Sembilanbelas!

251 15 1
                                        

Author's POV

Jesslyn memutar botol bekas air mineral dengan tangannya. Bagian atas botol itu menghadap tepat kearah Jackson.

Jesslyn tersenyum penuh arti, "Truth or dare?" tanyanya sambil menunjuk Jackson dengan tangannya yang membentuk pistol.

Ya, setelah lama sibuk dengan kegiatan masing masing di rumah Jasper, Jesslyn akhirnya mengajak Jasper, Jackson dan Eine--yang kebetulan berada disana-- untuk bermain Truth or Dare. Dan disinilah mereka sekarang, membentuk lingkaran dengan sebuah botol bekas di tengah-tengah mereka.

Sebenarnya, tidak ada yang mengatakan setuju untuk bermain dengan Jesslyn, tapi apa sih yang gak bisa Jesslyn dapatkan?

Okay, kembali ke sekarang.

Jackson menghela napasnya dengan malas. "Truth," jawabnya pada Jesslyn.

Lagi-lagi Jesslyn tersenyum. Cewek itu menatap Eine yang berada tepat di hadapannya. "Lo lagi suka sama seseorang 'kan?" tanya Jesslyn sambil terus menatap Eine.

Jackson ikut menatap Eine dengan lekat. "Enggak, gue yakin itu bukan 'suka'."

Pandangan Jesslyn beralih ke Jackson. Jesslyn menatap Jackson bingung. Jackson yang mengerti arti tatapan Jesslyn tersenyum dan menjawab, "But, this must be love."

"Please, Jack. Hal yang paling menggelikan adalah, ketika lo sok puitis."

Jasper langsung menatap Jesslyn dan Jackson menuntut penjelasan. Berhubung tidak menghasilkan jawaban, akhirnya Jasper angkat bicara. "Siapa dia?"

"Satu putaran cuma satu pertanyaan 'kan?" jawab Jackson sambil tersenyum kecil.

Jasper berdecak kesal. Kenapa gue harus gak tau apa-apa sendiri, sih? umpatnya dalam hati.

"Gimana, lanjut?"

Semuanya diam. Terlihat jelas kalau mereka semua memang gak tertarik dengan permainan konyol ini. Tapi Jesslyn tetap memutar botol dihadapannya, walaupun tidak ada satupun yang menjawab pertanyaannya.

Kali ini bagian atas botol menunjuk ke arah Eine. Cewek itu menghela napasnya sebentar, "Dare." ujarnya tanpa ditanya.

Kali ini Jesslyn menatap ke arah Jackson. "Good. Gue mau lo cium pipi Jasper." Perkataan Jesslyn membuat Eine bungkam, bingung harus apa.

Tiba-tiba Jackson berdiri dan menarik tangan Eine untuk ikut berdiri. Eine hanya menurut sambil menatap tiga bersaudara--yang menurutnya cukup gila-- dengan tatapan bingung.

"Kita berdua udahan." kata Jackson. Jackson kembali menarik tangan Eine dan membawanya keluar dari apartemen Jasper.

Jasper hanya menatap kearah pintu dengan bingung selama beberapa detik.

"Ini gak seperti yang gue pikirin 'kan?" tanya Jasper tanpa mengalihkan pandangannya. Jesslyn hanya mengedikkan bahunya acuh dan meninggalkan Jasper.

"Kenapa gue mendadak sesek napas gini, ya?" tanya Jasper pada dirinya sendiri.

Jasper menjawab pertanyaannya sendiri juga, "Mungkin adegan tadi terlalu menjijikan untuk dilihat."

Jasper langsung menyusul Jesslyn meninggalkan TKP truth or dare mereka. Ia langsung menuju kamarnya dan menutup pintunya rapat-rapat. Jasper terdiam sejenak.

Gue gak mungkin cemburu 'kan? batin Jasper.

-----

"Kita mau kemana?" tanya Eine. Jackson hanya diam sambil terus fokus dengan jalanan di depannya.

"Kita mau kemana?" ulang Eine dengan kesal.

"Diem aja, udah."

Eine memutar bola matanya kesal. "Jangan sok ftv, deh. Lo tinggal bilang aja, kita mau kemana."

Jackson menoleh, "Kalo gue kasih tau sekarang, gak surprise 'kan?"

Eine tidak menjawab perkataan Jackson lagi. Seharian bersih-bersih di apartemen Jasper membuatnya cukup lelah. Dia terlalu malas mengeluarkan tenaga untuk meributkan hal yang gak penting dengan Jackson. Lagian, Jackson juga gak mungkin menculiknya 'kan?

Setelah hampir 2 jam berjalan, akhirnya mobil Jackson berhenti juga. Cowok itu tersenyum melihat Eine yang sedang tertidur pulas di samping kirinya.

"Lo sukses bikin gue jatuh cinta dalam waktu yang sangat cepat, Ne."

Jackson mengguncang pelan tubuh Eine, "Ne, udah sampe nih." Eine membuka matanya dengan perlahan dan mengerjapkannya berkali-kali.

"Udah nyampe?" tanyanya dengan mata yang belum terbuka penuh. Jackson mengangguk lalu membantu Eine membuka seatbeltnya.

"So sweet banget sih lo." Jackson hanya tersenyum kecil sebelum akhirnya keluar dari mobil mendahului Eine.

"Gak kakak, gak adek sama aja. Hobinya ninggalin orang di mobil." umpat Eine.

Eine langsung mengikuti Jackson keluar dari mobil. Matanya langsung terbelalak melihat sekelilingnya.

"Gue baru sadar kalo dia bawa gue ke pantai." katanya sambil tersenyum sumringah.

Cewek itu berlari dengan senang mendekati Jackson yang sedang berdiri (sok) cool di pinggir pantai. Melihat kedatangan Eine, Jackson tersenyum dan kembali memperhatikan pemandangan di hadapannya.

"Udah lama gue gak ke pantai." ucap Eine tiba-tiba.

"Terus lo gak berterimakasih, nih? Gue kan udah ngebawa lo ke pantai."

"Iyadeh. Terimakasih ya, Tuan." jawab Eine malas.

"Emangnya kapan terakhir kali lo ke pantai?" tanya Jackson sambil mulai selonjoran di atas pasir.

Eine ikut duduk di samping Jackson. "Hm, mungkin kelas 3 SMP?" jawabnya gak yakin.

Jackson hanya menanggapi dengan beberapa anggukan. Untuk beberapa menit, keduanya terdiam sambil menatap pemandangan pantai. Sama-sama hanyut dengan pikiran masing-masing.

"Eh, emangnya gak bahaya selebritis kaya lo keluyuran begini?" tanya Eine tiba-tiba.

Jackson menoleh, "Tenang aja, gue sering kesini kok. Disini lumayan sepi dan jauh dari sorotan paparazzi."

Cekrek.

"Jack, lo denger suara itu gak?"

"Iya, gue denger. Itu bukan suara kamera 'kan?" kata Jackson takut-takut.

Cekrek.

Sontak Jackson dan Eine menoleh ke sumber suara. Seorang anak perempuan seumuran mereka mengarahkan lensa kameranya ke arah mereka, membuat keduanya kaget.

Cekrek.

Lagi-lagi anak itu menjepretkan kameranya. Udah pasti, wajah Eine dan Jackson akan terlihat jelas disitu.

Cekrek cekrek cekrek.

"Lo bilang disini aman 'kan?" bisik Eine.

"Biasanya sih gitu." jawab Jackson dengan bisikan juga.

"Duh, mampus nih kita."

-----

18 Maret 2015


Jasper!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang