem," deham Jasper sambil mengelus-elus tengkuknya sendiri kemudian ia hidupkan mesin mobilnya dan mengendarainya dengan tenang. Yah, walaupun sebenarnya jantungnya sedang berolahraga saat ini.

Eine segera membuka pesan yang baru saja masuk di ponselnya. Ternyata hanya pesan dari operator.

Entahlah, Eine harus menganggapnya sebagai pengganggu atau penyelamat. Dia juga gak tahu.

-----

14 Januari 2016





Jasper!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang