Menikah diusia yang terbilang muda bukanlah salah satu tujuan hidup Jeno, dia masih ingin bersenang senang menikmati masa muda indahnya tapi tanpa dia duga, orangtuanya menyodorkan permintaan agar Jeno menikahi putri dari rekan bisnisnya tanpa punya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Terimakasih sudah voment di chapter sebelumnya Maaf buanyak typonya
HAPPY READING
.
.
.
Andai tidak ingat waktu pasti Jeno akan meneruskan pangutannya pada bibir istrinya sampai siang
Saat ia membuka mata pagi ini, hal pertama yang dia lihat ialah istrinya yang menatapnya sambil tersenyum tanpa pikir panjang lagi Jeno segera merengkuh tubuh Nana lalu memangutnya walaupun sampai hari ini Nana tidak pernah membalas apapun yang ia lakukan. Jeno senang karena istrinya tidak mendorongnya menjauh seperti dulu
"Kalau tidak ingat hari ini ada rapat direksi aku rela terlambat dan diomeli oleh pimpinanku" gerutu Jeno yang membuat Nana tertawa
"Oke, aku akan membawanya saat berangkat nanti. Hari ini sepertinya akan semakin dingin, pakailah pakaian yang lebih hangat"
"Hm"
Setelahnya Jeno bangkit dari tempat tidur kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum berangkat ke kantor
Keluar dari kamar mandi, ia melihat pakaian untuknya sudah tertata rapi di atas tempat tidur sedangkan sang istri sudah tidak ada di kamar lagi, dia segera bersiap memakai pakaian yang sudah disiapkan Nana
Setelah dirasa semua sudah rapi, Jeno keluar dari kamar menuju ruang makan untuk menemui istrinya, ia yakin sekali saat ini sang istri ada disana untuk menata menu sarapan untuknya. Hal sekecil itu bagi Jeno sudah seperti kemajuan yang besar bagi hubungan keduanya
Sesampainya dia diruang makan bukan istrinya yang ia temui melainkan dua orang pelayan yang sedang merapikan meja makan, menata menu sarapan pagi ini
"Dimana Nana?" Sebuah pertanyaan yang selalu sama saat ia tak mendapati istrinya
"Agassi sedang ada di dapur"
"Untuk apa dia disana!" Seketika Jeno segera menuju dapur, istrinya ini benar benar suka sekali membuat masalah
Di dapur dapat Jeno lihat sang istri sedang melakukan sesuatu sedangkan disampingnya beberapa pelayan termasuk Hwang ahjumma seperti sedang meyakinkan Nana untuk keluar dari dapur tapi seperti yang sudah sudah wanita itu selalu tidak menurut
Tanpa berkata apa apa Jeno segera menghampiri Nana kemudian meraih tangan istrinya dan menariknya pelan keluar dari dapur, percuma banyak bicara, istrinya pasti akan melakukan semaunya sendiri tidak pernah peduli dengan nasehat orang lain