Part 24

605 45 3
                                        

"Jam berapa kamu akan datang?" Tanya Innara lewat sambungan telepon pada Halil yang sengaja menyalakan telepon dalam mode loudspeaker karena permintaan ibunya.

"Setelah magrib aku jalan, Mbak. Kenapa? Udah kangen?" Tanya Halil seraya mengulum senyum di kejauhan sana sementara di seberang Innara ibunya mengangkay sebelah alis atas panggilan 'Mbak' yang disematkan Halil pada putri sulungnya. "Belum lama pisah udah kangen aja. Segitu cintanya ya sama aku?" Pertanyaan Halil turut mengundang kekehan tersembunyi sang ibu yang masih kepo.

Innara memutar bola mata. Ia juga sebenarnya tidak mau menghubungi Halil. Tapi apa daya, ibunya terus mendesaknya untuk menghubungi Halil karena dia ingin menyajikan makan malam tepat waktu dengan kedatangan pria itu supaya makan malamnya tidak dingin. Innara berusaha menjelaskannya pada Halil tapi sepertinya Halil tidak percaya pada ucapannya.

"Tenang aja, aku pasti datang kok." Halil berkata dengan serius. "Mbak gak usah dandan yang cantik demi aku. Pakai apapun, di mata aku Mbak udah cantik kok." Ucapnya yang membuat Innara mendengus geli. Sementara Nyonya Sita melirik Nyonya Saidah sambil berkata 'Ciee...' dengan lirih namun disertai ekspresi mengejek.

"Lebay kamu. Ya udah, inget jangan telat." Dan tanpa menunggu jawaban Halil yang ia tahu akan kembali mengucapkan kalimat rayuannya, Innara menutup telepon dan menatap ibunya kesal. "Tuh, denger sendiri kan dia bilang apa?" Tanyanya yang dijawab anggukkan ibunya.

"Apa dia bakal suka sama makanan yang Bunda masak?" Tanya ibunya dengan cemas. "Apa ada makanan yang gak dia sukai? Atau apa dia alergi sesuatu?" Untuk ketiga pertanyaan itu, sejujurnya Innara tidak tahu.

"Kakak coba tanya dia." Innara kembali menyalakan ponselnya namun ibunya mencegahnya.

"Kakak ini gimana sih, masa makanan kesukaan pacar sendiri gak tahu." Keluh ibunya yang membuat Innara menahan diri untuk tidak memutar bola matanya. Bagaimana dia bisa tahu makanan apa yang disuka atau tidak disukai Halil sementara dia memang tidak mengenal pria itu. Status pacaranpun dia realisasikan karena Halil yang mendesaknya.

"Kakak belum kenal dia sejauh itu, Bun." Ucap Innara jujur. Ia kembali mengingat teguran Halil untuk tidak berbohong pada ibunya sekalipun itu dengan niatan untuk menenangkan wanita yang sudah melahirkannya itu. "Yang kakak tahu, dia gak alergi daging sapi ataupun seafood." Lanjutnya ingat akan makanan yang akan mereka makan kala itu. Tidak mungkin Halil mau membawanya ke restoran seafood kalau pria itu alergi kan? Ibunya menganggukkan kepala. "Ayah kapan pulang?" Kali ini Innara memandang ibunya ingin tahu.

"Biasanya sampai rumah jam lima." Ucap ibunya memberitahu. "Ayah kamu bener-bener antusias mau ketemu sama Halil. Dia malah yang maksa Bunda buat ngambil cuti di rumah sakit supaya bisa nyusulin kamu."

"Masa sih?" Innara mencebik dan memandang ibunya tak percaya.

"Kalo gak percaya, tanya saja sama Nin." Nyonya Sita mengedikkan kepalanya ke arah nenek Innara dan wanita lanjut usia itu hanya mengulum senyum saja yang membuat Innara balik memandang ibunya sambil memicingkan mata.

Waktu berlalu dan Innara menyambut kepulangan ayahnya di depan pintu. Pria yang sudah menjadi ayahnya itu tersenyum dengan sangat lebar dan memeluk Innara seolah Innara adalah putrinya sendiri. Bahkan tanpa segan pria itu mencium dahi Innara dengan lembut dan menyatakan kerinduannya.

Innara pun melakukan hal yang sama. Meskipun Tuan Parsa bukan ayah kandungnya namun Innara memperlakukan pria itu seolah dia adalah ayah kandungnya. Karena sejak semula, pria itu hadir untuk memenuhi kekosongan posisi ayah Innara dan mereka memang saling menyayangi satu sama lain. Namun ketika hubungannya dengan Azanie mulai merenggang, ia pun takut untuk dekat dengan ayahnya karena takut Azanie semakin membencinya. Meskipun pada akhirnya, adik tirinya itu tetap tidak menyukainya.

Mbak, I Love You (Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang