Duapuluh!

239 14 4
                                        

"Beritanya makin nyebar, ya?"

Ini sudah ke-7 kalinya Jackson menanyakan hal yang sama sambil terus mondar-mandir.

"Jack, lo coba tenang dulu biar gue juga bisa mikir gimana cara bantuin lo."

"Gimana gue bisa tenang, Riz? Coba lo di posisi gue."

Riza ikut berdiri dan menghampiri Jackson. Wanita itu menepuk bahu Jackson pelan. "Jack, gue udah 2 tahun jadi manager lo dan ini pertama kalinya lo ambil pusing soal skandal. Biasanya lo santai-santai aja, tuh."

"Masalahnya ini Eine. Gue khawatir dia kenapa-kenapa karena masalah ini." jawab Jackson dengan panik.

"Jadi, kalian beneran ada apa-apa?"

Jackson mengusap tengkuknya, "Enggak, sih."

"Terus?"

"Lo tau 'kan fans banyak yang ganas. Justru kalo gue konfirmasi gak ada hubungan sama Eine, mereka bakalan ngelakuin hal buruk ke Eine. Mereka pasti bakalan ngecap Eine sebagai penggoda atau apalah itu."

"Ck, lagian lo kenapa kabur sih pas difoto? Lo harusnya kasih dia tawaran biar dia hapus fotonya." ujar Riza kesal.

"Gue mana kepikiran. Kemaren yang ada di pikiran gue cuma 'gimana caranya gue bisa kabur' udah. Kenapa gue bego' banget, ya?"

Riza menghela nafasnya. Dia gak habis pikir, kenapa bisa-bisanya Jackson sebodoh itu? Padahal, selama ini yang dia tahu Jackson bukan orang yang ceroboh atau sejenisnya.

"Yaudah, Jack. Sekarang lo istirahat aja. Gue bakalan pikirin jalan keluarnya." kata Riza akhirnya.

Jackson hanya mengangguk dan segera masuk ke kamarnya. Sedangkan Riza, wanita itu meninggalkan apartemen Jackson sambil tersenyum kecil.

"Gue punya ide." gumamnya.

-----

Jackson dan Riza memasuki rumah Eine. Kebetulan, Eine memang tidak masuk sekolah. Jelas 'kan, semua ini karena beritanya dengan Jackson yang sudah mulai menyebar.

"Jadi, ngapain kalian kesini?" tanya Eine to the point saat Jackson dan Riza baru saja menyentuhkan pantat mereka dengan sofa di ruang tamu Eine.

Wajah Eine terlihat sedikit pucat. Berbeda jauh dengan Eine yang biasanya. Itu membuat Jackson jadi khawatir. Cowok itu semakin yakin kalau ini adalah keputusan yang terbaik untuknya dan Eine.

"Ayo kita pacaran," jawab Jackson to the point juga.

Eine terkekeh meremehkan Jackson, "Lo bego' apa gimana, sih?"

"Udah, jawab aja. Lo mau apa nggak?"

"Gak." jawab Eine dengan cepat.

"Oke, kalo gitu ayo kita pura-pura pacaran." Perkataan Jackson membuat Eine tersenyum kearahnya.

"Jack, mending lo pulang dan belajar yang bener. Gue males ngikutin permainan konyol anak kecil kayak lo."

Eine baru aja mau meninggalkan Jackson dan Riza ke kamar, tapi perkataan Riza menahannya.

"Kamu pikir ini untuk kebaikan siapa? Ini untuk kebaikan kamu juga. Tolong dipikirkan lagi, kami udah susun rencana ini matang-matang."

Eine terdiam sebentar, "Rencana apa?" tanya Eine akhirnya.

"Jadi gini, menurut kami kamu bakalan lebih aman kalau pura-pura jadi pacar Jackson. Jadi, orang juga gak akan cap kamu yang aneh-aneh. Setelah selesai conference orang-orang akan berhenti ngejer kamu karena mereka pikir itu kebenarannya.

