Halil datang ke kediaman Innara pada pagi hari mengikuti permintaan Tuan Parsa. Semalam, setelah mendapatkan pesan dari Innara, Halil ingin berjingkat kegirangan karena jelas jawaban 'Ya' yang diberikan Innara adalah apa yang sangat ia inginkan.
Bayangan tentang pesta pernikahan yang megah, malam pertama yang indah dan juga masa depan yang cerah sudah menari-nari di pelupuk matanya.
"Jadi, apa yang membuat Mbak berubah pikiran sampai mau menikah denganku?" Tanya Halil langsung kepada Innara lewat telepon setelah ia pergi meninggalkan sepupu-sepupunya.
"Kau benar tentang Azanie dan juga Rayka." Jawab Innara dengan lirih.
Senyum di wajah Halil mengembang. Ia ingin menyombongkan diri atas ketepatan prediksinya, namun ia menahan diri karena ia tahu hal itu akan menyakiti perasaan Innara.
"Aku melihat kebencian di matanya. Aku tidak tahu kenapa dan aku tidak sanggup mengatakannya karena aku takut merasa semakin terluka." Ucap Azanie lagi dengan sedih.
"Pelan-pelan, satu demi satu semuanya akan terungkap." Ucap Halil meyakinkan. "Suatu saat nanti aku akan membantu Mbak mencari tahu kenapa Azanie sampai berbuat sejauh ini." Ucapnya yang hanya dijawab keheningan Innara.
"Aku akan bicara dengan ayah besok pagi. Mungkin setelah itu ayah akan menghubungimu." Lanjutnya.
"Baiklah, aku akan menunggu pesan ataupun telepon dari calon ayah mertuaku dengan senyuman manisku." Ucap Halil yang membuat Innara terkekeh.
Pagi harinya, Innara langsung berhadapan dengan kedua orangtuanya.
"Jadi kakak benar-benar akan menikah dengan Halil, secara siri?" Tanya Tuan Parsa pada putri sulungnya. Innara menjawab pertanyaannya dengan anggukkan.
"Kenapa harus secara siri? Kenapa tidak menikah resmi? Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat dokumen pernikahan kalian?" Kali ini ibunya bertanya.
"Kakak gak tahu, Bun. Kakak belum pernah menikah dengan pria berkewarganegaraan asing." Ucap Innara mencoba bercanda namun tidak mendapatkan tanggapan yang sama dari kedua orangtuanya. "Mungkin bisa berminggu-minggu atau berbulan-bulan." Ucap Innara lirih dengan kepala tertunduk.
"Lalu bagaimana dengan orangtuanya? Setidaknya kita juga harus mengenal mereka. Bagaimana mungkin Bunda menikahkan kamu dengan pria yang kita tidak kenal keluarganya? Bagaimana kalau ibunya tidak menyukai kakak? Atau ayahnya? Meskipun kakak yang menikah dengan Halil, tapi tetap kita harus melibatkan keluarganya."
"Bunda dengar sendiri dari Halil apa pekerjaan orangtuanya. Tidak mungkin kakak mendesak mereka untuk datang secepatnya. Bagaimana kalau mereka tidak memiliki tabungan?"
"Kalau begitu, biar kami yang membayar ongkos perjalanan mereka. Hanya orangtuanya saja kan? Bunda bahkan akan menyiapkan mereka hotel untuk menginap jika itu yang kakak cemaskan."
"Bun..."
"Kalau kakak tidak mau, Bunda mau kakak berhenti bekerja disana. Berhenti menemui Halil." Perintah ibunya dingin yang membuat Innara seketika membelalakkan mata.
Berhenti bekerja? Itu sama saja seperti buah simalakama baginya. Bekerja dia bertemu dengan Rayka, dan berhenti bekerja dia akan bertemu dengan Azanie. Namun jika dia tetap bekerja, dia akan bisa bertemu dengan Halil dan itu dia rasa jauh lebih nyaman baginya.
"Bunda gak bisa semudah itu minta kakak berhenti bekerja."
"Kalau begitu, minta Halil membawa orangtuanya." Ucap ibunya tanpa mau dibantah. "Kak. Mau menikah siri ataupun resmi, keduanya tetap sah secara agama. Dan bersumpah kepada Tuhan itu bukan hal yang main-main. Hanya karena kalian diminta menikah dalam waktu yang cepat, bukan berarti kalian tidak perlu melibatkan orangtuanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mbak, I Love You (Tamat)
RomanceTersedia PDF, Cetak dan versi lengkap bisa dibaca di Karyakarsa. "Aku suka sama Mbak." Ucap Halil dengan senyum lebarnya. Innara mengerutkan dahi dan memandang pria yang usianya dua tahun lebih muda sekaligus bawahannya itu dengan tatapan tajam dan...
