Halil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia mencoba menghubungi ponsel kedua orangtuanya namun tidak satupun dari mereka mengangakatnya.
"Ayolah.." Geram Halil seraya kembali mencoba menghubungi nomor ayahnya lagi. Kesal, Halil hampir saja membanting ponselnya.
Sial! Kenapa harus sekarang?! Gumamnya pada diri sendiri seraya menghubungi nomor lain yang sebenarnya enggan ia mintai bantuan.
"Hmmm?" Jawab seseorang di seberang sana.
"Dimana Mama sama Papa?" Tanya Halil tanpa basa-basi.
"Kok nanya sama gue? Gue bukan old sitter mereka kali." Jawab kakaknya ketus.
"Gue tahu. Tapi biasanya kan loe kontekan sama nyokap. Masa loe gak tahu dimana mereka?"
"Kenapa? Mau gue kasih tahu?" Tanya Innara dengan nada mengejek yang membuat Halil mengepalkan tangan kanannya karena kesal. Kalau saja kakak perempuannya ada disini, dia akan mencubit wanita itu karena gemas.
"Gue perlu ngehubungin mereka. Dimana mereka sekarang?"
"Tanya aja sama managernya." Saran Hanira lagi.
"Loe pikir gue belum ngelakuin itu?"
"Ya kalo mereka gak tahu, gue juga gak tahu." Lanjutnya datar.
"Mana mungkin loe gak tahu. Secara Mama apa-apa juga suka bilang sama loe." Ucap Halil ketus. Halil tidak cemburu akan kedekatan Hanira dengan ibunya. Ia tahu sebagai sesama kaum perempuan mereka lebih memiliki bahan untuk dibicarakan sama seperti yang Halil lakukan dengan sang ayah.
"Nyokap gak bilang apa-apa." Jawab Hanira lagi.
"Jangan bohong."
"Gue yang bohong atau loe?" dengus Hanira yang membuat Halil mengernyit. "Loe mau kawin kan? Sama cewek yang di resort itu?" Halil seketika terbelalak. "Terkejut gue tahu darimana? Gue tahu dari dinding yang berbisik." Jawab Hanira yang membuat Halil mendengus. "Nyokap juga tahu, jadi dia sekarang lagi marah sama loe. Dia juga minta bokap supaya mengabaikan loe." Ucap Hanira lagi yang lagi-lagi membuat Halil terbelalak. "Loe sih, mau kawin gak bilang dulu orangtua. Durhaka loe jadi anak. Untung ganteng. Kalo enggak, bingung nyokap mau sumpahin loe apa lagi." Jawab Hanira yang lagi-lagi dijawab dengusan Halil.
"Jadi, dimana mereka?"
"Ya gue gak tahu." Ucap Hanira lagi. "Yang pasti, yang gue denger, dia udah minta Aunty Ana sama Aunty Gisna supaya mereka nyuruh Uncle Adskhan sama Uncle Lucas gak bantuin loe buat jadi saksi di nikahan loe. Jadi, loe gak bisa bawa siapa-siapa. Semua orang udah Mama ancam. Akara, Abi. Semuanya gak terkecuali. Jadi kalo loe mau kawin, kawin aja sendiri. Gue sama Razan juga gak mau nemuin calon loe."
Sial! Gerutu Halil dalam hati. Sekarang dia harus apa? Kalau keluarganya tidak mau membantunya untuk datang ke kediaman Innara, Halil bisa apa? Semakin lama saja waktu untuk dia bisa menikah dengan Innara. Padahal semalam dia sudah sangat antusias dan berharap malam ini dia sudah resmi menjadi suami Innara. Azanie mempermudah keinginannya, tapi malah keluarganya sendiri yang memperumit keadaan. Tapi Halil jelas tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Salahnya sendiri yang grasak-grusuk dan tidak memberitahukan ini pada orangtuanya sehingga orangtuanya—khususnya ibunya—balik marah padanya.
Sekarang apa yang harus dia lakukan? Apa dia harus menyusul orangtuanya? Tapi dimana mereka? Jangan-jangan mereka justru sedang bulan madu.
"Bantu gue." Pinta Halil pada kakak kandungnya.
"Bantu apa?"
"Bantu gue hubungi mereka. Kalo mereka gak ada, gue gak bisa nikahin Innara secepatnya." Ucapnya dengan nada memelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mbak, I Love You (Tamat)
RomanceTersedia PDF, Cetak dan versi lengkap bisa dibaca di Karyakarsa. "Aku suka sama Mbak." Ucap Halil dengan senyum lebarnya. Innara mengerutkan dahi dan memandang pria yang usianya dua tahun lebih muda sekaligus bawahannya itu dengan tatapan tajam dan...
