Ex'Chap D

2.2K 195 33
                                        

Terimakasih sudah voment di chapter sebelumnyaMaaf kalau typonya banyak

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Terimakasih sudah voment di chapter sebelumnya
Maaf kalau typonya banyak

HAPPY READING

.

.

.

Goresan pensil itu pelan pelan tergores indah di atas sebuah kertas putih bersih, menggambarkan sebuah sketsa cantik gaun pengantin yang sesuai pemikiran si pemilik pensil

Si pemilik pensil tersenyum bahagia melihat hasil karyanya sendiri, dia puas pada akhirnya idenya bisa tergambar sangat indah sesuai dengan apa yang dia pikirkan meskipun baru dalam bentuk dua dimensi

Dia segera mengambil gunting, kain serta meteran miliknya untuk mulai menjadikan karya dua dimensinya menjadi sebuah wujud gaun pengantin yang begitu indah dan cantik

Satu persatu lembaran kain telah terpotong sesuai keinginannya, selanjutnya satu persatu kain itu di susun cantik pada sebuah manekin, menguncinya dengan jarum pentul agar tetap pada tatanannya

Disaat dia ingin mengambil jarum lagi untuk menata kain kainnya, kotak jarumnya menghilang dari tempatnya tadi, dia melongok di bawah meja mungkin saja terjatuh tapi tak ada jarum yang dia cari

Sedikit berdecak kesal dia berniat kembali pada manekinnya yang sudah sedikit tertata rapi, mungkin dia akan ambil satu jarum yang ada di sana, merubah tatanannya ulang agar bisa mengirit jumlah jarum yang dia butuhkan

Tapi apa yang terjadi saat dia menoleh kembali manekin itu sudah tidak ada di tempatnya begitu pula kain yang tadi masih ada di genggamannya, sedikit demi sedikit benda dalam ruangan itu lenyap tanpa bekas meninggalkan hanya dirinya diruang putih tanpa apapun

Kepalanya menoleh kesana kemari bingung dengan ruangan putih dan terang tempatnya berdiri saat ini begitu luas seolah tanpa batas dan hanya ada dirinya sendiri tanpa siapapun dan tanpa apapun, dimana semuanya?

Tiba tiba semua menjadi gelap hingga dia tak bisa melihat apapun lagi, begitu gelap hingga membuatnya merasa sesak. Semakin terasa sesak saat dia merasakan sebuah telapak tangan membekapnya lalu menyeretnya entah kemana

Sekuat tenaga dia mencoba melawan tapi sayangnya sekuat apapun dia mencoba dia tetap kalah, dia tak bisa berbuat apa apa lagi karena dadanya terasa semakin sesak membuatnya seperti tak bisa meraup udara yang dia butuhkan

"Nana.."

Suara itu, dia mengenal suara itu, dia ingin menjerit meminta pertolongan dari pemilik suara itu tapi suaranya seperti tercekat di tenggorokannya bersama udara yang tertahan disana karena bekapan kuat dari tangan yang tidak dia kenal

"Nana..."

"To-tolong.." rintihnya tertahan

"NANA!"

Why Me? (NoMinGS) ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang