Part 25

762 51 8
                                        

"Ada yang salah?" Bisik Halil pada Innara saat Innara mendekat dan merangkul lengan Halil tanpa aba-aba.

"Tergantung sudut pandangmu. Bisa jadi persepsi kita tentang masalah itu berbeda." Jawab Innara ketus yang membuat Halil terkekeh, mengusap kepala gadis itu dan menariknya supaya ia bisa mengecup sisi kepalanya sebelum merengkuh pinggang langsingnya. Innara yang terkejut dengan sikap Halil menatap pria itu dengan mata terbelalak.

"Aku lupa memberitahumu kalau aku orang yang suka menyentuh." Bisiknya lirih yang kembali dibalas tatapan horor Innara.

"Udah mesra-mesraannya?" Teguran bernada geli itu membuat Innara dan Halil menoleh bersamaan. Di hadapan mereka kini berdiri Tuan Parsa dan Nyonya Sita.

"Malam, Om. Tante." Salam Halil meraih tangan keduanya dan mencium punggung tangan mereka bergiliran. "Maaf terlambat." Ucapnya tulus.

Nyonya Sita menggelengkan kepala. Dia masih harus menata hatinya melihat sikap mesra yang Halil lakukan pada putri sulungnya. Jelas, wanita paruh baya itu melihat cinta dan ketulusan di mata Halil untuk Innara dan itu membuat hatinya membuncah karena bahagia.

"Meskipun kamu jadi orang terakhir yang datang, tapi kamu tidak terlambat." Ucap Tuan Parsa sopan. "Masuklah, Om kenalkan kamu sama adik-adik Innara.

Halil mengangguk. Ia menyerahkan bingkisan yang dibawanya kepada Innara. "Ini Sulu Kofte dan Baklava." Bisiknya pelan yang membuat Innara mengerutkan dahi. "Makanan khas Turki, kamu bisa menikmatinya nanti." Ucapnya yang dijawab anggukkan Innara.

"Nenek Azanie, Nin Saidah." Ucap ayah Innara memperkenalkan Nin Saidah yang kini berdiri dengan rangkulan Nyonya Sita di lengannya. Halil mendekat dan mencium punggung tangan wanita lanjut usia itu. Wanita tersebut mengusap kepala dan bahu Halil dan entah kenapa Halil merinding saat merasakan sentuhan itu. Bukan karena takut, tapi entahlah, rasanya seperti sesuatu mengalir di sekujur tubuhnya. Mungkin kala menyentuhnya Nin Saidah juga turut mendoakannya.

"Adik Innara, Azanie dan suaminya, Rayka." Halil tersenyum manis pada Azanie, semanis mungkin yang dibalas Azanie dengan tatapan tak percaya. Halil tidak terlalu memedulikan reaksi wanita itu yang ia sadar selain sorot terkejut, ada sorot memuja juga disana. Oh Halil bukannya sombong, tapi dia memang tampan. Ia tertawa jumawa dalam hati.

Mengalihkan perhatian pada Rayka, Halil berusaha sebisa mungkin untuk bersikap sopan sementara inginnya ia menendang pria itu. Apa pria itu bolos dari pekerjaannya setelah tahu Innara pergi ke Jakarta? Jangan sampai pria itu menggunakan jabatannya untuk bersikap seenaknya karena kelak, Halil tidak akan mentolerir itu. Meskipun ya, dia sendiri melakukan hal yang sama. Menggunakan Serkan supaya dia bisa mendapatkan ijin cuti padahal dia masih terhitung karyawan baru.

"Ayo, makan malam sudah siap." Ucapan Tuan Parsa memecah keheningan.

Tuan Parsa berjalan lebih dulu menuju area makan dimana meja makan panjang dengan delapan kursi berada. Nyonya Saidah berjalan dalam rangkulan Nyonya Sita sementara Innara yang sebelumnya Halil rangkul kini berjalan di depannya dengan jemari mungilnya bertaut dengan jemari Halil. Selangkah lebih baik, ucap Halil dalam hati. Karena kini Innara yang lebih dulu menyentuhnya, bukan sebaliknya. Meskipun Halil tahu alasan gadis itu melakukannya hanyalah untuk memberi kesan mesra pada pasangan yang berjalan di belakang mereka.

Untung bagi Halil karena keluarga Innara bukanlah tipe keluarga konservatif dimana saat makan semua orang harus diam. Saat makan malam dimulai, ayah Innara juga ibunya terus mengajak Halil bicara dan Halil menanggapi semuanya sesuai dengan pengetahuannya.

"Jadi, dimana orangtuamu? Aku harus memanggilmu apa? Mas, abang? Berapa usiamu?" Tanya Azanie yang meskipun berusaha bersikap datar jelas Halil menangkap rasa ingin tahunya yang tinggi.

Mbak, I Love You (Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang