Part 28

468 35 2
                                        

Halil melajukan mobilnya dalam kecepatan sedang. Dari spion kanannya, ia melihat seseorang mengikutinya dan ia tahu kalau itu adalah Rayka karena tadi saat keluar ia sempat memperhatikan mobil milik pria itu.

Dengan sengaja Halil memberi sein kiri dan menepikan mobilnya ditempat yang cukup sepi dan saat itu juga Rayka mengikutinya.

Halil masih menunggu di dalam mobilnya. Mencari tahu apa yang ingin Rayka lakukan padanya. Lalu ia mendengar kaca jendelanya diketuk dan Rayka terlihat mencoba melihat ke bagian dalam mobilnya yang memang dipasangi kaca film yang cukup gelap. Dengan sengaja, Halil menurunkan kaca mobil dan memandang Rayka dengan tatapan datarnya.

"Apa yang kau inginkan?" Tanyanya tanpa basa-basi.

"Keluarlah." Perintah pria itu kasar.

"Aku tidak perlu menurutimu. Disini aku bukan bawahanmu." Ucap Halil dengan dingin. "Kalau kau ada perlu denganku, mintalah dengan sopan." Lanjutnya dengan ekspresi tak kalah angkuhnya seperti yang Rayka tunjukkan padanya.

"Katakan saja kalau kau takut berhadapan langsung denganku." Ucap Rayka dengan nada mengejek. Halil mengangkat sudut mulutnya dan mendengus. Dengan gerakan lambat, ia melepas seatbeltnya dan turun dari mobil. Menyandarkan pinggulnya pada pintu mobil yang tertutup dan melipat kedua tangannya di depan perut.

"Jadi, katakan apa yang ingin kau katakan dan setelah itu berhenti menggangguku." Ucap Halil dengan dingin.

Rayka bergerak dengan cepat, menarik kerah kemeja Halil dan melayangkan tinjunya, namun jelas Halil tidak sebegitu mudahnya dibodohi karena telapak tangan kanannya dengan segera menahan kepalan tangan Rayka tepat beberapa senti sebelum tinju itu menyentuh wajahnya.

"Kubilang katakan apa yang ingin kau katakan, bukan pukul jika kau ingin memukul." Ucapnya seraya mencengkeram kuat tangan Rayka dan membuat pria itu mengaduh. Halil mendorong pria itu sehingga Rayka mundur beberapa langkah karena tak siaga.

"Apa sebenarnya yang kau rencanakan?!" Tanya pria itu dengan nada tinggi karena marah.

"Apa yang kurencanakan memangnya?" Halil balik bertanya. Ia kembali menyandarkan pinggulnya di depan pintu dan kembali menyilangkan lengan di depan dada. "Memangnya ada sesuatu yang aku rencakan?" Tanyanya dengan nada mengejek.

"Kau jelas berusaha menjebak Innara, bukan begitu? Kau berniat memanfaatkannya kan? Kau, pria miskin yang ingin kaya dengan cepat." Hina Rayka yang Halil balas dengan dengusannya.

"Lalu kenapa? Yang aku jebak itu Innara, bukan kau. Kau bukan siapa-siapanya. Kau hanya sekedar kisah yang terselip di masa lalunya. Bagian tidak penting yang coba Innara hilangkan keberadaannya."

"Tidak! Itu tidak benar. Dia mencintaiku dan itulah alasan kenapa dia membawamu kesini. Dia pikir, dengan berpura-pura berpacaran denganmu akan membuatku menjauh darinya. Dia salah. Aku akan menceraikan Azanie dan akan kembali padanya. Tapi kau malah menjebaknya."

"Aku?" Halil menunjuk dirinya sendiri. "Bukan aku yang memanggil tante Sita dan Om Parsa kalau kau lupa." Ucapnya dengan nada mengejek.

"Kau memanfaatkan kebaikan mereka."

"Benarkah? Lalu bagaimana denganmu? Bukankah kau dan keluargamu dulu juga memanfaatkan kebaikan mereka untuk bisa menikah dengan Azanie?"

"Aku tidak melakukannya. Aku tidak menginginkan pernikahan itu terjadi."

"Tapi kau tidak memberontak untuk membuatnya gagal." Ucap Halil dengan nada menghina. "Berhentilah mengusik Innara. Apapun yang terjadi padanya, itu bukan lagi urusanmu. Aku memanfaatkannya atau menyakitinya, itu bukan hak mu untuk ikut campur. Kau bukan siapa-siapanya kecuali sebagai mantan calon suami yang kini menjadi adik iparnya."

Mbak, I Love You (Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang