"Apa-apaan kalian ini?!" Tegur Nyonya Sita seraya berjalan mendekati Halil dan Innara. "Bunda tahu kalian ini sudah dewasa. Tapi apa harus seperti ini?" Tanya Nyonya Sita lagi dengan tatapan dingin mengarah pada Innara dan Halil.
"Dan setelah ini, Bunda masih yakin mau biarin mereka berdua tetep barengan? Kita loh gak tahu mereka bakal ngapain aja selama jauh dari kita. Siapa yang bisa menjamin kalau kak Nara masih menjaga kehormatannya. Lihat aja apa yang dia lakukan, tingkahnya seperti wanita gatal." Ucap Azanie dengan nada nyinyirnya yang membuat Innara menatapnya tajam.
Innara tahu apa yang baru saja ia lakukan, setahu ia kalau itu adalah hal yang tidak pantas untuk keluarganya lihat. Tapi perlukah Azanie memperjelas semuanya? Atau Azanie memang sengaja melaporkannya pada orangtua mereka untuk melihat tindakan asusila yang baru saja mereka lihat? Tapi untuk apa?
"Nikahkan saja mereka secepatnya. Nikah siri pun lebih baik untuk sementara ini. Daripada menunda-nunda. Siapa yang akan memastikan mereka tidak akan kebablasan. Kalau mereka main aman, kalau kak Nara berhakhir hamil duluan dan setelahnya dia tidak mau bertanggung jawab bagaimana?" Lagi kalimat bernada nyinyir itu diucapkan oleh Azanie.
"Mana bisa seperti itu." Sergah Rayka, terang-terangan menolak ide yang diucapkan istrinya. "Bagaimana mungkin Innara langsung menikah dengan Halil sementara kita sendiri tidak tahu siapa dia yang sebenarnya. Kita tidak tahu seperti apa latar belakang keluarganya. Dan bagaimana kalau dia ternyata tidak berasal dari keluarga baik-baik." Lanjutnya tanpa peduli tatapan marah Halil karena pria itu membawa kedua orangtuanya. "Yah, ini semua jelas jebakan untuk Innara. Dia sengaja melakukan semua ini karena dia memang berniat memanfaatkan Innara."
"Apa maksud kamu?" Tanya Tuan Parsa pada menantunya.
"Ayah sadar gak sih. Innara ini sedang dikelabui. Dia ini orang asing. Dia mengaku berasal dari Turki padahal bisa saja itu karangannya saja. Siapa yang benar-benar tahu dia berasal darimana. Suruh dia menunjukkan semua dokumen kewarganegaraannya. Siapa yang tahu kalau dia itu ingin menipu kita. Dia pemalas yang berniat memanfaatkan kepolosan Innara yang saat ini dalam keadaan rapuh. Lagipula, Innara jelas berpenghasilan lebih besar daripada dia. Dan setelah datang kesini dan melihat apa yang Ayah dan Bunda miliki, dia pasti semakin ingin mendapatkan semuanya."
"Hanya karena kamu kaya raya dan memiliki jabatan tinggi bukan berarti kamu bisa menyepelekan dia seperti ini." Bela Innara yang kini berdiri di depan Halil, membela dan berupaya menjadi tameng pria itu. "Dia tidak seburuk yang kamu pikir. Atau memang selama ini kamu merendahkan orang-orang berposisi rendah seperti kami? Atau dulu, kamu juga menganggapku sebagai pengeruk harta hanya karena aku menjadi bawahanmu, begitu?"
"Jangan libatkan masa lalu seolah masa lalu kalian itu indah untuk dikenang." Ucap Azanie ketus. "Lagipula yang dibahas saat ini adalah kakak dan dia. Melihat apa yang baru saja kalian perbuat, jelas sekali kalian hanya tinggal satu langkah lagi sebelum akhirnya saling menelanjangi satu sama lain." Azanie mengingatkan yang membuat Innara seketika menundukkan kepala karena malu.
Ia tidak bisa menyalahkan Halil karena meskipun pria itu yang memulai ciuman mereka, dirinya turut terlibat akan berlangsungnya adegan panas tersebut karena dirinya yang memang tidak menghindar.
"Kami tidak akan melakukan hal yang lebih jauh daripada itu, sungguh." Ucap Innara dengan nada memelas pada orangtuanya.
"Tidak ada yang tahu apa yang terjadi di balik pintu." Bisik Azanie yang masih bisa Innara dengar. "Nikahkan saja mereka secepatnya. Kalau perlu malam ini juga." Ia masih mencoba untuk mempengaruhi orangtuanya.
"Tidak semudah itu Zanie." Ucap ayahnya dengan nada rendah.
"Apanya yang tidak semudah itu? Tidak ada yang lebih mudah bagi laki-laki selain menikah siri. Tidak perlu wali, dia hanya perlu saksi dari pihaknya. Toh calon mempelai wanitanya sudah ada. Tinggal ijab kabul saja." Ucap Azanie menatap tajam ayahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mbak, I Love You (Tamat)
RomanceTersedia PDF, Cetak dan versi lengkap bisa dibaca di Karyakarsa. "Aku suka sama Mbak." Ucap Halil dengan senyum lebarnya. Innara mengerutkan dahi dan memandang pria yang usianya dua tahun lebih muda sekaligus bawahannya itu dengan tatapan tajam dan...