Ini aja untung-untung wartawan belum pada tau dimana rumah kamu. Lah, kalo mereka udah tau gimana? Kami juga nantinya gak bisa lindungin kamu, karena orang-orang taunya kamu sama Jackson 'bukan siapa-siapa'. Bener 'kan?"

"Iya, bener juga sih."

"Jadi gimana, kamu setuju apa nggak? Semua keputusan kembali ke tangan kamu."

"Yaudah, saya setuju kalo menurut kalian  itu yang terbaik. Tapi cuma pacar pura-pura!" kata Eine dengan tegas.

Riza tersenyum dan mengangguk, "Btw, kita bisa ngomong pake gue-elo aja sekarang."

"Okay."

-----

Eine's POV

Udah satu jam gue duduk di depan komputer, membaca semua artikel-artikel tentang gue dan Jackson. Okay, kayaknya untuk masalah artikel gak ada masalah. Semuanya menulis hal-hal postif.

Yang jadi masalah adalah komentar-komentar orang buat gue. Mungkin sekitar 80% nulis hal-hal negatif. Tapi gak apa-apa. Menurut gue itu wajar dan pasti lambat laun berita ini mulai menyusut.

Tok tok.

"Ne, Bunda masuk ya."

"Iya, Bun. Masuk aja." jawab gue.

Bunda masuk ke kamar gue dan memilih duduk di pinggiran kasur gue. "Gimana? Semuanya udah mulai membaik 'kan?"

Gue mengangguk sambil senyum (sok) manis, "Tenang aja, Bun. Bentar lagi juga semuanya beres." kata gue sambil mengacungkan jempol kearah Bunda.

Bunda ikut tersenyum, "Yaudah, kamu harus kuat ya ngejalanin ini. Ini baru cobaan kecil, loh."

"Siap bos!"

Pletak.

"Awww." Satu jitakan dari tangan mulus Bunda berhasil kena kepala gue. Salah apa lagi gue?

"Mentang-mentang Bunda lagi kasian sama kamu, bukan berarti kamu bebas dari beresin kamar ya. Cepet beresin kamar kamu!" omel Bunda.

"Duh, nanti aja deh. Ini juga 'kan udah sore. Bentar lagi udah malem, udah mau tidur lagi. Nanti juga acak-acakan lagi. Tanggung 'kan? Mendingan diberesin besok aja sekalian."

"Kamu tuh, ya. Perempuan tapi kok--"

Ting tong.

Omongan Bunda seketika terpotong karena suara bel. Wah, tamu penyelamat. "Bun, ada tamu itu. Coba Bunda buka dulu pintunya, siapa tau temen Bunda. "

Pletak.

"Awww,"

"Kalau selesai ngurusin tamu Bunda liat kamar kamu masih kotor, awas aja ya." Bunda langsung keluar dari kamar gue setelah memberi peringatan mengerikan. Cari aman, gue akhirnya memilih buat ngeberesin kamar.

"Ternyata kamar gue ancur juga, ya. Sampe bingung mau beresin yang mana dulu."

"Okay, kita beresin kasur dulu."

"Eh, gila kali ya gue ngomong sendiri."

"Bodo amat, deh."

Baru aja gue mau beresin kasur mungil gue, kepala Bunda udah nongol dari pintu.

"Bunda kok datengnya cepet banget? Ini 'kan baru berapa menit. Ya jelas, Ine belum selesai beresin kamarnya." kata gue sambil ngelindungin kepala gue dengan telapak tangan. Siapa tau 'kan gue dijitak lagi.

"Ck, yaudah beresin kamarnya nanti. Itu ada tamu nyariin kamu." ujar Bunda.

"Siapa, Bun?"

"Itu, si Joko."

"Joko? Joko siap--"

Eh tunggu.

Joko?

"Jasper?"

"Ya, itu lah pokoknya. Artis pujaan kamu. Udah cepet, turun ke bawah."

-----

12 April 2015


Jasper!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang