Jaemin yg sedang berada di rumah, tiba tiba ia memikirkan tentang adiknya shotaro.
Apakah ia harus ke makamnya? Karena ia juga sudah lama tak berkunjung ke makamnya shotaro.
" jen.. Tiba tiba aku kepikiran buat ke makamnya shotaro, boleh kan? " tanya jaemin, jeno melirik kearahnya lalu mereka saling beradu pandang
" sama aku ya? " ucap jeno
Jaemin sedikit menunduk, dan kembali mendongak menatap mata jeno
"tapi.. "
" aku takut kamu kenapa napa, jadi sama aku aja ayok " ucap jeno lalu bangkit dari duduknya
Jaemin menatap kepergian jeno dari hadapannya, jujur ia ingin pergi sendiri karena ia ingin melampiaskan kesedihannya ataupun kesenangannya kepada adiknya yg tersayang itu.
Jeni kembali, jaemin menatapnya lalu ikut bangkit daro duduknya menuju keluar rumah.
.
.
.
.
Sesampainya di makam shotaro, jaemin berjalan dengan lesu entah kenapa hatinya seperti tersayat belati.
Ia berjongkok makamnya itu.
" shotaro.. Adek gue yg paling gue sayangi, udah lama gue gak dateng ke makam kamu.. Andai.. Kamu masih hidup pasti udah gue ajak bersenang senang " ucap jaemin
" gue pengen kita kembali kayak dulu lagi.. Gue kangen sama senyuman ceria nya adek gue, setiap lo sedih pasti ngadu ke gue, sekarang gue... " jaemin tak mampu lagi mengucapkan kata katanya, sungguh ia ingin menangis sekencang kencangnya.
Jeno yg melihat jaemin seperti itu, ia menghampirinya dan memeluknya dari belakang.
" udah.. Ungkapin aja semuanya, gue ada disini kok gue bakalan temenin lo " ucap jeno
" hiks.. Gue gak bisa.. Gue g-gak kuat b-buat hiks.. Lanjutin kata kata nya " ucap jaemin dengan terbata bata.
Dan disitulah awan sudah terlihat hitam yg berarti hendak hujan.
" yaudah, kita pulang dulu ya? Nanti besok kita kesini lagi.. Sekarang udah mau hujan gini " ucap jeno ygdi angguki oleh jaemin
.
.
.
Bell pulang sekolah sudah bersuara sejak 3 menit yg lalu.
Devan sudah pulang ke rumahnya, terlihat sepi, hening, javad pun entah kemana, padahal shift 2 sudah akan di mulai di sekolahnya
" anjir, kalo sepi gini berasa bet horror nya " ucap devan
" dahlah mending gue langsung tidur, mana pegel badan gue " lanjutnya
.
.
.
.
o==[]::::::::::::::::>
Devan terbangun dari tidurnya, ia lihat hari sudah tampak menggelap
Ia berjalan ke kamat mandi untuk membasuh mukanya. Dan kembali turun ke bawah.
" hm, udah bangun? " ucap jeno yg mengetahui devan anaknya sedang berjalan di hadapannya pisisinya jeno sedang berada di meja makan dan devan di depannya
" dad.. Aku izin keluar ya? Seoalnya aku ada kerja kelompok sama temen aku " ucap devan memohon
" yakin kerja kelompok doang? Awas aja kalo kamu keliaran kemana mana " ucap jeno
" aku pake mobil kok pah gak akan keliaran kemana mana, lagia udah malem juga " ucap devan
" hm, yaudah sana, asalkan pulangnya jangan malem malem " ucap jeno
" kok daddy jadi beda gini sih? " gumam devan seraya menatap jeno lekat.
Jeno yg menyadari dirinya sedang di tatap, jeno membalas tatapan itu dengan tatapan dinginnya.
" kenapa? Katanya mau kerja kelompok? " ucap jeno
Devan membuyarkan lamunannya
" a-ah iya, yaudah aku siap siap dulu " ucap devan lalu berjalan ke arah kamarnya
.
.
.
.
Setelag bersiap siap devan berangkat menggunakan mobil miliknya.
" eh, itu.. Bukannya jisung ya? Ngapain dia keluyuran malem malem, perasaan dia gak pernah keluyuran malem malem gini, tapi.. Yaudah deh " gumam devan lalu ia tak memikirkan iti, ia fokus menyetir mobilnya.
......
Saat ia hendak pulang ke rumahnya ia tak sengaja pulang terlambat, sebelumnya ia nongkrong dulu di bar hingga pulang jam 01.43 malam
" hadehh anjir gimana nih, gue pasti di marahin sama daddy gue " gumamnya
Sesampainya devan di rumah, jujur jantungnya berdetak kencang
" hm, dari mana aja?! Katanya pulangnya di bawah jam 12 malem, kenapa sekarang baru pulang? Abis dari mana? " tanya jeno
" a-anu dad.. Tadi aku.. Kerja kelompoknya kelamaan makanya pulangnya telat " ucap devan berbohong.
" kamu mau menipu saya?! Jangan pura pura bodoh devan! Kau sudah besar! Tentunya harus berfikir atas ucapan yg kamu lontarkan pas tadi sore! Masih inget gak?! " bentak jeno
Devan yg di bentak hanya bisa menunduk tak mampu menatap netra mata milik daddynya yaitu jeno
" JAWAB!! Kamu gak bisu devan! Lebih baik kamu menjawab pertanyaan saya atau saya akan menghukummu dengan cambukkan?! " ucapan jeno semakin meninggi
Devan menggeleng ribut
" MAKANYA JAWAB DEVAN!! " bentak jeno
" i-iya dad.. A-aku.. Aku gak sengaja buat ke bar dulu.. Aku gak tau " ucao devan dengan gugup
" ngapain ke bar?! Mau belajar mabuk kamu disana hah?! Semakin hari kamu semakin menjadi jadi ya devan! Saya dengan bunamu selalu mendidik mu dengan baik devan! Tapi perlakuan mu seperti ini! Mau jadi apa kamu hah?! " bentak jeno membuat devan takut benar benar takut
" m-maaf dad "
" sekali lagi kamu pergi ke bar! Saya gak akan lagi menganggap kamu sebagai anak saya! Mengerti?! " ucap jeno lalu di angguki oleh devan
Devan berlalu dari pandangan mengerikan jeno, dan ia berjalan melewati jaemin yg menatapnya datar dan sedikit tajam, ia hanya bisa melihat itu lewat ekor matanya jujur ia enggan menatap kedua orang tuanya, karena ia takut
......
Yeay up!! 🗿
Tapi pendek, maap ye
Ada typo? Maapin

KAMU SEDANG MEMBACA
BELOVED HUSBAND {NOMIN}
Jugendliteraturseorang remaja yg berumur 17 tahun terpaksa memutuskan sekolahnya karena wasiat dari orang tuanya memerintahkan untuk menikahi seorang remaja berumur 18 tahun yg bekerja menjadi ceo NEO CULTURE TECHNOLOGY ✨NOMIN✨ ⚠️BXB ⚠️ jangan salpak ‼️
