"Kamu serius sama Innara?" Pertanyaan itu diajukan oleh Tuan Parsa saat mereka sedang duduk berdua di halaman belakang dimana kolam renang berada.
"Serius seperti apa yang Om maksud?"
"Serius menurut versimu." Tuan Parsa kembali bicara
"Jika serius menurut anggapan semua orang adalah tentang pernikahan. Maka ya, saya serius. Kedatangan saya kesini bukan karena saya ingin menunjukkan pada semua orang kalau saya serius. Tapi juga ingin mengatakan pada Om, Tante dan Nin kalau saya akan menjaga Innara dengan baik sehingga Tante, Om dan juga Nin bisa merasa tenang saat berjauhan dengan Innara meskipun ada Rayka disana."
"Jadi, kamu tahu semuanya?" Tuan Parsa tampak terkejut. Halil menjawab pertanyaan pria itu dengan senyuman.
"Tolong jaga dia baik-baik. Selama ini dia sudah berusaha menjaga perasaan kami sementara kami tidak bisa melakukan apa-apa untuknya."
"Om tenang saja. Sekalipun saya hanya karyawan rendahan, tapi saya berjanji kalau saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuatnya bukan hanya bahagia, tapi juga merasa aman dan terjaga." Jawab Halil tegas. Tuan Parsa menepuk punggung Halil dengan cukup kuat.
"Om tidak melihat siapa kamu, darimana kamu berasal atau seberapa besar penghasilan yang kamu dapatkan. Bagi Om, asal Innara bahagia dan merasa nyaman, itu sudah cukup.
"Saat menikahi ibunya, Om berjanji akan membuatnya bahagia. Namun kenyataannya, justru sebaliknya. Om menjadi sumber kesakitan yang berkali-kali dialaminya. Om merasa malu. Pada Innara, pada ibunya dan juga pada neneknya. Karena itu, Om menaruh harapan besar padamu. Berharap kamu benar-benar bisa membahagiakannya."
"Om tenang saja, kalau dia tidak bahagia, saya akan memaksanya untuk bahagia." Ucap Halil yang dijawab tawa Tuan Parsa.
"Apa yang kalian bicarakan? Tawa ayah sampai ke rumah tetangga." Komentar ibu Innara seraya berjalan dengan nampan berisi minuman di tangannya sementara Innara membawa makanan di nampan lainnya.
"Gak ada tante, cuma bahas masalah pernikahan." Jawab Halil seraya menggumamkan terima kasih saat Nyonya Sita memberikan minuman padanya.
"Pernikahan siapa?" Tanya Nyonya Sita di yang kini duduk di samping suaminya.
"Pernikahan saya sama Innara dong, Tan. Masa pernikahannya Om. Emang Tante ikhlas Om beristri dua?"
"Lah, kamu ngaco." Sergah Tuan Parsa salah tingkah karena diberi pelototan sang istri.
"Emang siapa yang mau nikah sama kamu?" Tanya Innara dengan alis bertaut tak setuju.
"Ya, Mbak lah. Siapa lagi?" Halil balik bertanya.
"Emangnya aku mau?"
"Ya, kalo gak mau aku paksa aja." Jawab Halil seenaknya. "Mbak tahu kan kalo aku ini tukang paksa."
"Mana ada yang begitu. Dimana-mana kalo nikah itu harus karena suka sama suka."
"Mbak aja yang gak jujur kalo sebenernya Mbak suka sama aku. Kenapa? Malu ketahuan sama orangtua Mbak?"
"Mana ada. Lagian kita ini baru aja pacaran, masa iya udah bahas nikah aja?"
"Lah, emang kenapa? Kan tujuannya tetap kesana. Ngapain dinanti-nanti."
"Kita harus saling kenal dulu sebelum nikah, jangan grasak grusuk."
"Lah, gak ada yang menjamin kalo kita akan benar-benar menunjukkan sisi terburuk masing-masing. Sifat asli pasangan itu tetep baru kelihatan setelah nikah. Kalo pas pacaran mah sepertiganya juga enggak. Iya gak Om, Tante?" Halil meminta pendapat dua orang tua yang ada di hadapannya. Keduanya hanya saling mengangkat bahu. "Lagian di keluarga aku itu udah pada biasa nikah cepat. Orangtua aku juga. Dan sekarang udah tiga puluh tahun mereka nikah."
KAMU SEDANG MEMBACA
Mbak, I Love You (Tamat)
RomanceTersedia PDF, Cetak dan versi lengkap bisa dibaca di Karyakarsa. "Aku suka sama Mbak." Ucap Halil dengan senyum lebarnya. Innara mengerutkan dahi dan memandang pria yang usianya dua tahun lebih muda sekaligus bawahannya itu dengan tatapan tajam dan...
